Sarkozy Mengawali Tugasnya | Fokus | DW | 16.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Sarkozy Mengawali Tugasnya

Orang baru pada posisi tertinggi Perancis terkenal sebagai politisi yang berani mengambil tindakan. Sebelum memulai tugasnya, Nikolas Sarkozy telah menyatakan akan mempertahankan citranya.

Presiden Nicolas Sarkozy berjalan memasuki Istana Elysee

Presiden Nicolas Sarkozy berjalan memasuki Istana Elysee

Sarkozy ingin bertindak secepat mungkin. Dalam dua tahun pertama masa tugasnya, presiden dari partai konservatif itu akan mengadakan reformasi mendasar. Menurutnya, rakyat Perancis telah menyatakan akan memisahkan diri dari ide dan kebiasaan di masa lalu. Untuk itu ia akan menciptakan pekerjaan, autoritas, moral dan kehormatan.

Di masa depan hubungan antara negara dan rakyat Perancis akan menjadi titik berat tugas departemen untuk imigrasi dan identitas Perancis. Ide tersebut telah dilontarkan Sarkozy selama kampanye dan mendapat kritik keras dari lawan politiknya. Untuk rencananya tentang pengetatan hukuman bagi pelaku kejahatan yang mengulang perbuatannya, Sarkozy mendapat lebih sedikit celaan.

Visi Sarkozy

Mantan menteri dalam negeri itu terutama ingin dinilai prestasinya dari rencananya untuk menekan jumlah pengangguran hingga mencapai hanya 5%. Berkaitan dengan hal ini, Sarkozy akan meningkatkan perkembangan perekonomian. Untuk itu ia akan melunakkan peraturan waktu kerja 35 jam tiap pekan dan memberikan rakyat rangsangan untuk membeli. Oleh sebab itu beban pajak akan dikurangi hingga maksimal di bawah 50% dan pajak warisan dikurangi besar-besaran. Program itu akan dilaksanakannya secepat mungkin.

Sebelum resmi memangku jabatan, Sarkozy telah bertemu dengan mitra dari partai sosialis. Pertengahan tahun ini, parlemen sudah dapat memutuskan sejumlah reformasi melalui sidang istimewa. Untuk itu partai konservatif ingin menggunakan sebaik mungkin kepopulerannya saat ini. Selain itu selama masa liburan tengah tahun serikat kerja akan sulit memobilisasi anggotanya. Taktik itu digunakan Sarkozy untuk menghindari demonstrasi di jalan-jalan, yang dulu juga harus dihadapi pendahulunya Chirac.

Langkah Sarkozy

Reformasi tersebut akan diorganisir orang kepercayaan Sarkozy, François Fillon, yang akan menjadi perdana menteri berikutnya. Fillon telah menjadi menteri sosial di bawah Jacques Chirac dan berhasil dalam perundingan dengan serikat kerja. Fillon yang berusia 53 tahun akan memimpin kabinet yang diperkecil dan juga beranggotakan politisi dari kubu lawan.

Dalam politik luar negeri pun, Sarkozy akan segera mengambil tindakan. Dua tahun setelah gagalnya undang-undang Uni Eropa akibat penolakan rakyat Perancis, Jerman, yang sekarang menjadi ketua Uni Eropa, ingin merombak rancangan secepat mungkin. Karena tanpa reformasi rancangan undang-undang, Uni Eropa tidak dapat mengambil tindakan. Demikian dikatakan Kanselir Jerman, Angela Merkel.

Politik Luar Negeri

Dukungan untuk Angela Merkel sudah diberikan Sarkozy saat memulai tugasnya hari Rabu ini (16/05). Berbeda dengan saingannya Royal, dalam kampanyenya Sarkozy telah menolak referendum ke dua tentang undang-undang Uni Eropa. Rancangan baru hanya akan diputuskan oleh parlemen. Tetapi rupa rancangan baru itu sendiri belum jelas. Jerman hanya dapat berharap Sarkozy memegang janjinya saat terpilih sebagai presiden.

Walaupun berkeinginan besar, presiden baru Sarkozy baru bisa bertindak setelah pemilu 17 Juni mendatang, karena baru setelah itulah jelas, apakah cita-citanya didukung suara mayoritas. (ml)