Sebastian Kurz, Bintang Baru di Kancah Politik Austria | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 16.10.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Sebastian Kurz, Bintang Baru di Kancah Politik Austria

Tokoh partai konservatif Austria yang berusia 31 tahun ini berhasil melambungkan partainya ke tempat pertama. Siapakah Sebastian Kurz dan apa saja sepak terjangnya?

Sebastian Kurz mulai dikenal luas publik Austria pada 2013, ketika itu dia berusia 27 tahun dan diangkat menjadi menteri luar negeri termuda Eropa, yang bersanding dengan politisi kelas dunia seperti Menteri Luar Negeri AS John Kerry.

Austria adalah negara kecil di Eropa, dengan populasi penduduk yang hampir sama dengan kota London di Inggris. Tapi menurut tingkat Produk Domestik Brutto (PDB) per kapita, Austria tidak kalah dari negara-negara industri besar seperti Jerman, Inggris dan Kanada.

Dalam Survei Kualitas Hidup dari Mercer, kota Wina sejak 2010 terus menduduki posisi puncak. Penduduk di Austria memang tergolong makmur.

Bercita-cita Tinggi

Sekarang, Sebastian Kurz akan menjadi pemimpin pemerintahan termuda di Eropa dari sebuah negara yang tergolong kaya, setelah partainya ÖVP memenangkan pemilu Austria hari Minggu (15/10). Jenjang karirnya memang cukup mengesankan.

Sejak masih di sekolah menengah, Kurz sudah aktif berpolitik dan bergabung dengan garda muda partai konservatif Austria, ÖVP. Dia kemudian masuk jurusan hukum di universitas, namun tidak menyelesaikannya. Selama di kampus, dia juga aktif berpolitik dan terjun dalam kampanye-kampanye partai.

Pada usia 24 tahun, Sebastian Kurz kemudian diangkat sebagai menteri untuk urusan integrasi. Banyak pengamat yang dulu mencibir karirnya pada usia demikian muda. Namun dengan cepat, dia menjadi kesayangan media dan makin populer. Dia menjadi salah satu politisi yang paling populer di Austria.

Tahun 2013, Kurz diangkat menjadi menteri luar negeri, puncak karirnya hingga kini. Selain politik luar negeri, dia juga masih membawahi resor urusan integrasi. Kurz lalu mengambil alih kepemimpinan ÖVP dan menuntut pemilu yang dipercepat. Tuntutan itu kemudian disetujui oleh parlemen Austria.

Sebagai menteri luar negeri, Sebastian Kurz langsung jadi sorotan media di Eropa karena pernyataan-pernyataan kerasnya soal pengungsi dan pengawasan perbatasan.

"Dia seorang neoliberal yang haus kekuasaan," kata seorang pemilih muda di Wina kepada koresponden DW. Tapi sang pemilih muda ini tidak ingin namanya disebut.

Sebastian Kurz Wahlkampf Geilomobil (Junge ÖVP Wien)

Kampanye Sebastian Kurz tahun 2009 dengan motto: "Black is hot". Hitam adalah warna partainya ÖVP.

'Macron atau Trudeau versi konservatif'

Menurut pengamat politik profesor Peter Filzmaier dari universitas Krems dan Graz Austria, jenjang karir seperti Sebastian "belum pernah terjadi sebelumnya dalam politik Austria, tapi juga masuk akal."

"ÖVP adalah organisasi yang sangat kompleks, karena banyak perwakilan daerah" kata Filzmaier. "Tapi dia (Kurz) berhasil mengkonsolidasikan fungsi pengambilan keputusan di bawah pimpinan partai, yaitu dirinya sendiri."

Filzmaier tidak terlalu khawatir dengan retorika anti imigran Sebastian Kurz, karena menurut ilmuwan politik ini, Kurz bukan tipe politisi seperti Donald Trump di AS atau Viktor Orban di Hungaria. Kurz sebenarnya sangat pro-Eropa, kata Filzmaier.

"Dia melihat dirinya lebih sebagai Emmanuel Macron atau Justin Trudeau dari haluan konservatif," kata Filzmaier.

Sebelum Sebastian Kurz mengambil alih kepemimpinan partai awal tahun ini, ÖVP dalam jajak pendapat hanya menempati posisi ketiga dengan sekitar di 20 persen. Dalam pemilu hari Minggu kemarin, ÖVP menyusul ke posisi pertama dengan perolehan suara lebih dari 30 persen.

Laporan Pilihan