SBY dan Martti Ahtisaari Kandidat Favorit Hadiah Nobel Perdamaian 2006 | Fokus | DW | 13.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

SBY dan Martti Ahtisaari Kandidat Favorit Hadiah Nobel Perdamaian 2006

Presiden Soesilo Bambang Yudoyhono dan bekas presiden Finlandia Martti Ahtisaari dijagokan dalam meraih hadiah Nobel Perdamaian 2006. Seberapa besar peluang mereka ?

Martti Ahtisaari tidak hanya berjasa untuk Aceh

Martti Ahtisaari tidak hanya berjasa untuk Aceh

Keduanya diunggulkan oleh lembaga penelitian perdamaian internasional Norwegia. Di sudut sebuah situs taruhan, nama keduanya juga menduduki posisi puncak. Keduanya dianggap punya peran penting dalam menyelesaikan konflik berkepanjangan di Nangroe Aceh Darusallam.

Nama Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono terpampang paling atas dalam situs taruhan centrebet.com, sebagai kandidat penerima hadiah Nobel Perdamaian 2006. Itu artinya, menurut situs Australia tersebut, peluang Yudhoyono paling besar, yaitu 3 banding 1. Diikuti eks presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, dan Yayasan Crisis Management Inisiative-nya diurutan kedua dengan perbandingan 4:1. Di urutan berikutnya, nama Rebiya Kadeer, aktivis Cina, menyusul dengan perimbangan 10:1.

"Ini artinya Yudhoyono kemungkinan menang, pada saat ini. Itu betul. Besok, kemungkinan berubah pesaingnya yang menang. Tergantung berapa uang yang ditaruh dalam pasar taruhan. Bila seseorang menaruh 100 ribuan Mark ke salah satu kandidat lain, orang itu mungkin jadi favorit untuk menang.“

Demikian dituturkan Ben, seorang petugas taruhan centrebet.

Nama-nama tadi berada di atas nama pengacara pejuang Chechnya, Lida Yusupova, jaksa penuntut kejahatan perang Carla del Ponte, musisi Bob Geldof dan Bono, Aliaksandr Bialiats aktivis HAM Belarusia. Mereka hanya segelintir dari 191 nama kandidat yang diunggulkan. Nama SBY sendiri diusulkan oleh Robert Wexler , anggota Kongres Amerika.

Selain berjaya di situs taruhan, baik Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan bekas presiden Finlandia Martti Ahtisaari juga menjadi favorit organisasi penelitian perdamaian dunia Peace Research Institute di Oslo, Norwegia. Direktur organisasi tersebut Stein Toennesson mengungkapkan, kedua nama itu dinilai berhasil menghentikan perang di Aceh yang berlangsung sejak tahun 1976, yang telah menewaskan puluhan ribu orang.

Namun Toenneson menggarisbawahi, tak begitu adil bila Panitia Nobel hanya memberikan penghargaan bagi SBY, tanpa membaginya dengan tokoh Gerakan Aceh Merdeka GAM, yang punya peranan seimbang dalam proses perdamaian tersebut. Untuk itu, akan lebih pas, menurut Toenneson, jika penghargaan diberikan pada Ahtisaari.

"Mungkin dalam kesempatan lain penghargaan dapat dibagi antara Yudhoyono dengan Hasan Tiro, tokoh Gerakan Aceh Merdeka GAM. Saya yakin panitia akan memberi penghargaan pada Ahtisaari karena dia tak hanya berjasa untuk Aceh, tetapi juga di wilayah konflik lain dimana ia berperan aktif.“

Senada dengan Toenesson, aktivis HAM dari LSM Imparsial Rachlan Nashidik mengatakan, perdamaian Aceh dicapai bukan hanya upaya SBY dan Ahtisaari semata. Peran GAM juga harus dipertimbangkan.

Menurut Rachland, aktivis HAM China Rebiya Kadeer, tahanan perempuan yang berjuang demi kaum muslim minoritas Uighur, jauh lebih pantas mendapatkan penghargaan ini.

Kadeer dari provinsi Xinjiang divonis delapan tahun penjara tahun 1999, dengan tuduhan membocorkan informasi rahasia negara kepada luar negeri. Tahun lalu penghargaan Nobel Perdamaian dihibahkan pada Direktur Badan Tenaga Atom Internasional IAEA Mohammed El Baradei. Tahun ini, pemenangnya akan diumumkan 13 Oktober mendatang di Norwegia.