Seri Menuju Pemerintahan Aceh yang Baru: “Mengulik Kisah Sang Gubernur dan Wakil Gubernur Baru” | dunia | DW | 08.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Seri Menuju Pemerintahan Aceh yang Baru: “Mengulik Kisah Sang Gubernur dan Wakil Gubernur Baru”

"Kami memilih Irwandi Jusuf dan Muhammad Nazar.“ Inilah suara rakyat Aceh, yang tercermin dari hasil Pemilihan langsung kepala daerah di Nanggroe Aceh Darusallam.

Tepat di hari ke delapan bulan Februari ini, keduanya resmi memangku jabatan sebagai gubernur dan wakil gubernur. Hasil Pilkada yang dimenangkan calon independen itu menjadi pertanda bahwa rakyat Aceh lelah dengan partai-partai politik. Dan kini membutuhkan pemimpin yang telah berkeringat untuk rakyat Aceh. Siapakah pasangan orang nomor satu dan dua di Aceh itu dan bagaimana kiprah mereka?

Di depan rakyat Aceh, Irwandi Jusuf, Gubernur Nangroe Aceh terpilih, mengatakan: "Apabila rakyat Aceh memberi kepercayaan kepada kami, dan apabila Allah SWT menghendaki kami memimpin Aceh, berbekal semangat dan pengalaman yang getir kami hadapi. Kami akan implementasikan visi dan misi kami.“

Membangun pemerintahan Aceh yang bersih, akan menjadi targetnya yang utama. Serta tentu saja membangun kembali Tanah Rencong, yang porak poranda oleh lilitan konflik bersenjata puluhan tahun dan hancur lebur oleh bencana besar tsunami. Bersama Muhammad Nazar, sang wakil gubernur terpilih, tugas berat itu kini berada di pundak mereka.

Irwandi Jusuf dan Muhammad Nazar, kedua pejabat terpilih, selama ini dikenal sebagai aktivis perjuangan Aceh. Irwandi aktif di Gerakan Aceh Merdeka GAM, sedangkan Muhamamad Nazar di Sentral Informasi Referendum Aceh SIRA.

Di Gerakan Aceh Merdeka, Irwandi merupakan juru bicara organisasi. Setelah penandatanganan perjanjian damai GAM dan Pemerintah Indonesia di Helsinki, Finlandia, ia duduk sebagai perwakilan GAM di Aceh Monitoring Mission AMM. Sebagai aktivis GAM, lelaki berusia 47 tahun ini pernah mendekam di balik jeruji penjara. Tahun 2003, ia ditahan di Penjara Kedah, Banda Aceh, atas tuduhan mengkampanyekan pemisahan Aceh dari Indonesia. Ia dijatuhi hukuman penjara 9 tahun. Namun bencana tsunami 2004 di Aceh menghancurkan penjara tempatnya ditahan dan meloloskannya dari bui.

Tokoh GAM Tengku Syamsuddin Ishak, kawannya, menggambarkan hidup Irwandi Jusuf yang begitu cepat berubah-ubah: “Tiba-tiba menjadi pejuang GAM, terus ditangkap, tiba-tiba ada tsunami lalu lolos dari penjara, tiba-tiba jadi gubernur, segalanya penuh tiba-tiba.”

Sebelum dipenjara, nama Irwandi agak tersembunyi dari sorotan. Kembali Syamsuddin: “Dia memakai nama lain kalau di GAM, jadi tidak banyak yang kenal sosoknya sebenarnya.”

Bagaimana sosok Irwandi Jusuf di mata istri? Darwati Ghani bercerita, Irwandi merupakan sosok yang sangat perfeksionis.

”Hobinya internet, bekerja terus di komputer, apa-apa harus sempurna.”

Dilihat dari latar belakangnya, Irwandi sebetulnya jauh dari politik. Lelaki kelahiran Bireun, 2 Agustus 1960 ini, merupakan seorang dokter hewan yang menyelesaikan pendidikan tingkat masternya di Oregon State University Amerika. Ayah lima anak ini juga merupakan perintis berdirinya Lembaga Swadaya Masyarakat LSM lingkungan hidup di Aceh: Flora dan Fauna Internasional 1999-2001. Ia juga dosen di fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala Aceh. Namun penderitaan rakyat Aceh memanggilnya, dan menjadikannya pejuang. Kendati tidak memanggul senjata, ia merupakan pejuang GAM di lapangan politik.

