Sandiaga Uno: Akan Lebih Banyak Uang di Kantong Masyarakat | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 13.04.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Debat pilpres kelima

Sandiaga Uno: Akan Lebih Banyak Uang di Kantong Masyarakat

Mengenai investasi dan industri, Prabowo menyinggung lagi penerimaan pajak Indonesia yang menurutnya terlalu rendah dan harus bisa ditingkatkan. Pada saat yang sama, Sandiaga Uno janjikan pemotongan pajak perorangan.

Mengenai investasi dan industri, Prabowo menyinggung lagi penerimaan pajak Indonesia yang menurutnxya terlalu rendah harus bisa ditingkatkan. "Strategi yang lebih konrit dibutuhkan untuk mendorong peningkatan rasio pajak, penrimaan zakat dan wakaf. "KPK sendiri mengatakan, seharusnya kita menerima 4000 triliun tiap tahun, tapi kenyataanmnya hanya 2000 triliun. "Berarti ada kebocoran 2000 trilitun".

Prabowo mengatakan, dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand, rasio penerimaan pajak Indonesia yang sekitar 10% masih terlalu rendag, seharusnya bisa ditingkatkan menjadi 16%.

Jokowi mengakui memang masih banyak yang harus dibenahi dalam soal penerimaan pajak. Namun dia mengatakan, peningkatan rasio pajak dari 10 menjadi 16 persen akan berarti menarik dana 750 triliun sebagai pajak. Jika ini dilakukan, akan terjadi syok ekonomi. "Kita mau naikkan tax ratio" namun secara gradual, kata Jokowi, karena tidak ingin terjadi syok di perekonomiam.

Sandiaga Uno juga berjanji akan menggenjot rasio penerimaan pajak. Namun pada saat yang sama, dia menjanjikan akan mengurangi tarif pajak perorangan "Akan lebih banyak uang di kantong masyarakat," kata Sandi lantang.

Pada sesi selanjutnya, kubu Prabowo-Sandi mengeritik masih tingginya impor Indonesia dan tingginya harga-harga bahan pokok. Jokowi menjawab bahwa memang pemerintahannya akan fokus pada peningkatan ekspor, untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan Indonesia. Sandiaga Uno menyanggah, strategi ekonomi yang dijalankan pemerintahan saat ini. "Prabowo-Sandi punya strategi yang disebut "big push", dorongan-dorongan besar" untuk memperbaiki perekonomian Indonesia.

Landasan politik ekonomi yang sama

Dari sudut pandang politik ekonomi, sebenarnya apa yang dikemukan kedua paslon punya landasan yang sama. Mereka sama-sama ingin mendorong industrialisasi, menggalakkan investasi, meningkatkan penerimaan pajak, sekaligus memberdayakan pekerja dan masyarakat kelas bawah. Kedua pihak juga cenderung menerapkan kebijakan yang ramah terhadap pengusaha. Berulangkali Ma'ruf Amin mengemukakan harapannya agar ekonomi syariah Indonesia dan wisata halal Indonesia menjadi nomor satu di dunia. Sandiaga Uno menimpali hatinya trenyuh, karena pusat keuangan dunia tidak ada di Indonesia, melainkan di Hongkong dan di tempat lain.

Namun tidak ada pembahasan mengenai dampak kapitalisme terhadap jurang yang melebar antara kaya dan miskin dan terhadap kerusakan lingkungan yang makin parah. Juga tidak ada pernyataan tentang perlindungan konsumen maupun strategi pembagian kekayaan negara dan pemerataan lewat sistem pajak. Upaya meningkatkan daya beli masyarakat juga tidak menjadi fokus kebijakan, melainkan lebih cenderung pada politik ekonomi yang mengakomodasi kepentingan pengusaha dan investor.

Sekalipun demikian, pendukung kedua kubu terlihat sangat bersemangat mengelu-elukan calonnya. Dari porsi berbicara, kubu Prabowo-Sandi mempunyai porsi yang seimbang. Sementara di kubu Jokowi-Amin, Jokowi jauh lebih sering berbicara dibandingkan cawapresnya Ma'ruf Amin, yang kalau berbicara lebih fokus pada ekonomi syariah.

 

Laporan Pilihan