1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Pembangkit batu bara di Jerman
Pembangkit batu bara di JermanFoto: Florian Gaertner/photothek/picture alliance

Siasati Embargo Gas Rusia, Eropa Kembali Lirik Batu Bara

21 Juni 2022

Menyusul embargo gas Rusia dan lonjakan harga bahan bakar, sejumlah negara Uni Eropa melirik batu bara sebagai sumber energi alternatif. Meski demikian, kembalinya batu bara diklaim tidak mencederai komitmen iklim Eropa.

https://www.dw.com/id/siasati-embargo-gas-rusia-eropa-kembali-lirik-batu-bara/a-62192540

Konsumen gas terbesar Rusia di Eropa berlomba-lomba mencari sumber energi alternatif untuk menyiasati kelangkaan bahan bakar. Tanpa alternatif yang memadai, cadangan energi di sejumlah negara akan pupus sebelum memasuki musim dingin mendatang.

Krisis bahan bakar dan lonjakan harga bahan pokok menambah parah situasi di Eropa yang menghadapi inflasi dan macetnya pertumbuhan.

Pada Senin (20/6), perusahaan minyak Italia, Eni, mengaku telah mendapat kabar dari Gazprom perihal keterbatasan pasokan dan hanya akan mendapat separuh dari jumlah gas yang diminta, Adapun Jerman mengumumkan bakal kembali menghidupkan kembali pembangkit batu bara sebagai langkah mitigasi.

Sumber energi di Jerman
Sumber energi di Jerman

"Kebijakan ini memang menyakitkan," kata Menteri Perekonomian jerman, Robert Habeck. "Tapi hal ini multak diperlukan untuk mengurangi konsumsi gas," imbuhnya. Padahal, Partai Hijau yang berkuasa di Jerman telah berjanji secepat mungkin berhenti menggunakan batu bara.

"Jika kita tidak melakukannya, risikonya fasilitas cadangan bahan bakar kita tidak akan penuh hingga akhir tahun jelang musim dingin. Dan kita akan dikambinghitamkan di level politik," tutur Habeck yang juga ketua Partai Hijau.

Senin, pemerintah di Moskow kembali menyalahkan Eropa atas munculnya krisis gas, menyusul embargo terhadap Rusia akibat invasi di Ukraina. Rusia bukan cuma produsen energi terbesar di Eropa, tetapi juga eksportir bahan pangan utama.

Saat ini, kapasitas pipa Nord Stream 1, yang digunakan Rusia untuk mengirimkan gas ke Jerman, dibatasi sebesar 40 persen. Moskow berdalih, pihaknya tidak bisa mengirimkan lebih banyak gas karena penutupan jaringan pipa oleh Ukraina.

Batu bara kembali jadi primadona

Jerman dan Italia mengabarkan, cadangan gas yang ada tercatat sebanyak 54 persen, jauh di bawah batas minimal cadangan gas yang digariskan Uni Eropa sebesar 80 persen pada Oktober dan 90 persen pada November.

Menteri Ekonomi Jerman, Habeck, mengaku revitalisasi pembangkit batu bara akan menambah jumlah energi sebesar 10 gigawatt, dan hanya digunakan jika diperlukan. Pemerintah di Berlin juga mengimbau Industri untuk berhemat gas, serta menyuntikkan dana kredit kepada semua operator gas untuk membeli cadangan gas tambahan.

Langkah serupa juga sedang dikerjakan Austria. Perusahaan gas Verbund mengatakan bakal mengubah pembangkit listrik bertenaga gas agar bisa dioperasikan dengan batu bara. Hal ini diperlukan sebagai langkah persiapan jika terjadi kelangkaan energi.

Jerman dan Italia termasuk negara Uni Eropa yang paling banyak membeli gas Rusia. Kedua negara menuduh Moskow menjadikan pasokan gas sebagai sandera politik. Akibatnya pemerintah Italia mengatakan akan mengumumkan darurat bahan bakar pekan ini jika Rusia terus menahan suplai.

Kebijakan itu akan memaksa lembaga pemerintahan untuk mengurangi konsumsi energi, termasuk menjatah pasokan gas untuk keperluan industri, serta memadamkan pembangkit listrik.

Namun meski mengembalikan batu bara, pemerintah Jerman dan Uni Eropa mengaku tidak sedang mengendurkan komitmen iklimnya. "Penghentian penggunaan batu bara pada 2030 tidak goyah sama sekali," tutur juru bicara Kementerian Perdagangan Jerman, Stephan Gabriel Haufe. "Bahkan menjadi lebih penting bahwa konsumsi batu bara berakhir pada 2030."

rzn/pkp (rtr,dpa)