Sementara itu Sang Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, dikenal sebagai pejuang Aceh yang gigih, namun tidak bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka GAM. Ia pendiri dan Ketua Sentral Informasi Referendum Aceh atau SIRA. Organisasi ini mendapat momentum ketika Timor Timur berhasil mendapatkan persetujuan pemerintah Indonesia untuk melakukan jajak pendapat. Referendum pun menjadi tuntutan utama rakyat Aceh, dan SIRA merupakan organisasi penggalangan masa paling efektif saat itu.

Pada tahun 1998, Nazar berhasil melakukan pemogokan umum dan mengerahkan massa dalam jumlah besar, bahkan mencapai sekitar satu juta orang.

Dilahirkan di Pidie 1 Juli 1973, Nazar menjanjikan diri sebagai pemimpin yang akan menjaga perdamaian sekaligus bebas korupsi.

”Semoga tahun 2015, Aceh dapat menjadi negeri yang makmur. Dengan itu pula kelanjutan perdamaian terus terjadi. Kami bertekad menjadi pemimpin yang aspiratif. Membangun pemerintahan yang bersih.”

Setamat dari Sekolah Tinggi IAIN Ar Raniry, Nazar bekerja dan mengajar di almamaternya. Masa kecil dilalui Nazar dilalui dengan kerja keras. Kakak Nazar, Siti Aminah bercerita: Orangtua kami guru, hidup tentu sederhana. Jadi setiap pulang sekolah Nazar selalu membantu bercocok tanam.”

Semangat perjuangan sudah merasuki Nazar sejak usia dini. Kembali Kakak Nazar, Siti Aminah: ”Dia sekolah di Ulim, kemudian dilanjutkan ke Tsanawiyah Ulee Gle, di sana ada markas Brimobnya. Dari situ ia liat banyak rakyat disiksa. Mulai dari situ hatinya mulai tergerak. Mau balas, dia bilang. Udah cita-cita dari kecil untuk jadi pejuang.”

Nazar beristerikan Dewi Muthia, yang dengan setia tetap mendampingi Nazar saat di penjara. Dua kali Nazar meringkuk di penjara untuk perkara makar. Pertama tahun 2000 hingga 2001 atas tuduhan penyebaran kebencian. Kemudian pada saat status darurat militer, tahun 2003 lagi-lagi Nazar ditangkap dan dipenjarakan di Malang, Jawa Timur hingga tahun 2005. Kasusnya sempat menjadi perhatian dunia.

Pasangan Nazar dan Muthia dikaruniai seorang anak berusia tujuh tahun. Namun, aktivitas di dunia politik membuat Nazar kekurangan waktu bagi si kecil. Muthia: ”Agak romantis tapi keras. Nazar teguh pada pendirian. Tapi waktu untuk keluarga kurang. Gimana ya harus bekerja untuk rakyat.”

Baik bagi Nazar maupun Irwandi, keluarga mereka kini bertambah besar, yaitu seluruh rakyat di Tanah Rencong. Kerja keduanya kini dinanti. Keberhasilan kepemimpinan Irwandi-Nazar tidak hanya akan mempengaruhi Aceh ke depan, namun peta perpolitikan di Indonesia.

Pemunculan Irwandi-Nazar mengilhami aspirasi di daerah-daerah lain untuk memerjuangkan kehadiran calon independen dalam Pilkada. Bahkan juga calon independen dalam pemilihan presiden dan wakil presiden –dengan terlebih dahulu melakukan perubahan undang-undang.

Namun Irwandi-Nazar juga berhadapan dengan tantangan besar. Mereka harus bekerja sebagai eksekutif tanpa basis politik di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, yang seluruh anggotanya merupakan wakil partai-partai politik. Di pundak keduanya, rakyat Aceh menaruh harap.

  • Tanggal 08.02.2007
  • Penulis Ayu Purwaningsih, Dian Vitra Syahputra dan Uzair
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CP91
  • Tanggal 08.02.2007
  • Penulis Ayu Purwaningsih, Dian Vitra Syahputra dan Uzair
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CP91
Iklan