Sikap UE Terhadap Situasi di Timur Tengah | Fokus | DW | 18.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Sikap UE Terhadap Situasi di Timur Tengah

Para Menteri Luar Negeri Uni Eropa berusaha mencapai kesepakatan dalam rancangan naskah bersama berdasarkan ‘penjelasan Timur Tengah’ yang dikeluarkan G8 hari Minggu lalu.

default

Pada akhirnya keluar suatu penjelasan, yang bagi para non diplomat terkesan tidak meyakinkan. Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier bahkan secara jujur mengatakan, bahwa ia tidak percaya penjelasan tersebut dapat mengakhiri konflik yang ada.

Perbedaan pendapat, seperti biasa, berada dibalik keputusan bersama tersebut. Sementara Finlandia sebagai ketua dewan cenderung mengecam Israel, pada akhirnya Berlin dan London berhasil memaksakan suara mereka pada penjelasan yang mereka katakan sebagai penjelasan yang adil. Israel diperingatkan karena tidak menghargai hak-hak asasi manusia, tetapi para menteri tersebut juga menekankan hak mereka untuk membela diri.

Steinmeier mengatakan, tiga minggu sebelumnya sebenarnya masih ada harapan akan suatu perbaikan antara hubungan Israel dan Palestina.

Frank-Walter Steinmeier: “Harapan ini sepertinya sengaja dihancurkan.”

Hancur melalui serangan roket Hamas di Jalur Gaza dan Hisbollah dari Libanon. Ini adalah awal gelombang kekerasan, dan waktunya secara sengaja dipilih untuk mengganggu usaha pendekatan yang tengah berlangsung.

Kini pihak Eropa sepenuhnya mengandalkan langkah internasional. Yaitu melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hari Selasa, Kofi Annan akan hadir di Brussel untuk menyampaikan usulannya mengenai pasukan internasional, yang di Libanon Selatan menjadi sejenis penengah antara Israel dan milisi Hisbollah. Karena tujuan selanjutnya adalah gencatan senjata. Namun, persyaratannya harus dipenuhi terlebih dahulu, demikian pernyataan Ketua Urusan Politik Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana.

Javier Solana: “Kami akan melakukan semuanya, walau pun saat ini kemungkinan Israel dan Hisbollah untuk gencatan senjata masih sangat tipis. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah peranan pemerintahan Libanon dalam masalah ini.”

Namun, tentang betapa putus asanya pemerintahan Siniora akan masa depan politiknya saat ini di Beirut, hanya diberitakan Solana di balik pintu tertutup. Perjalanan diplomatik Solana akan berlanjut. Hari Rabu ia dinantikan di Tel Aviv.

Di waktu yang bersamaan warga Eropa meninggalkan Libanon secara massal. Sebuah pertanda, bahwa tidak ada yang percaya bahwa akan terjadi penyelesaian dalam waktu dekat ini. Perancis mengkoordinir eksodus dengan menggunakan bus melewati Suriah dan kapal feri dengan jurusan Siprus. Warga Jerman yang masih berada di Libanon juga dijamin keselamatannya oleh Menteri Luar Negeri Jerman Steinmeier.

Frank-Walter Steinmeier: "Pemerintahan Jerman dan saya pribadi akan melakukan semuanya untuk membantu warga Jerman di Libanon dan juga mengenai kemungkinan untuk keluar dari negara tersebut.”

Siapa yang ingin keluar, harus memperoleh kesempatan tersebut. Israel akan diinformasikan mengenai keberangkatan kelompok tersebut. Namun, untuk tambahan pengamanan, bus yang hari ini bermuatan warga Jerman, dilapisi dengan bendera Jerman berukuran besar.