″Siapa yang merasa keislamannya paling sempurna, dia sudah radikal″ | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 19.10.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

"Siapa yang merasa keislamannya paling sempurna, dia sudah radikal"

Radikalisme yang marak di kalangan kaum muda muslim di Jerman menjadi perhatian pemerintah dan komunitas Islam. Kepada DW, konsultan pencegahaan radikalisme Pinar Cetin memaparkan gejala radikalisasi pada kaum muda.

Sejak beberapa tahun terakhir pemerintah Jerman mulai memahami pentingnya tindak pencegahan dan deradikalisasi untuk menghalau ideologi terorisme. Terutama kaum muda muslim berlatarbelakang migran banyak menjadi korban radikalisasi dan jatuh ke pangkuan organisasi teror seperti Islamic State. 

Konflik identitas dan kegagalan berintegrasi yang dialami kaum muda kerap membuka pintu bagi radikalisme. Konsultan pencegahan radikalisme di Berlin, Jerman, Pinar Cetin, mengungkap alasan kaum muda Jerman pergi berjihad ke Suriah kerap bukan agama, melainkan masalah sosial dan keluarga. Simak wawancaranya DW dengan Pinar Cetin tentang program pencegahan radikalisme dan potensi teror di kalangan kaum muda muslim Jerman.

DW: Program pencegahan radikalisme dan deradikalisasi ex-teroris baru bergulir sejak beberapa tahun terakhir. Apakah Jerman terlalu lambat bereaksi?

Minarette und Moscheen in Deutschland und Europa, Tag der offenen Moschee Berlin Flash-Galerie (AP)

Pinar Cetin (tengah), konsultan pencegahan radikalisme di proyek Bahira, Jerman.

Pinar Cetin: Untungnya dalam hal pencegahan radikalisme kami tidak telat karena tidak ada serangan teror ketika kami memulai kerja. Jadi dalam hal ini kami lebih dini. Tapi kalau sifatnya pencegahan tindak terorisme memang mungkin agak telat, terutama yang berkaitan dengan penyuluhan anak muda. 

Bagaimana Anda mengenali gejala radikalisasi pada remaja secara dini?

Pada dasarnya bisa dilihat dari argumentasinya dan cara mereka menerima sebuah ajaran agama. Jadi jika mereka menerima tanpa bertanya atau melihatnya secara kritis, maka itu sudah berjalan ke arah yang tidak baik. Hal semacam itu tentunya belum bisa dikategorikan sebagai radikal, tapi sikap seperti itu juga tidak lazim pada anak muda yang biasanya cenderung memberontak dan gemar bertanya balik. Terutama dalam pendidikan agama, karena Islam justru mengajarkan kepada kita untuk selalu berpikir (kritis).

Kenapa kita harus menggandakan peran agama buat menghadang gelombang radikalisme?

Kita sebenarnya tidak membutuhkan lebih banyak ajaran agama, tetapi ajaran yang memperkaya manusia dan membantu mewujudkan kebahagiaan, serta membuka pikiran penganutnya. Jadi kita tidak butuh lebih banyak ajaran agama, melainkan ajaran yang benar. Kita tidak bisa begitu saja memutus pertalian agama dari pemuda yang teradikalisasi dan berpandangan mereka berada di jalan yang benar. Kita hanya bisa menggunakan agama untuk mengembalikan kepercayaan mereka. Jadi ketika mereka berargumentasi dengan ayat-ayat Al-Quran, kita harus bertanya apa konteksnya dan apa reaksi Nabi Muhammad tentang ayat tersebut. Untuk itu kita harus memiliki pemahaman agama.

Apakah konflik identitas yang dialami generasi muda muslim migran di Jerman ikut membuka jalan bagi radikalisasi?

