Senjata Atom Israel | Fokus | DW | 14.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Senjata Atom Israel

Untuk pertama kalinya, secara tidak langsung Perdana Menteri Israel Ehud Olmert mengakui negaranya memiliki senjata atom.

Reaktor Atom Israel di Dimona

Reaktor Atom Israel di Dimona

Pelancong Israel pada tahun 60-an, bila hendak berwisata di Laut Mati, harus melintasi gurun Nejev dan melewati kota kecil Dimona, tempat sebagian besar imigran dari kawasan Afrika Utara bermukim. Tidak jauh dari Dimona, di bagian selatan jalan utama terdapat lahan besar berpagar, yang merintangi pemandangan alam di seberangnya. Bila ada yang menanyakan, apa yang terdapat dibalik pagar, akan mendapatkan jawaban singkat, yakni sebuah pabrik tekstil. Tapi kenyataannya, bukan pabrik tekstil, melainkan tempat produksi bom atom.

Beberapa tahun setelah didirikannya negara Israel, mantan Perdana Menteri David Ben Gurion dan kemudian pemenang hadiah Nobel Perdamaian Shimon Peres mendapat tugas membentuk komisi energi atom. Dengan bantuan Prancis, Israel memulai membangun apa yang disebutnya sebagai 'pabrik tekstil' tersebut di Dimona, dan sejumlah tempat riset atom di walayah lainnya.

Setelah Amerika Serikat menggantikan Prancis secara bertahap dalam memberikan bantuan militer kepada Israel, negara ini memiliki sebuah reaktor atom untuk riset. Ini semuanya terjadi menjelang dibentuknya Badan Energi Atom Internasional IAEA tahun 1957, dan terutama menjelang diputuskannya perjanjian larangan penyebarluasan senjata atom pada tahun 1968. Terutama reaktor atom di Dimona mendapatkan pengawasan dan pengamanan yang ketat, meskipun Perdana Menteri Ben Gurion pada tahun 1968 mengatakan, reaktor tersebut dipergunakan untuk kepentingan damai.

Usaha untuk memeriksa instalasi yang berada dibawah tanah dihalangi-halangi. Apa yang dilakukan di ruangan bawah tanah itu, diungkapkan Mordechei Vanunu asal Maroko yang selama sembilan tahun bekerja di Dimona. Ia menyeludupkan foto dan programnya dan menyampaikan secara lengkap mengenai komplek instalasi itu dalam wawancara dengan harian Inggris Sunday Times. Ia dianggap penghianat negara.

Untuk menghindarkan pengejaran Dinas Rahasia Israel, ia tinggal di London. Dengan mengumpan seorang perempuan, Mordochei Vanunu dipikat untuk pergi ke Roma. Di kota ini ia ditangkap oleh Dinas Rahasia Israel. Tahun 1986, pengadilan menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara.

Program senjata atom atom Israel dikembangkan dan diuji coba bekerjasama dengan rejim apartheid di Afrika Selatan. Wartawan Amerika Serikat Tony Hatch yang melaporkan uji coba atom bersama itu diusir dari Israel. Sejak akhir tahun 60-an, muncul desas desus yang mengatakan Israel memiliki senjata atom. Berbeda dengan negara pemilik atom yang lama, Israel tidak menggunakannya sebagai ancaman, melainkan menutup-nutupinya.

Tapi semua negara tetangga Israel, termasuk Iran, sejak lama telah meyakini bahwa Israel secara tidak resmi telah menjadi negara pemilik senjata atom. Sementara negara tetangga Israel seperti Mesir dan Arab Saudi tidak memikiki instalasi riset atom sendiri. Libia menghentikan pembuatan senjata atom. Hanya Iran yang melanjutkan programnya untuk tujuan damai.

Terjadi pertikaian mengenai program atom Iran sejak beberapa tahun, kembali munculnya keinginan Mesir dan Arab Saudi untuk juga menjadi negara pemilik atom di kawasan Timur Tengah. Pengakuan Olmert dapat meningkatkan keinginan tersebut. Dan terutama tekanan dari negara Barat terhadap Iran, semakin tidak masuk akal. Berbeda dengan Israel, Iran menandatangani perjanjian larangan penyebarluasan senjata atom. Mengijinkan dilakukannya pemeriksaan terhadap instalasi atomnya dan Iran membantah berambisi memiliki senjata atom.