Simpang Siur Kasus Litvinenko | Fokus | DW | 05.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Simpang Siur Kasus Litvinenko

Sejak hari Selasa (5/12) tim investigasi Inggris melakukan pengusutan di Moskow.

Litvinenko di rumah sakit sebelum meninggal

Litvinenko di rumah sakit sebelum meninggal

"Kepolisian akan menyusuri seluruh petunjuk pengusutan. Baik yang arahnya di dalam negeri, maupun yang mengarah ke luar Inggris". Begitu kata Menteri dalam negeri Inggris, John Reid mengenai keberangkatan tim investigasi Inggris ke Moskow, Selasa (5/12) ini. Tim beranggotakan dua orang itu dikirim untuk menyelidiki pembunuhan terhadap bekas agen dinas rahasia Rusia Alexander Litvinenko. Bekas agen yang menjadi pembangkang itu dibunuh melalui racun radioaktif Polonium 210 saat makan di sebuah restoran Jepang, di London bersama bekas agen Rusia lain, Andrei Lugovoi, dan seorang pakar keamanan Italia.

Jaksa Agung Russia Yury Chaika, berjanji untuk melakukan apapun juga untuk membantu kepolisian Inggris. Namun mereka hampir pasti tidak bisa menemui salah satu saksi kunci, yakni Andrei Lugovoi bekas agen Rusia lain, yang ikut makan bersama Litvinenko saat terjadinya peracunan. Alasannya, Lugovoi masuk rumah sakit untuk pemeriksaan kedua, setelah pada pemeriksaan pertama dinyatakan bebas radioaktif.

Yury Chaika menyebut, interogasi terhadap Lugovoi akan dilakukan oleh petugas Rusia. Dan jika nanti ditemukan adanya warga Rusia yang terlibat, mereka akan diadili di Rusia, dan tidak akan diekstradisi ke Inggris, lokasi pembunuhan terhadap Litvinenko. Yury Chaika juga menyatakan tidak akan memberikan akses terhadap Mikhail Trepashkin yang kini berada di penjara. Alasannya, Trepashkin yang disebut punya banyak informasi tentang plot pembunuhan politik Rusia, dipenjara dengan tuduhan membocorkan rahasia negara. Jadi tidak mungkin ia dibolehkan bertemu dengan orang asing.

Betapapun, pejabat Inggris mengaku memperoleh kerja sama yang bagus dari para petugas Rusia. Sesuatu yang diragukan oleh bekas agen KGB, Oleg Kalugin. Tokoh yang membelot ini malah yakin, pemerintah Rusia pada dasarnya akan menggelapkan penyelidikan kasus ini. Disebutkan Kalugin:

"Penyelidikan memang dijalankan. Para petugas Inggris sudah terbang ke Moskow. Mereka mestinya akan dibantu oleh para petugas Rusia. Namun sejujurnya, saya tidak mempercayainya. Presiden Vladimir Putin dan para pembantunya memang tampak seakan selalu bersedia bekerja sama, tapi kenyataan di lapangan mereka akan selalu berusaha mengacau-balaukan seluruh upaya yang dilakukan untuk memecahkan kasus ini."

Para pejabat pemerintah Rusia keruan membantah tuduhan-tuduhan seperti itu. Sebagaimana disebutkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov:

"Saya sudah berbicara dengan menteri luar negeri Inggris Margaret Beckett. Ia menyatakan kesepahamannya, bahwa kasus Litvinenko ini jangan sampai dipolitisasi. Kematian seorang manusia pasti selalu merupakan suatu tragedi. Tetapi kasus ini sepatutnya tidak dijadikan bahan spekulasi."

Namun bagi orang seperti Oleg Kalugin, ini bukan mempolitisasi, melainkan pembunuhan politik tingkat tinggi. Ia yakin seratus persen para pejabat Kremlin, bahkan P.residen Valdimir Putin sendiri, terlibat langsung dalam pembunuhan ini. Tanpa tedeng aling-aling, Kalugin mengatakan:

"Saya sama sekali tidak ragu. Sejak Putin menjabat sebagai Kepala Dinas Rahasia Rusia, dan kemudian menjadi presiden, terjadi berbagai pembunuhan politik: sejumlah anggota parlemen, juga jurnalis ditembak atau diracun. Termasuk Anna Politkovskaya, seorang wartawati yang gigih mendukung gerakan pembebasan chechnya.

Litvinenko juga berada dalam barisan yang sama. Ia sangat vokal dalam menyuarakan dukungan terhadap gerakan penentuan nasib sendiri Chechnya. Dia secara teratur mengirim tulisan ke situs web Chechnya, yang sisinya sangat kritis terhadap kebijakan mutakhir Moskow, juga kecaman langsung terhadap Putin. Itulah yang membuatnya jadi sasaran. Dan nyatanya dinas rahasia Rusia tercatat memiliki riwayat hitam dalam melenyapkan manusia secara fisik. Jadi, Litvinenko hanyalah kasus paling baru dalam kisah mereka."

Pembunuhan-pembunuhan politik terhadap para pembangkang dan kalangan kritis Rusia belakangan makin menjadi-jadi. Tudingan langsung tertuju kepada pemerintah. Juga kepada presiden Putin sendiri. Malah dalam surat yang ditulis menjelang kematiannya, Litvinenko menuduh bahwa ia diracun atas perintah Putin.