Sidang Dewan HAM PBB Berakhir | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 01.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Sidang Dewan HAM PBB Berakhir

Sidang Dewan Hak Asasi Manusia PBB telah berakhir hari Jumat (30/06). Dewan ini menggantikan komisi HAM PBB sebelumnya.

Sidang Dewan HAM PBB di Jenewa

Sidang Dewan HAM PBB di Jenewa

Dengan harapan dan ucapan besar konferensi pertama dewan hak asasi manusia yang baru dibuka di Jenewa: Yang disebut-sebut sebagai momentum bersejarah, sebuah babak baru. Theodor Rathgeber dari Forum HAM Jerman yang mengikuti konferensi selama dua minggu itu berpendapat:

„Waktu baru datang, saya merasa optimis bahwa dewan baru ini akan lebih kuat dari komisi sebelumnya. Tapi setelah dua minggu setidaknya saya belajar melihat resikonya.“

Sementara seorang diplomat Barat mengatakan polesannya yang indah sudah tanggal, dan sekarang wajah asli dewan sudah kelihatan.

Memang tampak upaya negara-negara untuk bekerja sama dan tidak segera jatuh dalam jurang perbedaan yang melumpuhkan komisi terdahulu. Perwujudannya adalah kedua konvensi yang disahkan oleh dewan. Yaitu memerangi penghilangan secara paksa dan hak bagi penduduk asli.

Namun dewan tersebut memiliki tugas yang luas. Ia harus memutuskan sendiri instrumen dan metode apa yang digunakan, agar dapat mengevaluasi atau membentuk institusi dan mandat, seperti misalnya komisi khusus independen atau juga evaluasi umum semua anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Cara untuk membentuk instrumen ini yang akan menentukan kekuatan atau kelemahan dewan. Dan di sinilah awal resikonya

Rathgeber: „Negara-negara seperti Cina, Kuba, Rusia, mereka sudah mencoba segala cara untuk mengurangi mandat prosedur khusus. Dan cara mereka mengurangi mandat, disesuaikan dengan kebutuhan mereka.“

Hal yang sama juga tampak dalam evaluasi umum semua negara. Banyak yang menginginkan sebagai dasar evaluasi, dewan cukup menerima laporan pemerintah masing-masing tanpa memperhatikan suara-suara independen. Dewan memiliki waktu satu tahun untuk membentuk instrumen tersebut.

Yang juga kembali terasa adalah politisasi dewan. Terutama dalam tema-tema yang sudah membuat komisi sebelumnya terpecah, seperti masalah Timur Tengah. Perkembangan terakhir di kawasan tersebut juga masih membekas di dewan, meskipun anggota-anggotanya sudah sepakat dalam memilih masalah tertentu tidak akan bertindak selektif, seperti yang dilakukan komisi terdahulu, melainkan bersama-sama mengemukakan masalah yang mendesak, seperti Palestina, Darfur dan kurangnya toleransi beragama.

Organisasi Hak Asasi Manusia boleh mengikuti perkembangan dengan lebih kritis ketimbang sebelumnya. Dan negara-negara yang menginginkan dewan yang lebih kuat sebaiknya mencari koalisi, karena mereka termasuk kelompok minoritas dalam dewan. Situasinya tidak menjadi lebih mudah, demikian dikatakan seorang diplomat barat.

Iklan