Senat AS Ingin Batasi Bom Curah | dunia | DW | 22.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Senat AS Ingin Batasi Bom Curah

Amerika Serikat adalah salah satu negara yang memproduksi bom curah. Selain untuk digunakan sendiri, bom ini juga dijual kepada negara lain.

Bom mini bagian dari bom curah yang tidak meledak di Afghanistan

Bom mini bagian dari bom curah yang tidak meledak di Afghanistan

Militer Amerika Serikat memiliki sekitar 5,5 juta bom. Selama Perang Teluk 1991, dalam perang Kosovo, di Afghanistan dan juga dalam konflik Irak militer Amerika Serikat menggunakan bom curah, yang sebelum menyentuh bumi pecah dan mengeluarkan jutaan bom kecil. Ini sangat berbahaya bagi penduduk sipil, terutama kalau bom ini jatuh dekat kawasan pemukinan, kata Steve Goose dari organisasi hak asasi Human Rights Watch. Selanjutnya Steve Goose menerangkan:

"Semuanya terpencar di areal seluas lapangan sepakbola, kadang-kadang lebih luas lagi dan banyak yang tidak langsung meledak kalau jatuh ke tanah sebagaimana seharusnya. Ini akhirnya jadi semacam ranjau darat.“

Bedanya dengan ranjau darat biasa, bom-bom kecil ini tidak perlu terinjak untuk meledak. Cukup hembusan angin sedikit saja. Bom curah sebenarnya dibuat untuk menewaskan atau melukai sekelompok serdadu infanteri. Namun menurut organisasi Handicap International, 98 persen korban bom curah adalah penduduk sipil, seringkali anak-anak yang sedang bermain.

Amerika Serikat sampai saat ini menolak berunding secara khusus tentang penggunaan bom curah. Namun minggu yang lalu, senator dari Partai Demokrat Dianne Feinstein dan Bernie Sanders mengajukan rancangan undang undang di Senat yang isinya mengatur penggunaan dan penjualan bom curah oleh pemerintah Amerika Serikat.

Rancangan undang undang ini antara lain menyebutkan, pemerintah Amerika Serikat tidak boleh lagi memakai uang pajak untuk penggunaan, penjualan dan pemberian bom curah kepada pihak ketiga, jika lebih satu persen bom yang diproduksi tidak berfungsi dengan sebenarnya. Juga harus ada jaminan, bahwa bom ini tidak digunakan dekat kawasan pemukiman. Selain itu, pemerintah harus memberikan informasi kepada Senat tentang perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk membersihkan kawasan yang tercemar oleh bom curah.

Wakil amnesty international Colby Goodman menilai, prakarsa undang-undang yang baru ini cukup baik karena mencakup dua hal yang dituntut organisasinya. Yaitu mengurangi jumlah bom yang tidak berfungsi dan mencela penggunaan bom curah dekat kawasan pemukiman. Goodman mengatakan:

„Setahu saya, tidak ada perusahaan yang saat ini mampu memproduksi bom dengan tingkat kesalahan di bawah satu persen. Bukan berarti hal ini tidak mungkin, tapi saat ini memang belum bisa. Jadi kalau undang undang ini akhirnya diberlakukan, bisa berarti, pemerintah Amerika Serikat tidak boleh lagi menggunakan bom curah, karena mereka tidak punya dan tidak bisa membeli, yang sesuai dengan undang undang dengan tingkat kesalahan sedemikian rendah.“

Memang Presiden Amerika Serikat masih punya hak istimewa untuk tidak mematuhii ketentuan undang-undang, jika hal ini menyangkut keamanan nasional. Bagaimanapun, amnesty international maupun Human Rights Watch berharap, dengan tekanan ini Presiden Bush akhirnya terpaksa membatasi penggunaan bom curah.

Iklan