Seminar Eco-Islam di Jakarta Lahirkan Komitmen Lingkungan | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 01.11.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Islam dan Lingkungan

Seminar Eco-Islam di Jakarta Lahirkan Komitmen Lingkungan

Seminar Eco-Islam yang diselanggarakan DW dan Wahid Institute berakhir dengan penanaman 260 pohon. Konferensi serupa akan menyusul digelar di Pakistan dan Bangladesh dalam waktu dekat.

Proyek #mukalama DW dan Wahid Institute mengundang tokoh agama dan pegiat lingkungan dari Bangladesh dan Pakistan untuk berembuk dengan perwakilan Indonesia demi mengkampanyekan pesan ramah iklim.

Dalam pidato pembukanya, Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Mujtaba Hamidi, menyerukan kaum muslim agar memahami perlindungan lingkungan sebagai kewajiban agama. "Seminar Eco-Islam ini adalah bagian dari misi kami menyebarkan pesan damai Islam," kata dia.

"Artinya adalah kehidupan damai bersama dengan identitas yang berbeda dan merawat lingkungan. Buat kami, perlindungan alam adalah hal penting. Karena Islam mengajarkan bahwa manusia adalah wakil Tuhan di muka Bumi dan kita wajib melindungi semua ciptaan-Nya."

Baca juga:Kenapa Jakarta? Tentang Islam dan Tantangan Iklim 

Hal serupa diungkapkan Debarati Guha, Pemimpin Redaksi Asia Deutsche Welle. Menurutnya sebagian besar agama di Bumi "mengkampanyekan kecintaan pada manusia dan alam. "Kita menghadapi ragam masalah lingkungan yang membutuhkan langkah dan aksi konkrit dari masyarakat global," imbuhnya.

Cecilia Sulastri dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) menegaskan lembaganya terus berupaya memerangi penggunaan plastik atau bahan bakar fosil secara berlebihan. Menurutnya semua pihak harus bahu membahu menghadapi tantangan iklim.

Gerakan Eco-Masjid jadi percontohan

Kepekaan lingkungan saat ini sudah dilatih lewat gerakan Eco-Masjid dengan menerapkan manajemen daur ulang air wudhu agar mengurangi pemborosan air. Dr. Hayu Prabowo, Inisator gerakan dan Ketua Dewan Masjid Indonesia, menegaskan masjid harus menjadi contoh untuk mempromosikan gaya hidup ramah iklim sebagai bagian dari Akidah Islam.

"Gerakan Eco-Masjid berusaha mengubah perilaku kita terkait sampah atau pemanfaatan sumber daya. Iklim terus berubah dan masjid bisa memainkan peranan penting dalam hal ini. Di masjid ekologis kami menghemat air dan mengurangi limbahnya. Islam mengajarkan kita untuk tidak hanya mengasihi sesama manusia, tetapi juga alam dan lingkungan," ujar Hayu lebih lanjut.

"Kita harus menebar berkah ini ke semua mahluk hidup di Bumi termasuk planetnya sendiri."

Baca juga: Mampukah Agama Selamatkan Lingkungan?

Di hari terakhir seminar, Wahid Institute mengajak peserta menyambangi Pesantren Al-Tsaqafah di Ciganjur untuk menanam pohon bersama. Sebanyak 260 pokok pohon diadopsi dan akan ditanam di lingkungan ponpes. Pimpinan pesantren, KH. Sofyan Yahya sejak awal memang ingin menanamkan kesadaran lingkungan kepada para santri.

Upaya itu muncul antara lain dalam bentuk kewajiban berhemat sampah dan hukuman denda bagi yang melanggar. "Kami mengajarkan anak-anak ini tentang alam dan betapa penting nilainya dari sudut pandang Islam. Kami meyakini Islam mewajibkan semua pemeluknya untuk merawat lingkungan."

Proyek #mukalama DW tidak hanya akan hadir di Jakarta, melainkan juga telah merencanakan seminar serupa di Karachi, Pakistan dan Dhaka, Bangladesh. Nantinya perwakilan dari ketiga negara diharapkan bisa menjalin kerjasama lebih erat di masa depan demi mempopulerkan pesan lingkungan. (rzn/as).

Tonton video 01:02

Love Humans, Love Nature!

 

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait