1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen meninjau kesiapan angkatan laut yang baru ditugaskan di kota Kaohsiung pada Januari 2022
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen memperjuangkan gagasan "perang asimetris” untuk membuat pasukannya lebih mobile dan sulit diserang, misalnya dengan rudal yang dipasang di kendaraanFoto: Taiwan Presidential Office/AP/picture alliance

Semua akan Sengsara Jika Cina-Taiwan Perang

10 Maret 2022

Tidak peduli siapa yang menang pada perang masa depan antara Taiwan dan Cina, itu akan menjadi “kemenangan yang menyedihkan,” kata Menteri Pertahanan Taiwan Chui Kuo-cheng pada Kamis (10/03).

https://p.dw.com/p/48Gaz

Berbicara kepada wartawan sebelum sesi parlemen tentang implikasi keamanan dari invasi Rusia ke Ukraina, Menteri Pertahanan Taiwan Chui Kuo-cheng mengatakan, kedua belah pihak akan membayar harga yang mahal jika terjadi konflik antara Cina dan Taiwan, di mana Beijing berjanji untuk merebut kembali, dengan kekerasan jika perlu.

"Jika ada perang, terus terang, semua orang akan sengsara, bahkan untuk pemenangnya,” katanya.

"Seseorang benar-benar perlu memikirkan ini secara matang,” tambah Chiu. "Semua orang harus menghindari perang.”

Sementara Taiwan telah meningkatkan level siaganya sejak meletusnya perang di Ukraina, di saat yang sama Angkatan Udara Cina terus melakukan misi sesekali ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan.

"Kami melihat perubahan dengan tenang dan kami siap untuk itu,” kata Chiu tentang Cina.

Dewan Urusan Deretan Taiwan yang membuat kebijakan Cina pada Rabu (09/03) mengatakan, laporan kepada sesi parlemen jika Cina terlalu sibuk memastikan stabilitas untuk kongres utama Partai Komunis pada akhir tahun dibanding meningkatkan ketegangan dengan Taiwan.

Belajar dari strategi Ukraina

Ahli strategi militer Taiwan telah mempelajari invasi Rusia ke Ukraina dan perlawanan negara itu.

"Ukraina, di bawah kondisi yang tidak menguntungkan dari musuh yang lebih besar dari mereka, telah secara efektif menunda kegiatan tempur militer Rusia,” kata Kementerian Pertahanan Taiwan dalam laporan terpisah pada Kamis (10/03).

Militer Taiwan telah "merujuk” pengalaman Ukraina untuk bisa memanfaatkan pertempuran di tanah airnya dan memasukkan "perang asimetris” ke dalam perencanaannya sendiri, tambah kementerian itu. Chiu mengatakan krisis Ukraina telah memberi Taiwan "banyak pelajaran”.

"Kita harus membela negara kita sendiri,” tambahnya, ketika ditanya oleh seorang anggota parlemen apakah Taiwan bisa mengandalkan bantuan asing saat perang dengan Cina.

"Di mata saya, Selat Taiwan tidak pernah menjadi tempat yang aman.”

Sementara itu, Direktur Jenderal Biro Keamanan Nasional Chen Ming-tong mengatakan kepada anggota parlemen bahwa dalam pekerjaan sebelumnya sebagai kepala Dewan Urusan Daratan, dia memiliki jaringan "hotline” ke Cina di mejanya.

"Kabelnya masih ada dan belum diturunkan.”

rw/ha (Reuters)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait