Sedikitnya 160 Tewas dalam Serangan Bom di Bagdad | Fokus | DW | 24.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Sedikitnya 160 Tewas dalam Serangan Bom di Bagdad

Sejumlah bom mobil diledakkan dalam jangka waktu 15 menit, Kamis siang, 23 November.

Rongsokan mobil yang digunakan dalam serangan bom bunuh diri di Bagdad

Rongsokan mobil yang digunakan dalam serangan bom bunuh diri di Bagdad

Sebelumnya, tentara AS dan Irak berusaha memerangi milisi di bagian kota Bagdad tersebut, yang sebagian besar warganya Islam Shiah.

Pada hari yang sama, Departemen Kesehatan diserang oleh lebih dari 30 orang bersenjata. Gedung departemen itu berlokasi di pusat kota Bagdad dan dijaga oleh tentara Irak dan petugas lainnya. Di sekitar pos penjagaan di depan gedung kemudian terjadi tembak-menembak antara tentara dan penyerang, yang dilengkapi granat dan senapan mesin. Demikianlah laporan dari kalangan keamanan Irak.

Penyerbuan ke dalam gedung departemen dapat dicegah dan para penyerang berhasil dihalau dengan bantuan helikopter tempur AS. Baru Senin (20/11) lalu seorang wakil menteri kesehatan berhasil lolos dari serangan, namun dua pengawalnya tewas. Sehari sebelumnya, seorang wakil lain menteri kesehatan diculik. Dan hingga kini nasibnya belum jelas.

Apakah latar belakang serangan atas Departemen Kesehatan Irak dan pejabat-pejabat tingginya? Salah satu kemungkinannya, serangan bermotif balas dendam. Menteri Kesehatan Ali al Shammari adalah pengikut Muktada al Sadr. Wakil al Shammari yang diculik adalah anggota partai dari Perdana Menteri Nuri al Maliki. Jadi, boleh dibilang, departemen itu berada di tangan kelompok-kelompok radikal Shiah.

Baru pekan lalu sejumlah orang tak dikenal yang memakai seragam polisi menyerang Departemen Pendidikan, yang berada di tangan warga Suni, dan menculik lebih dari 10 orang. Milisi yang bekerjasama dengan Perdana Menteri al Maliki segera dituding sebagai pelaku. Terutama, karena ia dan kelompok Shiah berusaha meremehkan penculikan tersebut.

Jadi apakah serangan Kamis (23/11) kemarin terhadap Departemen Kesehatan merupakan tindakan balas dendam? Mungkin saja, dibaliknya ada motif lain. Rumah sakit milik negara semakin disalahgunakan warga militan Shiah. Menurut nara sumber, warga Shiah mendapat pengobatan istimewa, sedangkan warga Suni khawatir akan nyawanya, jika masuk rumah sakit di bawah Departemen Kesehatan itu.

Diberitakan juga, anggota milisi Shiah menyiksa warga yang beragama dan berpandangan berbeda di instansi-instansi lain, yang dibawahi Departemen Kesehatan. Jadi mungkin juga Departemen Kesehatan diserang oleh keluarga yang salah satu anggotanya tewas disiksa. Walaupun AS dan kelompok-kelompok lain di Irak sudah berkali-kali menuntut, Perdana Menteri Nuri al Maliki belum juga melucuti senjata milisi Shiah.

Beberapa waktu lalu, al Maliki menghalangi tentara AS dan Irak, yang mengepung bagian kota Sadr City, untuk menangkap anggota milisi yang bersembunyi di daerah itu. Alasan sikap al Maliki tersebut adalah, jika milisi diserang AS secara besar-besaran, mereka kemungkinan mendapatkan citra sebagai pahlawan. Dan ini merugikan al Maliki. Selain itu, pemimpin politik dari milisi Shiah adalah mitra koalisi al Maliki.

Masalah milisi Shiah kemungkinan besar akan dibicarakan Presiden AS George W. Bush dalam perundingannya dengan al Maliki pekan depan, di Yordania. Karena milisi itu sekarang menjadi salah satu faktor pengganggu keamanan terbesar di Irak. (ml)

  • Tanggal 24.11.2006
  • Penulis Björn Blaschke
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CIxQ
  • Tanggal 24.11.2006
  • Penulis Björn Blaschke
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CIxQ