Seri Menuju Pemerintahan Aceh yang Baru: Bukan Logistik dan Senjata Lagi, Melainkan Modal dan Kerja | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 06.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Seri Menuju Pemerintahan Aceh yang Baru: Bukan Logistik dan Senjata Lagi, Melainkan Modal dan Kerja

Setelah bertahun-tahun hidup di hutan, naik turun gunung memanggul senjata, berperang, kini kembali ke kehidupan normal. Itulah yang kini tengah dijalani oleh para mantan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka GAM.

Ada yang dengan mudah beradaptasi kembali ke masyarakat. Namun tidak sedikit yang mengalami kesulitan. Kini mereka menaruh harap pada pemerintahan yang baru agar lebih memperhatikan nasib mereka di kemudian hari.

Malam belum lagi larut, Suaidi Laweung menghabiskan waktunya berbicara lewat sambungan telefon genggam dengan sang istri. Sekedar meluapkan rasa rindu. dalam perjalanan dari Lhokseumawe menuju Medan. Malam itu ia tengah dalam perjalanan dinas menunaikan tugas dari kantor pusat Komisi Peralihan Aceh KPA. KPA adalah badan pengganti Gerakan Aceh Merdeka yang mewadahi para mantan kombatan GAM dalam peralihannya menuju kehidupan sebagai warga sipil biasa.

Ketika konflik masih berkecamuk, mantan anggota GAM wilayah Pidie itu sudah terbiasa berpindah tempat, jauh dari keluarga. Kini ketika sesudah perdamaian terwujud, ia masih saja jarang di rumah. Ia tetap sibuk menjalankan tugas adminstrasi GAM. Tak kenal lelah ia bekerja sukarela tanpa memperoleh imbalan.

Sehari-hari lelaki berusia 30 tahun itu mencari nafkah sebagai konsultan paruh waktu bagi Lembaga Swadaya Masyarakat LSM asing yang kini menjamur di Bumi Serambi Mekah. Tidak menentu, kadang ada pekerjaan, kadang juga tidak. Yang meresahkan, ia tahu bahwa pekerjaan yang dilakoninya hanya bersifat sementara, sebagaimana keberadaan LSM asing tersebut di Aceh.

Sebagai mantan anggota GAM, ia mengaku tidak menyesal telah menghabiskan waktu selama ini untuk berjibaku bersama GAM. Baginya itu adalah perjuangan, untuk kedamaian dan kesejahteraan masyarakat di Aceh. Kini setelah Aceh kembali damai, yang didambakannya adalah dapat kembali melanjutkan pendidikannya ke bangku universitas yang dulu tak sempat dienyamnya.

Kita tinggalkan Laweung sejenak. Kita intip sepak terjang Ridwan Jaffar. Lelaki paruh baya ini dulu kombatan GAM. Naik turun gunung memanggul senjata, merupakan aktivitasnya sehari-hari saat menjadi pejuang GAM. Peluru bukan sekali dua menyasar di tubuhnya, termasuk di kakinya. Akibat luka tembakan itu, kaki Ridwan Jaffar tidak lagi selincah dulu. Kakinya cacat. Namun hal itu tidak mematahkan semangatnya untuk bisa bekerja lagi.

Sayangnya, harapan tinggal harapan. Meski GAM sudah setahun lebih dibubarkan, hingga kini ia masih luntang-lantung mencari pekerjaan. Di depan pembangunan kontruksi sebuah gedung baru di Banda Aceh ia merenungkan nasibnya. Berharap bisa mendapat kesempatan menjadi kontraktor bangunan.

Membuka lembaran baru, tidak semudah membalik telapak tangan. Mereka yang bertahun-tahun hidup di hutan dan berperang, ketika kembali pada kehidupan biasa bersama masyarakat sipil, mau tak mau harus mulai menyesuaikan diri. Mencari nafkah sebagaimana warga sipil lain untuk melanjutkan hidup bersama-sama dengan masyarakat.

Untuk sekadar bergabung dengan masyarakat, para mantan kombatan GAM mengaku tak mengalami kesulitan. Namun untuk mencari kerja atau memulai lagi usaha, ini yang jadi masalah. Sebagian mantan kombatan banyak yang kembali pada pekerjaan awal, seperti misalnya mengajar di pesantren. Namun sebagian lagi masih harus pandai-pandai mencari pekerjaan baru.

Sejauh ini kebanyakan pekerjaan yang tersedia adalah menggarap tanah atau bekerja di sektor pembangunan. Namun seperti diakui mantan Panglima GAM Aceh Besar Muharam, itu hanya pekerjaan sementara. Para anggotanya masih meresahkan bagaimana kehidupan mereka kelak bila proyek-proyek temporer itu selesai. Apakah masih ada lapangan kerja lainnya menanti?

Sejauh ini Panglima GAM Aceh Besar tersebut masih pusing memikirkan nasib anak-anak buahnya. Pembagian jatah modal kerja sebesar 4 juta Rupiah bagi ribuan anggotanya masih belum merata, karena kurangnya dana. Ia hanya dapat berharap pemerintahan daerah Aceh hasil pilkada yang baru, dapat menyelesaikan persoalan ini. Terutama karena para pemenangnya, terutama gubernur, berasal dari GAM.

Memang sejak turun gunung, buah penandatangan perjanjian damai Helsinki, para mantan kombatan GAM banyak mengalami kesulitan ekonomi. Tidak banyak yang memiliki penghasilan tetap. Sejak tidak lagi memanggul senjata, kehidupan mereka lebih banyak masih mengandalkan bantuan keluarga masing-masing. Tak heran masih banyak mantan anggota GAM yang hidup merana. Bahkan ada yang untuk minum kopi pun masih mengandalkan orangtua.

Menurut bekas anggota GAM Suaidi Laweung, modal adalah kendala utama bagi anggota GAM untuk berusaha di atas kaki mereka sendiri. Banyak di antara mereka berkeinginan kuat untuk membuka usaha. Dengan cara inilah mereka merasa lebih pas untuk membangun kembali kehidupannya. Sementara itu, jika hendak bekerja untuk orang lain, mereka masih mengalami kendala ketrampilan.

Jumlah pasti berapa banyak mantan anggota GAM yang belum memiliki pekerjaan, masih belum tercatat. Ini menjadi pekerjaan rumah yang penting bagi pemerintahan daerah Aceh yang baru.

  • Tanggal 06.02.2007
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CP96
  • Tanggal 06.02.2007
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CP96
Iklan