Sidang Tahunan WHO | Sosial | DW | 22.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Sidang Tahunan WHO

Setahun sekali, 192 negara anggota organisasi kesehatan dunia, WHO, menggelar sidang tahunan di Jenewa untuk membicarakan kelanjutan kerja organisasi.

default

Berdasarkan berita-berita di media massa, tema utama pertemuan ini diperkirakan mengenai flu burung dan ancaman pandemi. Tetapi WHO memiliki kekhawatiran yang lain. Ini tertera dalam laporan kesehatan terakhir mereka: petugas kesehatan di negara-negara miskin semakin berkurang. Padahal negara-negara tersebutlah yang paling terbebani dengan masalah penyakit dan epidemi. Di Afrika Selatan saja, lebih dari 6.000 orang meninggal setiap harinya karena AIDS. Berikut keterangan Timothy Evans, wakil Dirjen WHO:

"Tahun 2006 ini, 60 juta orang di seluruh dunia bekerja untuk bidang kesehatan. Tetapi pembagiannya sangat tidak proporsional. Di Afrika, 2,3 tenaga ahli menangani 1.000 orang, sementara di Amerika, sepuluh kali lipatnya. 24 menangani 1.000.“

Akses pengobatan AIDS, malaria atau tuberkolosa akan menjadi tema yang penting dalam sidang kali ini. Tentu saja WHO sudah memiliki programnya. Dalam pertemuan, program tersebut akan dikaji dan dikembangkan lagi. Namun, masih ada perbedaan pendapat. Beberapa negara berkembang meminta agak penelitian lebih difokuskan terhadap penyakit yang timbul di negara-negara miskin. Tuntutan ini didukung oleh organisasi "Dokter Tanpa Perbatasan“, yang menuduh industri farmasi hanya berkonsentrasi pada pasaran yang menghasilkan keuntungan besar bagi mereka. Namun, negara-negara yang dalam industri farmasi memegang peranan penting, seperti Amerika Serikat dan Jerman, menolak tuduhan tersebut.

Tentu saja tema flu burung akan memainkan peranan di Jenewa. Terutama mengenai prosedur kerja baru WHO mengenai cara memerangi epidemi. Prosedur kerja ini mewajibkan negara anggota WHO bekerja sama lebih erat dengan WHO, dengan melaporkan setiap kasus yang terjadi yang mungkin berbahaya, dan dalam kasus epidemi melakukan semua hal yang perlu untuk menghindari penyebaran lebih luas. Prosedur kerja baru ini akan dimulai tahun 2007. Namun, menurut Dennis Aitken, penasihat almarhum Dirjen WHO Lee, sebagian besar negara anggota sudah dapat memulainya dari sekarang:

"Kita tidak memperkirakan akan terjadi perdebatan yang rumit. Penyakit SARS telah membuat kita semua sadar, bahwa penyakit harus kita perangi secara universal, karena kita semua bisa terkena.“

Jika 192 negara berkumpul menjadi satu, masalah politik tentu tidak luput dari pembicaraan. Taiwan ingin diterima sebagai pengamat di WHO, tetapi Cina menolaknya. Menurut Cina, Taiwan hanyalah sebuah porpinsi, bukan negara yang berdiri sendiri. Perdebatan ini sepertinya juga akan menjadi topik hangat dalam pertemuan tahun ini. Karena sebagian besar negara anggota berada di belakang Cina, maka Taiwan harus tetap berada di luar.