Sejumlah Negara Rencanakan Evakuasi saat Cina Berjuang Tahan Wabah Virus Corona | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 27.01.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Virus Corona

Sejumlah Negara Rencanakan Evakuasi saat Cina Berjuang Tahan Wabah Virus Corona

Prancis, Jepang, dan sejumlah negara lain bersiap mengevakuasi warganya dari Wuhan, pusat penyebaran virus corona jenis baru. Setidaknya 80 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 2.700 warga terinfeksi akibat virus ini.

Prancis dan sejumlah negara lain telah mengatakan bahwa mereka tengah bersiap mengevakuasi warganya dari Wuhan, yang merupakan pusat penyebaran virus corona jenis baru yang telah menewaskan setidaknya 80 orang sampai pada Senin (27/01).

Otoritas Cina mengatakan bahwa jumlah orang yang terinfeksi virus ini sudah lebih dari 2.700 orang.

Cina telah berjuang keras menahan penyebaran dari virus corona jenis baru ini. Pembatasan perjalanan turut dilakukan sebagai upaya menghentikan penyebaran penyakit menular ini.

Provinsi Hubei di Cina bagian tengah termasuk kota Wuhan, telah ‘dikunci’, berdampak terhadap aktivitas 56 juta penduduknya selama perayaan Tahun Baru Imlek, periode perjalanan tersibuk negara tersebut.

Sampai saat ini, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari luar Cina.

Baca jugaOmbudsman Minta Pemerintah Larang Pekerja-Turis Asal Cina Masuk ke RI

Warga asing menanti dengan gelisah

Menteri Kesehatan Prancis Agnes Buzyn pada Minggu (26/01), mengatakan bahwa warga Prancis juga akan dievakuasi dari wilayah Wuhan.

“Warga Prancis akan dipulangkan dengan pesawat ke Prancis, dengan persetujuan pihak berwenang Cina. Hal ini akan dilakukan pada pertengahan minggu,” katanya.

Prancis adalah salah satu dari sejumlah negara yang mengumumkan rencana untuk mengevakuasi warganya, termasuk Italia, Jepang, Australia, dan Amerika Serikat (AS).

Ini sebagai bentuk antisipasi Prancis mencegah ratusan warganya yang tinggal di daerah Wuhan tertular virus mematikan tersebut. Mereka yang dipulangkan nantinya diharuskan menghabiskan waktu 14 hari di karantina.

Produsen mobil asal Prancis PSA Group juga mengatakan akan mengevakuasi karyawannya di Wuhan, menempatkan mereka di karantina dan kemudian membawa mereka pulang ke Prancis.

Pada Minggu (26/01), pemerintah Sri Lanka juga mengumumkan akan membawa pulang sebanyak 150 pelajarnya dari Cina dalam dua hari ke depan.

“Kami ingin dievakuasi sesegera mungkin, karena antara virus, kelaparan atau justru ketakutan yang akan membunuh kami,” kata Mashal Jamalzai, seorang mahasiswa Afghanistan di Universitas Normal Cina Tengah, kepada kantor berita AFP.

Jepang berencana evakuasi ratusan warga

Jepang juga berencana mengevakuasi ratusan warganya dari Wuhan. Hal itu disampaikan oleh Sekjen Partai Demokratik Liberal Toshihiro Nikai pada Senin (27/01). Menurutnya, sebuah pesawat akan dikirimkan ke ibu kota provinsi Hubei, paling lambat pada Selasa (28/01) untuk mengevakuasi warga Jepang yang ingin pulang ke negaranya.

Pemerintah Jepang telah mengonfirmasi setidaknya 560 warga Jepang tinggal di provinsi tersebut, demikian menurut Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi.

Kasus keempat akibat virus tersebut dideteksi di Jepang bagian tengah pada Minggu (26/01). Menurut Menteri Kesehatan Jepang, seorang wisatawan pria berusia 40-an asal Wuhan didiagnosa mengalami pneumonia yang disebabkan oleh virus corona.

Seperti yang dilaporkan Kyodo News, pria itu tiba di Jepang pada minggu lalu dan pergi ke rumah sakit di Aichi pada hari Jumat (24/01) setelah mengalami demam. Hasil diagnosisnya kemudian dikonfirmasi  pada hari Minggu (26/01).

Jepang mengonfirmasi kasus kedua dan ketiga pada Jumat dan Sabtu setelah dua pengunjung asal Wuhan – seorang pria dan wanita – masing-masing didiagnosis terkena virus corona. Sementara, kasus pertama terdeteksi pada pertengahan Januari setelah warga negara Cina yang tinggal di dekat Tokyo dinyatakan positif terkena virus corona setelah sebelumnya mengunjungi Wuhan pada bulan ini.

Virus Corona sulit dideteksi

Menteri Kesehatan Prancis, Buyzn pada Minggu (26/01) mengatakan bahwa keputusan pelarangan penerbangan dari Cina harus diterapkan Uni Eropa. Ia juga menolak seruan untuk melakukan pemindaian suhu tubuh penumpang yang datang dari Cina, dengan menyebut bahwa gejala-gejala seperti flu akibat virus justru dapat muncul setelahnya.

“Buktinya adalah bahwa tiga pasien virus corona yang dikonfirmasi di Prancis tidak terdeteksi dengan pemindaian suhu. Mereka semua tiba di sini tanpa demam dan justru menunjukkan gejala penyakit akibat virus itu setelahnya,” katanya.

Prancis diketahui telah mengonfirmasi tigas kasus virus corona di negaranya.

Pejabat Cina mengatakan virus itu dapat bermutasi dan dapat ditularkan melalui kontak manusia.

AS dalam keadaan siaga

Para pejabat AS pada Minggu (26/01) mengatakan bahwa lima orang telah terinfeksi virus tersebut. Ini muncul setelah dua kasus baru dikonfirmasi terjadi pada hari yang sama, satu di Los Angeles di California dan satu lagi di Arizona.

Pejabat dari Departemen Pelayanan Kesehatan Arizona mengatakan bahwa pasien di wilayah Maricopa itu tidak dalam keadaan sakit parah dan tengah diisolasi di dalam rumah.

Pasien lainnya baru menyadari bahwa dirinya merasa tidak sehat ketika tiba di Bandara Internasional Los Angeles.

“Semuanya berjalan sebagaimana mestinya,” kata Dr. Sharon Balter dari Departemen Kesehatan Masyarakat LA. “Pasien ditangani, ia segera dibawa ke rumah sakit dan (kini) pasien tetap berada di rumah sakit,” ujar Balter.

gtp/rap (Reuters, AFP, AP, dpa)