Seniman Cina di Indonesia: Dari Rimba ke Istana | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 12.02.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

Seniman Cina di Indonesia: Dari Rimba ke Istana

Anggapan bahwa kebudayaan Cina-Indonesia adalah entitas terpisah dari kebangsaan kita adalah suatu hal yang keliru dan tidak berdasar. Simak opini Rahadian Rundjan.

Saya masih ingat ketika dulu seorang dosen sejarah di kampus mengatakan bahwa Nusantara masa kerajaan begitu terpengaruh oleh peradaban Cina dalam berbagai hal terkait gaya hidup, mulai dari kulinernya sampai ke barang-barang perabotan. Memang pada masanya, Cina merupakan peradaban yang unggul atau setidaknya begitu disegani sampai-sampai raja-raja Nusantara berkenan mengirimkan upeti-upetinya kepada kaisar Cina, atau sekedar mengimpor barang-barang Cina, terutama keramik, sebagai instrumen penunjuk kekayaan dan kekuasaan mereka.

Lalu bagaimana dengan pengaruh kesenian, terutama seni lukisnya? Cina memiliki tradisi seni lukis yang panjang dan akarnya terlacak bahkan ketika Nusantara belum memasuki masa sejarahnya. Namun setidaknya seni lukis Cina dianggap sudah bersentuhan dengan Nusantara sejak lampau walau secar mitologis: tertera dalam Serat Kandha, bahwa dahulu ada seorang pelukis kenamaan bernama Purbengkara yang diasingkan dari tanah Jawa ke Cina. Purbengkara diceritakan menghidupkan geliat seni lukis di Cina sebelum kesenian tersebut dibawa kembali ke Jawa oleh orang-orang Cina.

Kisah legenda di atas menjadi acuan bagi Werner Kraus, peneliti sejarah seni yang fokus pada Raden Saleh dan karya-karyanya, untuk menguatkan hipotesanya mengenai pengaruh seni lukis Cina dalam penciptaan seni lukis Indonesia modern; sebuah studi yang banyak sejarawan menyebut berpangkal dari kemunculan Raden Saleh dan lukisan-lukisan bergaya Eropanya pada abad ke-19. Pertanyaannya, seperti apakah kontribusi pelukis-pelukis Cina dalam sejarah seni lukis Indonesia?

Rahadian Rundjan, esais, kolumnis, penulis dan peneliti sejarah
@RahadianRundjan

Penulis: Rahadian Rundjan,

Draughtsman sampai Pelukis Istana

Menurut laporan orang-orang Eropa sezaman, lukisan-lukisan Cina adalah komoditas yang perdagangannya sudah dikontrol sedemikian rupa oleh pedagang-pedagang Cina. Setidaknya di Filipina akhir abad ke-16, gereja-gereja misionaris Spanyol sudah dihias dengan lukisan-lukisan religius bergaya Eropa yang dibuat oleh pelukis-pelukis Cina. Salah satunya adalah Gereja Binondo yang memiliki sebuah lukisan Perawan Maria dan Yesus, dibuat pada 1588 oleh seorang pelukis Cina, dan disebut-sebut sebagai lukisan bergaya Eropa pertama yang dilukis seorang Asia.

Di Batavia, orang-orang Cina juga mendominasi pasar seni dan barang-barang kerajinan. Menurut Kraus, lukisan cat pertama yang dibuat oleh pelukis Cina di Jawa adalah ilustrasi hewan badak yang dimiliki oleh Caspar Schmalkalden, penjelajah asal Jerman yang tinggal di Hindia pada 1646-1651. Josua van Jpern, sekretaris Ikatan Kesenian dan Ilmu Batavia (Bataviaasch Genootschap, berdiri 1778), juga meninggalkan catatan mengenai seorang Cina Hokkian yang ia pekerjakan sebagai pelukis.

Dipekerjakannya pelukis-pelukis Cina sebagai ilustrator (draughtsman) oleh para penjelajah Eropa kian lumrah memasuki awal abad ke-19, seperti oleh William Marsden untuk keperluan bukunya History of Sumatra dan juga Thomas Stamford Raffles untuk History of Java. Mereka biasanya ikut masuk ke rimba belantara bersama klien-klien mereka dan menggambar objeknya seperti flora dan fauna secara langsung di tempat. Setidaknyam Raffles mengoleksi 2000 sampai 3000 kertas ilustrasi yang dibuat oleh pelukis-pelukis Cina yang ia pekerjakan.

Pelukis-pelukis Cina kian ramai berdatangan ke kota-kota kolonial Eropa di Asia Tenggara, terutama Batavia, setelah pelabuhan-pelabuhan wilayah selatan negeri mereka dibuka paksa untuk kepentingan pedagang-pedagang internasional setelah berakhirnya Perang Opium, pertengahan abad ke-19. Salah satunya adalah Hou Qua, yang berasal dari Hong Kong, tiba di Surabaya pada 1869 dan disebut-sebut lihai dalam melukis gambar potret dan pemandangan.

