Sengketa Video Eksekusi Saddam Hussein | Fokus | DW | 03.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Sengketa Video Eksekusi Saddam Hussein

Sebuah rekaman video bersuara yang menunjukkan seluruh proses eksekusi Saddam Hussein beredar di Irak.

Kaum Sunni di Irak melancarkan protes. Pasalnya, di video yang disebarkan melalui telepon genggam itu terlihat mantan diktator Irak, Saddam Hussein masih diprovokasi sampai detik terakhir sebelum eksekusi berlangsung. Beberapa orang yang hadir di situ menyerukan nama pemimpin Shiah, Moktada al Sadr dan ayahnya, Mohamad Bakir. Keduanya tewas sebagai korban pemerintahan Saddam Hussein.

Sebelumnya di cuplikan rekaman video pemerintahan, suaranya tidak disiarkan. Provokasi yang terdengar memicu keresahan diantara kaum Sunni. Muncul dugaan bahwa eksekusi itu dilakukan sebagai balas dendam kaum Shiah, dan bukan hukuman yang dijalankan atas nama seluruh rakyat Irak. Lebih parah lagi, mayoritas anggota pemerintahan Irak saat ini merupakan pengikut ajaran Shiah, dan bukan ajaran Sunni yang diikuti oleh kebanyakan rakyat Irak. Sekarang pemerintah di Baghdad melakukan penyelidikan atas video ini. Penasehat Perdana Menteri Irak Sami al Askari mengatakan:

“Apa yang terjadi sangat menyedihkan. Pemerintah ingin menginvestigasi siapa yang berada di balik penyebaran video ini”.

Ada perkiraan bahwa detik-detik terakhir eksekusi itu direkam menggunakan telepon genggam. Alat rekam dilarang untuk dibawa masuk, kecuali bila mendapat ijin khusus. Sementara ini diketahui, di antara hadirin pada eksekusi Saddam Husein, ada dua orang yang membawa telepon genggam bervideo. Keduanya adalah pejabat tinggi di pemerintahan Irak saat ini. Seorang diantaranya secara terbuka merekam eksekusi itu. Namun belum diketahui apakah rekaman itulah yang disebarluaskan. Oleh sebab itu, nama mereka pun masih dirahasiakan oleh pihak kejaksaan. Pihak kejaksaan juga tidak mengerti mengapa kedua orang ini bisa masuk membawa telepon genggam. Penjagaan sangat ketat pada saat itu dan militer Amerika yang berdiri di pintu telah mengambil semua telepon genggam hadirin.

Presiden Irak, Jalal Talabani yang menyatakan penolakannya terhadap hukuman mati, sejak awal menjauhkan diri dari permasalahan eksekusi Saddam Hussein. Setelah eksekusi itu diselenggarakan, secara resmi ia mengungkapkan tidak mencampuri permasalahan hukuman tersebut. Ia mengingatkan bahwa putusan mahkamah saat itu tidak memungkinkan naik banding. Bahkan menurut undang-undangnya, ia tidak dapat memberikan amnesti atau meringankan hukuman.

Namun tampaknya, di Irak tumbuh kecurigaan bahwa Presiden mungkin sengaja tidak campur tangan, karena Talabani berasal dari suku Kurdi. Sedangkan di masa pemerintahan Saddam Hussein, 10 ribu orang Kurdi tewas dalam serangan yang dikenal sebagai kampanye Anfsebagai penjaga keamanan. al.