Selain Upah Besar, Kerja di Rumah Penyandang Disabilitas Banyak Pelajaran Berharganya | KAMPUS: Tentang kehidupan mahasiswa Indonesia di Jerman | DW | 29.06.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kampus

Selain Upah Besar, Kerja di Rumah Penyandang Disabilitas Banyak Pelajaran Berharganya

Bekerja sebagai pendamping orang berkebutuhan khusus bukanlah jenis pekerjaan yang populer di kalangan mahasiswa. Mahasiswa jurusan Kimia yang satu ini ternyata betah bertahun-tahun lakoni profesi tersebut.

Saat kebanyakan orang sibuk merencanakan keseruan aktvitas untuk akhir pekan di hari-hari kerja atau kuliahnya, hal sebaliknya justru dialami Ega Musriyanti. Gadis asal Jakarta yang biasa disapa Ega ini, sudah lima tahun tahu betul apa yang akan ia lakukan di akhir pekan, yakni bekerja. Jangankan hari Sabtu dan Minggu, hari libur nasional pun harus kerap kali ia habiskan di tempat kerja.

Rumah penyandang disabilitas Frida Kahlo di kota Köln, sudah seperti rumah kedua bagi Ega sejak tahun pertama kuliahnya di Jurusan Kimia di Universitas Reinische Friedrich-Wilhelm, di kota Bonn. Kecewa dengan pekerjaan pertamanya di sebuah toko roti, yang hanya mengupahinya di bawah standar, Ega pun tergiur ajakan teman untuk bekerja sebagai pendamping penyandang disabilitas. Awalnya memang karena upah yang ditawarkan lebih besar, lambat laun keharmonisan hubungan dengan para penghuni di rumah ini membuatnya betah untuk kembali dan kembali lagi setiap pekannya.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul dua siang, ramai dentingan cangkir yang dikeluarkan dari laci, hingga harum semerbak kopi yang baru diseduh menjadi suasana pembuka hari kerja Ega. Dua buah teko penuh berisi kopi di siapkannya di dapur. Tak lupa susu, teh, buah serta kue disiapkan untuk kudapan sore hari para penghuni "rumah Frida Kahlo". "Apakah sudah cukup gulanya?,” tanya Ega ke salah satu penghuni seraya memasukkan gula ke kopinya. Beberapa penghuni juga ada yang minta tolong diambilkan jus jeruk. Semua penghuni yang bersantai di ruang kumpul lantai dua ini terlayani oleh Ega bersama dua orang koleganya. Biasanya Ega mengambil jadwal kerja untuk pembagian waktu kerja yang ke-2, yakni di mulai dari kegiatan kudapan sore hari hingga pukul sembilan malam. Kegiatan lainnya beragam, seperti mengajak berkeliling di taman, membantu berpakain dan urusan di kamar kecil.

Memang tidak semua penghuni di sini selalu membutuhkan bantuan. Banyak juga dari mereka yang terbilang mandiri untuk melakukan sesuatu. Jika sedang tidak ada penghuni yang butuh bantuan, sedikit bersantai di ruang tunggu pekerja adalah satu-satunya tempat yang dituju. Namun ketika bel panggilan di ruang tunggu pekerja berbunyi, maka lekas bergegas menuju kamar pemanggil adalah wajib hukumnya. "Setiap bel selalu dianggap panggilan darurat. Walau sedang istirahat dan sendiri harus jalan,” jelas Ega.

Pelajaran dari profesi

Memiliki jadwal harian yang sudah padat dengan perkuliahan dan pekerjaan, Ega masih sempatkan diri untuk belajar mengemudikan mobil. Sudah beberapa bulan ini ia ikut sekolah mengemudi. Satu hal yang sangat dicamkannya selama pelajaran adalah untuk benar-benar memahami teori dan praktiknya, tentunya agar tidak ada hal buruk menimpa di masa depan.

"Kebanyakan penghuni di sini bisa berada dalam kondisi seperti sekarang karena kecelakaan lalu lintas ya. Aku 'kan sekarang lagi belajar bawa mobil, nah harus bener-bener belajarnya,” ungkap Ega.

Dari profesinya ini Ega juga belajar untuk lebih bersimpati kepada penyandang disabilitas, "kalau ketemu mereka di jalan, ditanya apakah butuh bantuan karena mungkin mereka malu mau tanya atau minta tolong,” tambahnya.

Menyentuh lebih dalam ke sanubarinya, rasa sedih selalu terbesit kala mendengar cerita penghuni yang jarang dikunjungi anggota keluarganya. Hal ini selalu mengingatkan Ega akan kedua orang tuanya di Jakarta. Tinggal jauh di benua biru seorang diri, rutin berkomunikasi dengan orang tua adalah upaya Ega untuk tetap selalu merasakan kehangatan keluarga.

Sempatkan belajar di tempat kerja

Belakangan Ega makin disibukkan dengan aktivitas perkuliahanya. Maklum saja, kini ia tengah berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan skripsinya.

Tidak ada hari libur bagi Ega karena setiap hari Senin hingga Jumat ia harus berkonsentrasi penuh dari pagi hingga sore hari berkutat dengan penelitiannya di laboatorium kimia. Kedengarannya melelahkan, tapi Ega sangat menikmatinya sebab ia tidak merasa salah jurusan. Ega memang menyukai pelajaran Kimia sejak di bangku SMA. Ketika lulus SMA ia mantap mendaftar ke sejumlah universitas di Jerman dengan Jurusan Kimia. Beruntung Ega diterima di semua universitas yang dilamarnya, namun pilihan jatuh ke universitas di kota kelahiran Beethoven, Bonn.

Pekerjaan rumah dari para dosen pun tak sedikit menyita waktu di luar kampus. Jika Ega harus membawanya ke tempat kerja, waktu istirahat selama 30 menit pun terpaksa harus dibagi dengan persoalan perkuliahan. Meski demikian, Ega merasa pelajaran kimia yang dipelajarinya membantunya untuk mengerti pekerjaan lebih cepat. Beragam istilah obat-obatan dan jenis penyakit yang dijumpai di lokasi kerja terdengar sudah familiar di telinga gadis berusia 24 tahun ini.

Ega bangga juga loh bahwa jurusan kimia di universitasnya pernah dipimpin oleh seorang ilmuan dunia, yakni orang pertama yang menemukan struktur senyawa benzena, August Kekulé. Suka cita lainnya adalah profesor pembimbing skripsinya memfasilitasi mahasiswa bimbingaannya dengan meja kerja dan komputer, di sebuah ruangan yang tak jauh dari laboratorium. Tentunya hal ini disambut baik oleh Ega sebab hasil dari perkembangan penelitian di laboratorium bisa segera ditulis. 

*Simak serial khusus #DWKampus mengenai warga Indonesia yang menuntut ilmu di Jerman dan Eropa di kanal YouTube DW Indonesia. Kisah putra-putri bangsa di perantauan kami hadirkan untuk menginspirasi Anda.

ed: yp

 

Laporan Pilihan