Abad ke-19 adalah masa-masa dimulainya percampuran kebudayaan lokal dan asing di Hindia, termasuk dalam hal seni lukisnya. Kita tahu bahwa tokoh utama dalam babakan sejarah ini adalah Raden Saleh, pelukis keturunan Arab-Jawa yang pendidikan seninya di Eropa disokong oleh pemerintah kolonial Belanda dan menjadi pionir seni lukis modern Indonesia. Namun Kraus dalam tulisannya di jurnal Archipel vol. 69 menyatakan bahwa setidaknya terdapat seorang pelukis Cina sezaman, Hou Qua, yang eksistensinya dapat memperkaya pemahaman kita terhadap kelahiran seni lukis modern Indonesia.

Hou Qua sempat bekerja di studio milik Raden Saleh di Batavia(kemungkinan pada 1866) sebelum ia pindah ke Surabaya. Seperti halnya Raden Saleh, ia tercatat melukis dengan gaya Romantisisme. Salah satunya adalah lukisan potret seorang gadis kecil bernama Julia Wilhelmina Jeane Ecoma Verstege yang dilukisnya kira-kira tahun 1873.

Di dekade-dekade setelahnya, pelukis-pelukis Cina kian eksis. Mereka menjadi langganan klien-klien Eropa, juga menjadi guru bagi pelukis-pelukis lokal. Sebut saja nama Yap Seng Teng, yang hijrah dari Taiwan ke Bali tahun 1930-an dan mendidik beberapa pelukis Bali ternama seperti I Made Rai Regug dan I Gusti Made Deblog. Hal ini membuktikan bahwa bukan hanya pelukis-pelukis Eropa, seperti Walter Spies dan Rudolf Bonet, yang membidani kelahiran generasi awal pelukis-pelukis Bali modern.

Posisi pelukis-pelukis Cina mulai mendapat perhatian dari penguasa berkat ketokohan dari Lee Man Fong. Tahun 1932 ia tiba di Batavia dari kampung halamannya di Guangzhou (Kanton), Cina selatan. Ia terlibat dalam pembentukan Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi) di akhir tahun 1930-an dan sempat dipenjara ketika Jepang berkuasa di Hindia. Bakat melukisnya menarik perhatian baik penanggung jawab Gubernur Jendral Hindia Belanda, Van Mook, maupun Presiden Indonesia, Sukarno, terlebih ketika Lee mengadakan pameran tunggal di Jakarta pada 1946.

Bersama Henk Ngantung dan Basuki Abdullah, Lee termasuk ke dalam tiga nama tenar dalam dinamika seni lukis di Jakarta tahun 1950-an. Lee mendirikan Yin Hua, sebuah organisasi pelukis Tionghoa pada 1955 yang bermarkas di Mangga Besar. Ia sempat dikunjungi oleh Sukarno. Dan Basuki Abdullah, yang saat itu bekerja sebagai pelukis istana, merekomendasikan Lee sebagai penerusnya. Lantas, Lee kemudian diangkat menjadi pelukis istana bersama seorang pelukis Cina lainnya, Lim Wasim, pada 1961.

Baca juga:

Asal Mula Nama Jalur Sutra

Ditekan Namun Bertahan

Lee Man Fong dan Sukarno cukup mesra. Sang pelukis bahkan diberi tanggung jawab untuk membuat buku mengenai karya-karya seni milik sang presiden berjudul "Lukisan-lukisan dan Patung dari Koleksi Presiden Soekarno dari Republik Indonesia”, sejumlah lima jilid. Lee, yang teknik melukisnya dikatakan merupakan campuran dari gaya Eropa dan Cina tradisional, bekerja di istana sampai akhirnya huru-hara Peristiwa 1965 pecah dan ia lari ke Singapura.

Apa yang mekar di masa Sukarno, dikubur dalam-dalam oleh Orde Baru. Ekspresi kultural kebudayaan Cina ditekan, membuat mati suri geliat pelukis-pelukis Cina di Indonesia. Kini, pelukis-pelukis Cina sudah bebas mengekspresikan bakatnya kembali. Beberapa bahkan telah diakui secara internasional, misalnya Sidik W. Martowidjojo yang dahulu berhenti total melukis di masa Orde Baru namun kini dianggap sebagai salah satu maestro seni lukis Indonesia kontemporer.

Eksistensi pelukis-pelukis Cina, dan sejarahnya yang walau samar-samar dalam narasi sejarah nasional Indonesia, tetaplah sebuah bukti heterogenitas kesenian Indonesia. Sehingga, saya rasa, anggapan bahwa kebudayaan Cina-Indonesia adalah entitas terpisah dari kebangsaan kita adalah suatu hal yang keliru dan sama sekali tidak berdasar.

Penulis: Rahadian Rundjan (ap/vlz)

Esais, kolumnis, penulis dan peneliti sejarah

@RahadianRundjan

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia menjadi tanggung jawab penulis.

Laporan Pilihan