Sandera Terakhir Abu Sayyaf Asal Indonesia Dibebaskan Militer Filipina | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 22.03.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Filipina

Sandera Terakhir Abu Sayyaf Asal Indonesia Dibebaskan Militer Filipina

Empat nelayan Indonesia yang disandera Abu Sayyaf sejak setahun lalu akhirnya dibebaskan militer Filipina. Operasi penyelamatan diklaim menewaskan seorang komandan kelompok teror tersebut.

Ilustrasi gerilayawan Abu Sayyaf

Ilustrasi gerilayawan Abu Sayyaf

Para sandera dibebaskan saat perahu yang mereka tumpangi terbalik. Pasukan penyelamat yang menerima sinyal permintaan bantuan mendapati perahu itu dikendalikan oleh Majan Sahidjuan, salah seorang pemimpin Abu Sayyaf, bersama seorang militan lain dan tiga orang sandera. 

Pasca pembebasan ketiga sandera, pemerintah melanjutkan operasi untuk mencari sandra keempat, yakni seorang remaja berusia 15 tahun. Dia dibebaskan saat pasukan pemerintah memergoki kelompok Abu Sayyaf sebuah desa di pulau Kalupag, selatan Filipina. 

Judha Nugraha, Kepala Direktorat Pelindungan Warga Negara Indonesia di Kementerian Luar Negeri, mengatakan pegawai konsulat jendral Indonesia di Davao City sudah menemui remaja itu dan mengabarkan kondisinya sudah membaik.

"Setelah penyelamatannya, maka semua warga negara Indonesia yang disandera Abu Sayyaf sudah dibebaskan," kata dia, sebelum menambahkan semua sandera akan diterbangkan ke Manila untuk menjalani perawatan, sebelum dipulangkan ke Indonesia.

"KJRI Davao melalui anggota TNI di Border Crossing Station Indonesia di Bongao, Tawi Tawi telah menemui dan memeriksa kondisi MK. Yang bersangkutan dalam keadaan baik dan sehat," terangnya. "Pemerintah Indonesia menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang baik dengan pemerintah dan aparat keamanan Filipina," tutur Judha seperti dikutip dari keterangn pers Kemenlu RI, Minggu (21/3).

Keempat warga Indonesia termasuk lima WNI yang diculik oleh Abu Sayyaf pada 16 Januari 2020 di perairan Tambisan, Sabah, Malaysia. Salah seorang nelayan dikabarkan tewas ketika mencoba melarikan diri dalam sebuah operasi penyelamatan.

Abu Sayyaf terdesak

Sulu dikenal sebagai benteng terakhir Abu Sayyaf yang memperjuangkan kemerdekaan di selatan Mindanao. Belakangan kelompok ini dikabarkan mulai tersudutkan oleh operasi militer pemerintah. Awal Februari silam sebanyak empat anggota Abu Sayyaf menyerahkan diri, dan termasuk 100 bekas anggota lain yang telah lebih dulu membelot.

Wilayah kekuasaan Abu Sayyaf di kepulauan Jolo dan Basilan pada 2016.

Wilayah kekuasaan Abu Sayyaf di kepulauan Jolo dan Basilan pada 2016.

Pada bulan yang sama, aparat keamanan Filipina menangkap sembilan perempuan yang diduga mengemban misi bom bunuh diri. Beberapa di antaranya dikabarkan sebagai putri pemimpin Abu Sayyaf, Hatib Hajan Sawadjaan, yang pernah berbaiat kepada Islamic State.

Tahun lalu, Presiden Rodrigo Duterte memerintahkan pembentukan divisi infanteri khusus di kepulauan Sulu. Satuan elit tersebut bertugas memerangi kelompok Abu Sayyaf. Dalam operasinya, mereka antara lain dibantu milisi bersenjata bekas kelompok pemberontak muslim, Moro National Liberation Front (MNLF) yang sudah berdamai dengan pemerintah.

Saat itu pasukan pemerintah berhasil memaksa salah seorang komandan Abu Sayyaf untuk menyerahkan diri. Anduljihad "Edang” Susukan, membiarkan dirinya ditahan di selatan Davao City usai bernegosiasi dengan polisi. Dia dicari atas dugaan keterlibatan pada setidaknya 23 kasus pembunuhan dan lima kasus penculikan.

Penangkapannya sekaligus menandakan kemajuan bagi operasi militer pemerintah terhadap organisasi terror yang masuk dalam daftar hitam Amerika Serikat itu. Abu Sayyaf selama ini dikenal brutal dalam menculik wisatawan atau warga negara asing, dan memenggal kepala korban jika tuntutan uang tebusan tidak dipenuhi.

rzn/vlz (dpa/ap)

Tonton video 01:06

Lagi Tujuh WNI Disandera Abu Sayyaf

 

Laporan Pilihan