1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kerusuhan di stadion Kanjuruhan
Kompolnas menilai tidak terjadi pelanggaran HAM dalam kerusuhan yang terjadi di stadion Kanjuruhan. Apa yang dilakuan pihak pengamanan hanyalah kesalahan prosedurFoto: Yudha Prabowo/AP/picture alliance
Sepak BolaIndonesia

Saksi: Kanjuruhan Kacau saat Tembakan Gas Air Mata

Rahka Susanto | Sharon Margriet Sumolang
4 Oktober 2022

Sejumlah saksi mata menyebut kekacauan di Stadion Kanjuruhan terjadi setelah polisi menembakan gas air mata ke tribun. Sementara Kompolnas menyebut tidak semua polisi memahami pengamanan dalam pertandingan sepak bola.

https://p.dw.com/p/4HiWD

"Saya cuma bisa pasrah, mati di sini enggak apa-apa,” ungkap Yaya, salah satu saksi mata dan korban selamat saat menceritakan apa yang ia rasakan pada Sabtu (01/10) malam di Stadion Kanjuruhan. Dalam pertandingan Arema FC kontra Persebaya, Yaya hadir sebagai pendukung klub favoritnya Arema FC berlaga. Namun, tanpa ia sangka pengalaman itu membuatnya trauma, hingga ia "putuskan untuk tidak nonton pertandingan sepak bola lagi.”

Pascakerusuhan, sejumlah saksi mata mengisahkan pengalaman mereka di tengah panik massal dan kerusuhan dalam pertandingan sepak bola paling mematikan di Indonesia. Di tengah rasa trauma, mereka bercerita mengenai momen-momen menegangkan saat ribuan orang berdesak-desakan menyelamatkan diri dari kerusuhan di Stadion Kanjuruhan.

‘Wis mati ae rapopo'

Sabtu (01/10) malam, pertandingan antara Arema FC dan Persebaya ditutup dengan kekalahan tuan rumah dengan skor akhir 2-3. Hal ini memicu kekecewaan para pendukung Arema FC yang merangsek masuk ke dalam lapangan sepak bola. Yaya yang menjadi salah satu suporter Arema FC berkisah tentang kepanikan saat polisi menembakan gas air mata ke arah tribun untuk menghalau suporter melakukan pitch invasion.

"Yang saya alami itu sesak napas, mata itu enggak bisa melihat, ingin keluar stadion. Pas di tangga turun itu (kondisi penonton) saling dorong, suporter banyak yang jatuh terus ketiban (suporter lain) yang dari atas. Ratusan (orang) yang di tangga itu, bukan puluhan lagi,” kenang Yaya kepada DW.

Dalam kondisi terhimpit dan sesak napas, Yaya berpikir "wis mati ae rapopo" yang berarti "ya sudah mati saja, tidak apa.” Ia sempat tidak sadarkan diri di tengah himpitan massa. Yaya baru siuman setelah dirinya diselamatkan dan dibawa ke ruangan VIP.

Kesaksian Korban Selamat Tragedi Kanjuruhan

Sementara suporter Arema FC lainnya, Bima, menceritakan apa yang ia lihat dari kursi VIP. Ia menyebutkan, kericuhan justru di mulai saat polisi menembakan gas air mata ke arah tribun. "Tembakan pertama ke tribun 12. Di situ suasana mulai kacau. Saya sudut pandang penonton VIP, penonton berhamburan ke sana ke mari. Saya enggak tahu kalau di situ ada banyak korban meninggal dunia. Saya cuma lihat gas air mata. Banyak orang yang digotong saya kira cuma pingsan. Waktu saya ke pintu belakang sini, sudah banyak yang meninggal dunia,” ungkap Bima kepada DW.

Bima pun kembali mengenang rasa sesak napas dan mata yang pedih saat terpapar gas air mata. Namun, di tengah kekacauan itu Bima berupaya turun tangan dan membantu korban lainnya yang mulai berjatuhan. "Saya panik enggak tau mikir apa. Yang saya pikir yang di depan mata yang bisa saya selamatkan, itu yang bisa saya lakukan. Saya panik. Saya cuma bawa 1 botol air minum yang saya enggak tau dapat dari mana. Saya ambil dari kamar mandi. Saya kasih teman-teman,” kisah Bima.

Keadilan yang harus ditegakkan

Sejumlah saksi mata menyalahkan langkah penanggulangan pihak keamanan yang menembakan gas air mata ke arah tribun. Sebagai korban yang selamat, Yaya berharap, " Keadilan buat (para korban) yang meninggal.” Ia juga menepis adanya bentrok yang terjadi antar suporter di Stadion Kanjuruhan.

Dengan penuh kecewa Yaya mengungkapkan, "(saya) rasakan gas air mata sendiri. Enggak kuat saya kalau ngerasain lagi. Dan copot jabatan, semua. Pokoknya yang bertugas harus bertanggung jawab. Karena ini nyawa bukan main-main.” Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bima, "Mereka harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Saya harap enggak dipecat aja. Mereka diberi hukuman yang setimpal. Diproses hukum.”

Sementara kerabat salah satu korban yang tewas dalam tragedi Kanjuruhan, Ave berharap "diperbaiki sistemnya agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. "Cukup kami saja yang mengalami. Jangan sampai orang lain mengalami kejadian seperti ini.” Kepada DW, Ave menyebut kematian kerabatnya telah menjadi kedukaan mendalam sebagai sesama pendukung Arema FC.

‘Polisi itu tidak semuanya paham aturan bola'

Keputusan polisi untuk menembakan gas air mata di tengah kericuhan di stadion Kanjuruhan menjadi sorotan luas oleh banyak pihak. Padahal dalam aturan FIFA penggunaan gas air mata pada aksi kerusuhan di dalamstadion telah dilarang. Namun, kepada DW, Anggota Komisi Kepolisian Nasional, Albertus Wahyurudhanto menjelaskan upaya menembakan gas air mata terjadi "karena polisi itu tidak semuanya paham aturan bola. Karena ini kan Lex Specialis.”

Wahyurudhanto menilai seharusnya PSSI sebagai pihak yang memahami aturan pengamanan sepak bola dapat memberikan sosialisasi berkala kepada pihak kepolisian. "Pengalaman di sini kemarin, karena di sini pertandingan besar, 2000 orang petugas keamanan, yang anggota polres Malang hanya 600, yang 1400 adalah bantuan dari luar. Tentu komandonya berbeda," papar Wahyurudhanto.

Kompolnas juga membantah adanya pelanggaran HAM dan menyebut tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (01/10) malam sebagai peristiwa force majeure. Wahyurudhanto menilai apa yang terjadi pada momen itu hanya indikasi ‘kesalahan prosedur.'

(rs/sm/as)