Sesudah Langkah Bersejarah Sinn Fein | dunia | DW | 31.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Sesudah Langkah Bersejarah Sinn Fein

Perintang utama perdamaian Irlandia Utara disingkirkan. Dunia menanti pemerintah gabungan Katolik-Protestan hasil Pemilu.

Suasana Pemungutan Suara Sinn Fein

Suasana Pemungutan Suara Sinn Fein

Mereka berharap kita akan ramai-ramai menjawab "Tidak". Jadi mari kita lontarkan sesuatu yang mereka paling takutkan. Suatu pekikan dari kaum Republikan Irlandia yang berbunyi "Ya!".

Begitulah kata Martin McGuinness, ketua juru runding Sinn Fein, kepada pendukungnya. Pernyataan penuh antusias itu disampaikan sesudah pemungutan suara Sinn Fein menghasilkan pengakuan sayap politik kaum Katolik itu terhadap kewenangan Kepolisian Irlandia Utara PSNI, hari Minggu (28/01).

Ini merupakan perubahan drastis sikap politik Senn Fein, sayap politik Tentara Republik Irlandia IRA yang selama ini menolak Kepolisian Irlandia Utara karena dianggap kepanjangan kekuasaan Inggris yang lebih memihak kaum Protestan. Presiden Sinn Fein, Gerry Adams, kepada para politikus Sinn Fein:

"Keputusan yang kita ambil ini sungguh sangat bersejarah. Tetapi makna sesunggunhnya terletak pada bagaimana kita akan menggunakan keputusan ini untuk melangkah maju dalam perjuangan kita. Anda telah menciptakan potensi perubahan dalam peta politik di pulau ini untuk selamanya. Anda telah menciptakan kesempatan untuk secara berarti melangkah maju dalam perjuangan kita."

Dengan keputusan itu, Sinn Fein membuka prospek percepatan penyelesaian damai Irlandia. Selasa (30/01) kemarin, Perdana Menteri Inggris Tony Blair langsung langsung bertemu mitranya, Perdana Menteri Irlandia Bertie Ahren, membahas masalah ini, dan menerima laporan sebuah komite independen yang menyebutkan bahwa Tentara Republik Irlandia benar-benar telah menghentikan seluruh aksi senjata dan kekerasan. Dijadwalkan, seluruh perkembangan itu akan diumumkan kedua pemimpin, hari Rabu (31/01) ini.

Pemerintah Inggris juga segera membubarkan Majelis Peralihan Irlandia Utara secara resmi. Ini akan disusul dengan Pemilihan Umum tanggal 7 Maret mendatang untuk membentuk parlemen baru serta pemerintahan gabungan Katolik dan Protestan. Dua kubu politik yang saling berbunuhan di masa lalu, akan turut dalam Pemilu itu, yakni Partai Demokratik Unionis Protestan dan seterunya dari kelompok Katolik, Sinn Fein.

Majelis Peralihan Irlandia Utara terbentuk menyusul Kesepakatan damai tahun 1998. Namun tak berfungsi karena kaum Katolik yang pro penyatuan dengan Irlandia dan Protestan yang pro Inggris terus bersengketa. Salah satu faktor utama adalah tuntutan kaum Protestan agar kaum Katolik tunduk pada tertib hukum dengan mengakui kewenangan kepolisian. Sementara Kaum Katolik menolak karena menganggap kepolisian hanya memihak kaum Protestan. Kini perintang utama perdamaian Irlandia telah diruntuhkan. Kaum Katolik telah melakukan lompatan besar dengan bersetuju pada kewenangan kepolisian Irlandia Utara.

Masyarakat internasional menyambutnya sebagai kesempatan emas bagi semua pihak untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng di Irlandia.

Namun Partai Unionis Demokratik Protestan masih berhati-hati. Disebutkan pemimpinnya, Ian Pasley, mereka menyambut perkembangan baru ini, namun masih akan menunggu apakah keputusan Sinn Fein itu dijalankan di lapangan. Sebaliknya, kaum Katolik menganggap, bola perdamaian kini berada di tangan kaum Protestan.

Kembali Presiden Sinn Fein, Gerry Adams:

"Saat pembicaraan damai tahun 1998, Ian Paisley mengatakan berharap akan terbitnya masa depan yang lebih baik bagi anak-cucu kita. Dan sebetulnya hal itu merupakan seruan untuk Sin Fein. Dan kita memenuhinya demi kebaikan bersama. Sesuatu yang lebih besar dari kita semua. Maka Ian Paisley juga harus menunjukan sesuatu yang diarahkan demi kebaikan bersama.
Iklan