Tentu saja. Kaum muda tidak teradikalisasi ketika mereka menerima pendidikan agama yang baik di rumah, melainkan sebaliknya karena mereka sedang mencari identitas, karena mereka merasa kehilangan, seperti dukungan keluarga, rasa aman, ritual keagamaan dan banyak hal lagi. Jika semua itu tidak ada, maka tercipta potensi radikalisme. Kebanyakan keluarga (kaum muda radikal) sama sekali tidak reilijus dan tidak mengenyam pendidikan agama. Ada juga yang berpindah agama (Muallaf) yang sebelumnya hidup bebas dan tidak memiliki pemahaman apapun tentang agama. Terkadang anak muda tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan kebebasan yang mereka miliki. 

Bagaimana Anda ingin melindungi kaum muda muslim dari pengaruh ideologi radikal?

Dengan memberikan pilihan kepada mereka. Karena memang tidak ada kebenaran hakiki yang bisa diyakini secara tekstual. Kita mengenal kehidupan Rasul dan Sahabatnya. Kita juga memahami Islam memiliki sejarah yang telah berusia 1500 tahun, di mana terjadi banyak hal yang berbeda-beda. Kita harus menegaskan (kepada pemuda muslim) bahwa kebenaran hadir di sepanjang spektrum keislaman dan tidak muncul dalam satu titik saja. Ada banyak jalan menuju Tuhan. Jika orang ingin mendapatkan pahala, bentuknya tidak harus berperang, melainkan bisa membantu sesama dengan melakukan pekerjaan sosial. Mereka harus dihadapkan pada alternatif (terhadap fundamentalisme) untuk menata keislamannya.

Dan seringkali kaum muda yang teradikalisasi belum pernah merasakan kesuksesan dalam hidup. Biasanya mereka memiliki prestasi buruk di sekolah, tidak diterima kerja atau gagal mendapat pendidikan kejuruan. Dalam hal ini kami bahkan tidak butuh agama, melainkan mengadopsi pendekatan aktivis jalanan yang berusaha menciptakan rasa bangga atas prestasi sendiri dengan misalnya membantu mereka mendapat pendidikan. Sebab itu kami tidak bekerja sendirian, melainkan dalam jejaring bersama aktivis jalanan, lembaga pendidikan, perusahaan dan pusat ketenagakerjaan. 

Sebenarnya pada level apa seorang anak muda bisa digolongkan radikal?

Ketika mereka mulai membenarkan tindak kekerasan dalam video penyiksaan yang mereka lihat di internet. Pada tahap itu kita sudah menghadapi radikalisasi. Tapi awalnya adalah klaim atas kebenaran hakiki, bahwa hanya saya dan kelompok saya yang mengetahui kebenaran dan yang lain berada di jalan yang salah. Juga ketika seseorang membenarkan tindak terorisme atau menentang prinsip kebebasan dan konstitusi, mereka sudah bisa digolongkan teradikalisasi.

Prinsip ekslusivitas sudah mendarah daging dalam agama, karena masing-masing mengklaim kebenaran yang paling hakiki, termasuk yang paling menonjol adalah kelompok konservatif Islam seperti Salafisme. Apakah anda sedang bekerja melawan ideologi tertentu dalam Islam? 

Tidak. Namun di Jerman kaum radikal banyak berpangkal pada Salafisme. Tentunya tidak semua salafis lantas menjadi radikal, karena kebanyakan hanya ingin menerapkan ajaran yang ketat terhadap dirinya sendiri, tanpa ambisi politik atau membenarkan kekerasan. Dalam pemahaman keagamaan mereka mungkin radikal, tapi keyakinan mereka tidak mengusik orang lain, kehidupan antara golongan atau sistem negara. Tapi ketika orang tersebut mulai memaksakan ideologinya pada orang lain, maka itu sudah berbahaya.

* * *

Wawancara dilakukan oleh Rizki Nugraha.

Pinar Cetin adalah konsultan pencegahan radikalisme dalam proyek Bahira yang didanai pemerintah Jerman. Ia juga aktif di masjid Sehitlik milik organisasi Islam bentukan Kementerian Agama Turki, DITIB. Pinar yang pernah mencalonkan diri sebagai anggota parlemen dari Berlin kini aktif mengayomi kaum muda muslim di Berlin agar terjauh dari radikalisasi.


 

Laporan Pilihan