Sengketa Nuklir Iran ke DK PBB | Fokus | DW | 09.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Sengketa Nuklir Iran ke DK PBB

Mohammad El Baradei, Direktur Badan Energi Atom Internasional IAEA, sudah mengirim laporannya tentang Iran ke Dewan Keamanan PBB.

Sidang IAEA di Wina berakhir tanpa hasil

Sidang IAEA di Wina berakhir tanpa hasil

Sengketa program nuklir Iran sekarang akan dibahas di New York. Walaupun demikian, IAEA tetap akan berusaha menengahi sengketa ini, sekaligus mengawasi instalasi nuklir Iran sedapat mungkin. Sampai saat-saat terakhir, Baradei berusaha mencapai kompromi maupun terobosan baru dalam pembicaraan dengan delegasi Iran. Sebelum konsultasi di Wina, ia malah sempat menyampaikan pandangan optimis. Setelah putaran pembicaraan berakhir tanpa hasil di Wina Rabu kemarin, Baradei masih belum putus harapan.

Mohammad El Baradei: „Saya tidak kecewa, tapi saya sebenarnya berharap, minggu ini bisa dicapai kesepakatan yang membuka jalan untuk perundingan. Bagaimanapun, kemungkinan untuk itu masih ada minggu depan atau 2 minggu depan. Kami akan bekerja sebaiknya untuk membujuk mereka yang bersengketa kembali berunding. Dewan Keamanan juga bisa berupaya ke arah ini.“

Belum jelas bagaimana prosedur selanjutnya. Duta Besar Amerika Serikat di PBB, John Bolton mendesak agar Dewan Keamanan segera membahas kasus Iran awal minggu depan. Tapi menteri luar negeri Rusia Sergei Lavrov, yang kemarin berada di New York menilai, tidak perlu bertindak terburu-buru.

Sergei Lavrov: „Resolusi terakhir dari Dewan Gubernur IAEA sudah menetapkan, selama Februari dan Maret Dewan Keamanan akan mendapat informasi. Dan itu yang akan dilakukan, memberi informasi kepada Dewan Keamanan.“

Sergei Lavrov menegaskan, Dewan Keamanan sebaiknya belum mengambil keputusan apa-apa, karena ini malah bisa mengganggu pekerjaan para inspektur IAEA di Iran. Tapi Amerika Serikat pasti akan mendesak agar laporan IAEA tentang Iran segera dibahas di belakang pintu tertutup. Amerika Serikat ingin agar Dewan Keamanan mengeluarkan peringatan yang memuat batas waktu yang jelas kepada Iran. Tapi kelihatannya Cina dan Rusia, yang punya hak veto di Dewan Keamanan, tidak akan setuju dengan pemberian batas waktu, apalagi dengan ancaman sanksi terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menerangkan:

Sergei Lavrov: „Sanksi belum pernah berhasil menyelesaikan krisis. Kita harus berpegang pada rekomendasi profesional dari IAEA. Ini lembaga pengawas perjanjian non-proliferasi, yang kita bentuk sendiri.“

Artinya, Rusia tetap ingin agar pembicaraan dengan Iran dilakukan oleh IAEA di Wina. Rusia juga bakal menghentikan semua kebijakan keras terhadap Iran di Dewan Keamanan, misalnya sanksi ekonomi. Sergei Lavrov menandaskan penolakan Rusia pada opsi militer.

Sergei Lavrov: „Kami percaya, tidak ada penyelesaian militer dalam krisis ini. Ini juga posisi Inggeris dan Jerman, sebagaimana disampaikan menteri luar negeri mereka.“