Seorang Sastrawan Besar Indonesia Telah Pergi | Sosial | DW | 01.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Seorang Sastrawan Besar Indonesia Telah Pergi

Hari Minggu (30/4) kemarin Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia.

Berawal jatuh di halaman rumahnya di Bogor, kesehatan sastrawan yang pernah dibuang ke Pulau Buru itu terus memburuk, dan seminggu terakhir tidak mau makan, sehingga hari Kamis (27/4) lalu dibawa ke Rumah Sakit Carolus Jakarta. Sabtu (29/4)malam Pram bersikeras hendak pulang ke rumahnya di Utan Kayu, Jakarta Timur.

Seolah ada perasaan bahwa hidupnya tidak lama lagi, dalam wawancara dengan kantor berita Jerman dpa bulan November lalu, Pram mengatakan, ia menunggu kematiannya. Walaupun tubuhnya sudah rapuh dan berjalan dengan menggunakan tongkat, Pramoedya Ananta Toer tetap bersikap kritis, kata-katanya pun tetap tegas, semangatnya tetap tegar seperti sepanjang hidupnya.

Selama bertahun-tahun ia dinominasikan sebagai salah seorang calon penerima Hadiah Nobel Kesusasteraan. Tetapi ketika tahun yang lalu namanya kembali tidak terpilih, ia hanya mengemukakan, tidak pernah mengharapkan sesuatu dari orang lain. Demikian tercermin dalam berbagai wawancara yang diberikannya, termasuk kepada majalah Playboy, edisi perdana Indonesia.

Pengarang tetralogi Buru itu punya pendapat keras tentang bangsa Indonesia. Dikatakannya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang konsumtif dan tidak produktif, di dalam segala bidang kehidupan. Walaupun sejak jatuhnya kekuasaan Suharto tahun 1998, dunia internasional memuji Indonesia yang meniti jalan menuju demokrasi, tetapi Pram meragukannya. Dikatakannya, demokrasi itu baik, tetapi digunakan untuk apa dan akan membawa Indonesia kemana?

Keraguannya itu kemungkinan bertumpu pada pengalaman pribadinya sendiri. Pria kelahiran Blora 6 Februari 1925 itu berjuang menentang kembalinya kekuasaan kolonial Belanda setelah PD II usai. Untuk pertama kalinya Pram dipenjarakan, karena memiliki dokumen-dokumen anti Belanda. Tahun 1960 sampai 1961 ia juga pernah dipenjarakan karena tulisannya 'Hoakiau di Indonesia'. Tetapi itu boleh dikatakan tidak seberapa dibandingkan dengan kondisinya sebagai tahanan politik dari tahun 1965 sampai 1979, di Pulau Buru.

Penahanannya di tahun 1965 itu, rupanya karena Pram dianggap bersimpati terhadap organisasi komunis. Rumah kediamannya diserbu. Permintaannya agar perpustakaannya jangan dirusak, dibalas dengan pukulan popor senjata ke wajahnya, yang mengakibatkan gendang telinganya pecah dan menjadi tuli sebelah. Ribuan buku, dokumen dan tulisannya musnah dimakan api. Inilah yang tidak bisa dimaafkannya.

Di Pulau Buru Pram terus menulis secara diam-diam. Orang-orang yang mengunjunginya secara keseluruhan berhasil menyelundupkan lima roman sejarah, sebuah karya teater dan sejumlah besar catatan yang dibuatnya. Di Pulau Buru itulah muncul tetraloginya, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Tulisan-tulisan Pram umumnya bercerita tentang orang kecil yang menjadi korban kekuasaan. Karya-karya terakhirnya dibuatnya tahun 90-an termasuk 'Nyanyi Sunyi Seorang Bisu", yang menceritakan kehidupannya sebagai tahanan di Pulau Buru.
Buku-bukunya telah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa. Bahkan seperti yang dikutip dari KB Antara, harian Los Angeles Time pernah menulis, bahwa Pram termasuk dalam 100 pengarang dunia yang karyanya harus dibaca, sejajar dengan John Steinbeck, Graham Greene dan Bertolt Brecht.

Kegiatannya di tahun-tahun terakhir diisi dengan bangun pagi pukul lima, mengumpulkan kliping berita koran bertema geografi, menerima tamu, mengawasi ternak ayam dan angsanya, serta membakar sampah.

Melihat ke kehidupannya yang sangat bergejolak itu, Pram mengatakan telah menerima apa yang diinginkannya, dan juga melakukan apa yang dikehendakinya.