Serangan Udara NATO di Afghanistan Tewaskan 21 Orang | dunia | DW | 09.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Serangan Udara NATO di Afghanistan Tewaskan 21 Orang

Serangan udara NATO di provinsi Helmand Afghanistan kembali menelan korban sipil. 21 orang tewas dan puluhan lain luka-luka.

Pasukan gabungan ISAF dan NATO beraksi di provinsi Helmand

Pasukan gabungan ISAF dan NATO beraksi di provinsi Helmand

Selama dua bulan terakhir, lembah Sangin yang membentang di selatan provinsi Helmand, Afghanistan menjadi saksi bisu pertempuran antara Taliban dan pasukan NATO. Kemarin malam, ketenangan yang biasanya meliputi lembah Sangin diusik oleh pertukaran sengit antara pasukan Taliban dan pasukan khusus Amerika Serikat.

Menurut laporan militer AS, Taliban menyerang dengan menggunakan senapan mesin, dan sesekali senjata pelontar granat. Satu serdadu AS dikabarkan tewas dalam pertempuran malam itu. Di ujung pertempuran, tentara AS yang kewalahan meminta bantuan serangan udara dari NATO.

Lalu terbanglah sejumlah pesawat tempur milik pakta pertahanan negara-negara barat itu. Belasan rudal meluncur dari badan pesawat menghajar apapun yang berada di bawahnya.

Lembah Sangin babak belur, 21 warga sipil tewas, diantaranya perempuan dan anak-anak, begitu menurut keterangan gubernur provinsi Helmand, Asadullah Wafa. Celakanya bukan kali pertama operasi yang dipimpin NATO itu meminta korban dari warga sipil. Selama dua bulan terakhir sudah puluhan warga sipil tewas akibat serangan tentara asing. Pun warga Afghanistan sudah kehabisan sabar, beberapa waktu lalu ribuan warga di kota-kota besar Afghanistan turun ke jalan menentang pasukan asing.

Di kota Jalalabad ribuan manusia berdemonstrasi mengutuk keberadaan tentara Amerika Serikat. Akhir bulan maret lalu, sekitar 19 warga sipil tewas akibat operasi militer serdadu AS di wilayah timur Afghanistan, 50 dikabarkan mengalami luka parah. Baru kemarin militer Amerika Serikat mengumumkan akan membayar uang ganti rugi. John Nicholson, seorang petinggi militer AS memohon maaf kepada keluarga korban.

"Saya malu harus berdiri di hadapan anda semua. Saya meminta maaf, karena serdadu AS telah melukai dan membunuh warga Afghanistan yang tak berdosa. Kecelakaan itu adalah kesalahan fatal."

Kemarahan warga Afghanistan dan demonstrasi menentang jatuhnya korban sipil semakin memperbesar tekanan terhadap pemerintah di Kabul. Tak tanggung-tanggung, Presiden Hamid Karsai pun dengan nada pedas meminta pasukan asing agar lebih berhati-hati. Karsai juga menuding pasukan NATO dan ISAF enggan bekerja-sama dengan pihak pemerintahan di daerah-daerah konflik.

"Sayangnya koordinasi dan kerjasama yang sudah kita bangun tidak berhasil. Kita tidak bisa lagi mentolelir jatuhnya korban sipil. Saya sangat menyayangkan jika ada pasukan asing yang terluka atau tewas. Tapi warga Afghanistan juga manusia."

Kemarahan warga Afghanistan kini juga merambah ke parlemen. Sebagian besar anggota parlemen Afghanistan sepakat untuk membuat undang-undang baru soal keberadaan pasukan asing. Menurut rancangan tersebut, pasukan asing cuma boleh menyerang Taliban dalam kapasitas melindungi diri sendiri atau dengan izin dan kerja-sama dengan militer Afghanistan.

Iklan