Saudara Perempuan Castro Mata-mata CIA | dunia | DW | 27.10.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Saudara Perempuan Castro Mata-mata CIA

Dengan menggunakan nama samaran Donna, saudara perempuan Fidel dan Raul Castro mengaku sebagai mata-mata badan intelejen CIA.

default

Juanita Castro

Berpuluh tahun, baik pemimpin Kuba Fidel maupun saudara laki-lakinya Raul Castro menuding agen intelejen Amerika Serikat CIA berada di balik ketidakstabilan di Kuba. Namun kini, saudari mereka Juanita Castro yang merupakan pemberontak, memberi pernyataan mengejutkan: Bahwa ia merupakan agen CIA dari tahun 1961 hingga 1964, saat meninggalkan negara komunis itu. Sebuah tamparan bagi Fidel dan Raul.

Pada usianya ke 76, Juanita Castro, anak kelima dari Castro bersaudara, membuka rahasia besarnya. Ia mengaku sebagai agen rahasia CIA. Bahkan kedua saudaranya yang memimpin Kuba bertahun-tahun pun tidak tahu bahwa Juanita bekerjasama dengan CIA selama tiga tahun sebelum meninggalkan Kuba. Pengakuan ini tertuang dalam memoarnya berjudul: “Saudara-saudaraku, Fidel dan Raul,: Sebuah Kisah Rahasia”.

Buku itu mulai dipasarkan Senin (26/10) di Amerika Serikat, Meksiko dan Colombia. Pada awalnya ia mendukung saudara-saudaranya melakukan revolusi terhadap rezim Batitusta tahun 1959. Namun kemudian kecewa ketika Fidel yang kemudian menjadi penguasa pulau terbesar di Karibia itu banyak melakuakn penghukuman dan menjadi sangat komunis. Menurutnya, Fidel mengkhianatinya dengan meninggalkan revolusi nasional demokratis.

Awalnya CIA menghubunginya dan mengatakan ingin membicarakan hal yang menarik, sekaligus ingin menanyakan sesuatu, apakah saya ingin melakukan sesuatu yang beresiko. Saya terkejut, tapi menjawab "ya", kenang Juanita. Ia menceritakan didekati oleh istri dari duta besar Brazil di Havana, Vasco Leitao Da Cunha, Virginia, untuk mau bekerjasama dengan CIA. Juanita kemudian disebut sebagai “Agen Donna”. Kontaknya yang bernama Tony Sforza dipanggilnya dengan sebutan “Agen Enrique”. Juanita menggambarkannya sebagai elemen kunci dalam Proyek Kuba, sabotase ekonomi Amerika Serikat yang gagal setelah kegagalan operasi Teluk Babi.

Setahun sesudahnya, peluru kendali Rusia ditempatkan di Kuba, sekitar 160 km dari pesisir AS. Harian Miami, El Nuevo Herald, menulis bahwa Juanita Castro menyatakan, ia menyampaikan informasi kepada istri duta besar Brazil Virginia Leitao da Cunha bahwa roket Soviet ditempatkan di Kuba dan jumlah personil Rusia semakin banyak di kawasan itu.

Perempuan yang pertama mengontaknya itu kemudian bertemu dengannya di Hotel Camino Real di Mexico City. Juanita kala itu berdalih mengunjungi saudara perempuannya, Emma. Setelah keruntuhan Uni Soviet tahun 1991, Kuba yang merupakan sekutu Uni Soviet jatuh dalam krisis ekonomi berkepanjangan.

Menurut memoarnya, Juanita bekerjasama dengan CIA dengan syarat tidak ada rencana kekerasan fisik terhadap saudara-saudara prianya. Misi pertamanya dulu, yaitu mengantarkan kaleng-kaleng makanan yang berisi pesan dan uang bagi agen CIA di Kuba. Demikian kutipan harian Nuevo dari buku Juanita. Untuk berhubungan dengan CIA, Juanita menggunakan pesan kode lewat radio gelombang pendek.

Dalam bukunya Juanita mengungkapkan, ia memilih resiko besar untuk menjadi agen CIA, guna melindungi kawan-kawannya, melindungi musuh-musuh penguasa Kuba dari eksekusi dan hukuman penjara.

CIA kemudian melarikannya keluar Kuba, setelah saudara laki-laki Juanita, Raul, mengunjunginya dan mengatakan bahwa Juanita sedang diselidiki terkait dengan aktivitas revolusinya. Juanita menyebutkan, terakhir berjumpa dengan Raul, tanggal 18 Juni 1964, sehari sebelum ia melarikan diri keluar Kuba.

Jurnalis Maria Antonieta Collins yang menulis buku bersama Juanita Castro menyebut Juanita merupakan sosok yang pemberani untuk memutuskan menceritakan pengakuan tersebut.

AP/AS/dpa/ap/rtr

Iklan