Shinzo Abe Dipilh Sebagai Perdana Menteri Jepang | Fokus | DW | 26.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Shinzo Abe Dipilh Sebagai Perdana Menteri Jepang

Shinzo Abe, dipilih dengan suara mayoritas sebagai Perdana Menteri jepang baru menggantikan Junichiro Koizumi

Shinzo Abe setelah dipilih

Shinzo Abe setelah dipilih

Shinzo Abe terpilih sebagai perdana menteri baru, menggantikan mentor politiknya Junichiro Koizumi. Abe meraih suara terbanyak dalam pemilihan. Dengan usia 52 tahun, ia adalah perdana menteri Jepang yang termuda dan lahir setelah Perang Dunia ke-2. Shinzo Abe mengatakan, akan memperkuat peran Jepang di panggung politik dan militer.

Tidak lama setelah terpilih sebagai perdana menteri, Shinzo Abe, yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Partai Liberal Demokrat (LDP), membentuk kabinet baru. Taro Aso, saingan terdekat Abe dalam pemilihan, tetap memegang jabatannya sebagai menteri luar negeri. Sementara orang terpercaya Abe, Yasushi Shiozaki, menjadi Sekretaris Kabinet, kedudukan Abe di bawah pemerintahan Koizumi.

Shinzo Abe berjanji untuk mengadakan reformasi termasuk revisi Undang-Undang Dasar Jepang, yang melarang keterlibatan negara itu dalam perang. Dengan merubah undang-undang tersebut Jepang akan memiliki hak kolektif untuk mempertahankan diri, dan akan memiliki hak untuk mempersenjatai militernya.

Dengan dilatarbelakangi sejarah hitam di Perang Dunia II, Jepang sejak itu tidak memiliki Kementerian Pertahanan. Rencana Abe untuk merubah konstitusi pasifis serta merubah Badan Pertahanan menjadi Kementerian Pertahanan masih dipertentangkan di Jepang. Abe menunjuk Fumio Kyuma sebagai menteri pertahanan.

Sedangkan Koji Omi yang sebelumnya bertanggung-jawab untuk rencana pembangunan, diangkat menjadi menteri keuangan. Shinzo Abe sepertinya akan mengikuti jejak langkah Koizumi dalam mereformasi ekonomi pasar Jepang. Namun, tuntutan rakyat agar pemerintah lebih berupaya mengurangi jurang antara miskin dan kaya semakin besar.

Shinzo Abe juga mengatakan akan membina hubungan yang kuat dengan Amerika Serikat, untuk mendapat dukungan Washington jika Jepang diserang. Disamping itu, Abe akan memperbaiki hubungan bilateral terutama dengan negara tetangga Cina dan Korea.

Hubungan Jepang dengan kedua negara tetangga tersebut terganggu disebabkan adanya penyimpangan sejarah dalam buku pelajaran dan terutama karena Junichiro Koizumi selama menjabat sebagai perdana menteri berserikeras untuk tetap mengadakan kunjungan tahunan ke pemakaman suci Yasukuni, memberikan penghormatan kepada penjahat perang Jepang, walaupun mendapat protes keras dari pihak Cina, Korea dan negara-negara Asia lainnya.

Jepang harus dapat mengambil langkah-langkah yang bijaksana untuk memperbaiki citranya serta berusaha untuk menjaga perdamaian, khususnya di Asia Timurlaut. Shinzo Abe mengangkat Taro Aso sebagai menteri luar negeri, terutama karena upayanya mendekatkan kembali Jepang dengan Cina. Menteri Luar Negeri Aso mengutarakan:

Aso “Hubungan Jepang dengan Cina di bidang ekonomi dan budaya di tingkat menteri luar negeri cukup baik. Kini untuk perdana menteri baru Jepang akan merealisasikan pertemuan tingkat tinggi dengan Cina.”