Sebuah Gereja di AS Gelar Misa Pemberkatan Senapan Pembunuh AR-15 | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 01.03.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Amerika Serikat

Sebuah Gereja di AS Gelar Misa Pemberkatan Senapan Pembunuh AR-15

Sejarah terbaru AR-15 yang dilumuri banyak darah tidak menghentikan satu komunitas religius di AS untuk menggelar misa bagi senapan pembunuh favorit para pelaku amok massal.

Senapan AR-15 dianggap sebagai senjata kejahatan. Nikolas Cruz (19 tahun) menggunakan senjata ini untuk membunuh para pelajar di Florida baru-baru ini. Dengan senapan ini, pembunuh massal Las Vegas Stephan Paddock (64 tahun) dengan membabibuta menembaki para pelajar Sekolah Dasar  Sandy Hook.

Upacara ini digelar pada hari yang sama saat para siswa dan staf pengajar Marjory Stoneman Douglas High School kembali ke sekolah untuk pertama kalinya sejak Nikolas Cruz dengan senapan AR-55 membunuh 17 siswa dan staf sekolah.

Ratusan jemaat gereja "World Peace and Unification Sanctuary” berkumpul mengikuti upacara misa yang ganjil di Newfoundland, sekitar 190 km di utara Pennsylvania, pada hari Rabu (28/02/18).

Banyak jemaat datang ke gereja dengan membawa senapan AR-15 milik mereka untuk diberkati. Para perempuan mengenakan gaun putih, sementara pria dengan setelan warna hitam. Beberapa dari mereka mengenakan mahkota yang terbuat dari rangkaian peluru.

Pemimpin misa Hyung Jin Moon mengatakan dalam doanya bahwa Tuhan telah memberi hak pada manusia untuk memiliki senjata. Baginya, AR-15 seperti "tongkat besi" seperti tertera dalam Kitab Yohanes.

Dalam sebuah pernyataan, Pendeta Moon mengatakan bahwa para umat memiliki kewajiban utuk melindungi "anak-anak Allah" dengan senjata mereka. Seperti yang juga dituntut Presiden AS Donald Trump agar para guru sekolah dipersenjatai untuk mencegah aksi amuk massal.

Seperti banyak orang Amerika lainnya, para jemaat mempercayai bahwa penembakan di sekolah AS bukanlah alasan untuk memperketat undang-undang pemilikan senjata.

Pihak gereja menyatakan, mereka telah menjadwalkan upacara ini beberapa bulan sebelum aksi penembakan di Florida pada 14 Februari. Selain itu semua senjata AR-15 yang dibawa para jemaat dipastikan tidak diisi peluru serta diberi pengamanan menggunakan pengikat zip, dan terlebih dahulu diperiksa di pintu gereja.

yf/hp (rtr/dpa/afp)

 

Laporan Pilihan