Serangan terhadap Universitas di Bagdad Tewaskan Lebih dari 60 Orang | Fokus | DW | 17.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Serangan terhadap Universitas di Bagdad Tewaskan Lebih dari 60 Orang

Serangan mematikan seolah tidak ada hentinya di Irak. Ledakan bom di Universitas Mustansiriyah menyebabkan sedikitnya 60 orang tewas dan 130 orang lainnya cedera.

Genangan darah pada lokasi ledakan bom di pusat kota Bagdad, Selasa (16/01) kemarin

Genangan darah pada lokasi ledakan bom di pusat kota Bagdad, Selasa (16/01) kemarin

Kedua bom itu meledak saling bersusulan. Menurut seorang pegawai Universitas Mustansiriyah, hampir semua yang tewas itu mahasiswa dan pengajar. Ketika bom meledak, para mahasiswa baru keluar dari ruang kuliah dan mulai bergegas pulang. Bom pertama meledak di gerbang utama. Tak lama kemudian, saat para mahasiswa panik berlarian mencari jalan keluar, bom kedua diledakan seorang pembom bunuh diri di gerbang lain. Menghadapi tragedi ini, Universitas Mustansiriyah meliburkan kuliah selama dua hari. Perdana Menteri Irak Nuri Al Maliki menyalahkan pendukung Saddam Hussein dan kelompok Islam radikal.

Sunni dan Syiah Terpisah

Ketika masih muda Barzan al Tikriti, saudara tiri diktator Irak yang baru di eksekusi, juga kuliah di Universitas Mustansiriyah yang didirikan pada abad ke 13 itu. Di Bagdad, masyarakat menceritakan bagaimana kawasan universitas itu berubah setelah Saddam Hussein digulingkan. Dulu di kawasan ini pengikut ajaran Sunni dan Syiah hidup berdampingan. Sekarang kaum Sunni sudah sangat berkurang. Kawasan ini dikendali milisi Syiah yang menyebut dirinya, Tentara Mahdi. Kelompok milisi ini didirikan oleh Ayatullah Muktada al Sadr, yang memiliki hubungan politik erat dengan Perdana Menteri Irak Nuri al Maliki.

Melalui Perundingan

Serangan mematikan seolah tidak ada hentinya di Irak. Sebelum serangan ganda di Universitas Mustansiriyah, empat bom meledak di berbagai lokasi Bagdad. Sampai hari Selasa (16/01) petang, hampir 100 orang tewas akibat aksi teror di ibukota Irak. Sementara di berbagai wilayah lainpun terjadi serangan-serangan lain.

Saad Tousif Al-Muttabili, Direktur Hubungan Internasional di Kementerian untuk Dialog dan Rekonsiliasi mengatakan kepada BBC, bahwa kelompok penyerang gelap ini harus menghentikan aksinya.

"Mereka harus mengerti, bahwa mereka tidak akan mendapat lebih banyak melalui kekerasan. Bagi mereka akan lebih menguntungkan bila mereka duduk bersama untuk membahas masalah-masalah yang ada. Mereka bisa mempengaruhi proses politik dari dalam, tapi bukan dari luar. Inilah pesan yang ingin kami sampaikan, agar mereka mengerti, mengapresiasi dan berpartisipasi.“

Jumlah Korban Tahun 2006

Tahun lalu di Irak lebih dari 34 ribu warga sipil tewas dalam rangkaian aksi teror yang berlangsung sepanjang tahun. Jumlah angka kematian ini diumumkan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Selasa (16/01) oleh pejabat Hak Azasi Manusia, Gianni Magazzeni. Apakah di Irak,lebih banyak darah tumpah pada tahun 2006 daripada 2005? Ini tidak jelas, karena tahun sebelumnya PBB tidak mempublikasikan datanya. Yang pasti, angka kematian yang disebutkan PBB untuk 2006 itu lebih tinggi daripada data resmi pemerintah Irak.

Korban Tewas Setiap Hari

Menurut Gianni Magazzeni, situasi di Bagdad sangat rawan. Jenazah yang ditemukan setiap hari di sekitar ibukota Bagdad, banyak yang menunjukkan tanda-tanda penyiksaan. Magazzeni menuding pemerintah Irak, yang dinilainya tidak berbuat cukup untuk melindungi rakyat sipil. Diperkirakan, anggota milisi telah menyusup kedalam militer dan kepolisian, atau mungkin bahkan bekerja sama. Menurut data PBB, aksi teror menyebabkan sekitar 105 warga Irak tewas setiap harinya selama bulan November dan Desember. Sedangkan pada bulan September dan Oktober angkanya lebih tinggi. Dalam dua bulan itu, sekitar 120 orang terbunuh setiap harinya.