Serangan Terhadap Berlusconi di Italia | BERANDA | DW | 16.12.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

BERANDA

Serangan Terhadap Berlusconi di Italia

Serangan pelemparan benda keras terhadap Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi serta mengenai masa depannya sebagai kepala pemerintahan disoroti media Internasional.

PM Italia Silvio Berlusconi dilempari patung kecil hari Minggu (13/12) dan harus dirawat di rumah sakit

PM Italia Silvio Berlusconi dilempari patung kecil hari Minggu (13/12) dan harus dirawat di rumah sakit

Harian Inggris The Guardian yang terbit di London, menulis komentar berjudul, "negara-negara lain hendaknya menjauhkan diri dari Berlusconi". Selanjutnya harian ini menulis: "Ketimbang mencari kambing hitamnya. hendaknya Silvio Berlusconi menanyakan, mengapa awal bulan ini 250 ribu warga Italia berkumpul di Roma untuk menghadiri "hari anti Berlusconi". Warga Italia melancarkan demonstrasi bukan menentang penampilannya sebagai Perdana Menteri. Melainkan menentang pribadinya. Alasannya, ia seorang pria yang terlibat skandal seks. Ia kehilangan imunitas. Dan diajukan kepengadilan dengan dakwaan melakukan manipulasi, peggelapan pajak dan kasus penyuapan. Untuk itu ia berusaha menyalahkan dan menuding wartawan serta pihak kejaksaan, yang menjalankan tugasnya.Dan mereka tidak membiarkan dirinya ditakut-takuti. Kepala negara dan pemerintahan di dunia hendaknya secara perlahan menjauhkan diri dari tokoh yang bernama Berlusconi ini.“

Harian Italia Corriere Della Sera menyoroti situasi di Italia setelah serangan pelemparan dengan benda keras terhadap Perdana Menteri Silvio Berlusconi. Dan memperingatkan munculnya permainan yang berbahaya, bila menonjolkan sikap saling menyalahkan. Selanjutnya harian ini menulis: "Setelah serangan pelemparan, terhadap Perdana Menteri Silvio Berluscuni yang memberikan dampak terhadap iklim politik, sekarang semua pihak yang terlibat secara mendesak hendaknya mempertimbangkan dengan baik dan mengendalikan ucapannya. Tapi yang terjadi, baik pihak oposisi maupun fraksi dari partai pemerintah, hendak memanfaatkan serangan pengecut itu sebagai instrumen politik, dengan saling menyalahkan lawan politiknya. Dengan demikian mereka mengambil resiko melakukan permainan yang berbahaya yang dapat menyulut tindak kekerasan berikutnya."

Selain itu media Internasional juga menyoroti kunjungan pertama Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen di Rusia, dan tawaran Rusia mengenai sistem keamanan yang baru. Berikut kami kutip komentar harian Polandia Dziennik Gazeta Prawna yang terbit di Warsawa. Harian ini menurunkan tajuk sehubungan dengan kunjungan pertama Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen di Rusia. Harian ini dalam tajuknya dengan tegas menolak tawaran kerjasama dari Rusia untuk menciptakan sistem jaminan keamanan yang baru. Selanjutnya harian ini menulis: "Rusia bekerjasama dengan NATO dan semua negara Eropa hendak menata sistem keamanan baru di benua Eropa. Negara -negara anggota NATO yang besar dan Sekjen NATO tidak menolaknya. Dengan demikian yang tinggal adalah harapan, bahwa hal itu hanya merupakan sekedar basa- basi. Eropa telah cukup memiliki jaminan keamanan dan tidak memerlukan sesuatu yang baru. Tawaran dari Moskow itu harus ditolak. Gagasan dari Kremlin itu bukan sesuatu yang baru. Sejak Putin tampil ketampuk kekuasaan, para pembantunya menyiapkan sebuah konsep hubungan internasional yang baru, yang dapat menyingkirkan peranan PBB.“

AR/DK/dpa