Sakit Gigi di Jerman, Tambah Pengalaman | DWNESIA: Wadah bagi komunitas DW untuk berbagi kisah dan pendapat | DW | 27.03.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Blog

Sakit Gigi di Jerman, Tambah Pengalaman

Sakit gigi tidak nyaman, di manapun orang berada. Tapi di perantauan, sakit gigi juga jadi pengalaman menarik. Oleh Angelica Chrestella.

Pada bulan Desember 2017 saya ke seorang dokter gigi di Indonesia untuk menambal gigi geraham kiri. Dokter ini adalah dokter muda yang baru saja buka praktek bersama dengan istirnya yang baru saja lulus sebagai dokter gigi. Saya datang mungkin pas hari ke dua pembukaan klinik mereka. Dari analisa dokter tersebut, gigi geraham kiri bawah saya punya dua lubang dan tidak bisa langsung di tambal soalnya lubangnya lumayan besar.

Jadi saat itu, pak dokter hanya membersihkan gigi saya, lalu saya harus menjalani perawatan gigi yang kurang lebih selama 5 hari sampai gigi tidak sakit lagi. Setelah lima hari, pak dokter mulai menambal gigi saya. Tambalan baik-baik saja walaupun kadang sering terasa berdenyut, kalau kena air dingin ngilu, dan saya masih tidak berani mengunyah dengan gigi tersebut karena agak berdenyut. Saya kira itu fase yang wajar. Ternyata saya salah besar.

Tanggal 6 Oktober 2018, waktu saya sudah berada di Jerman lagi, gigi tambalan saya tiba-tiba terasa sangat sakit. Sakitnya parah sekali sampai-sampai hari itu saya harus minum 4 tablet obat pereda nyeri dengan total dosis 1600mg. Saya masih berpikir, "Ah besok juga sembuh, dibawa tidur saja." Ternyata besoknya juga tetap masih sangat sakit. Sialnya saat itu adalah hari Minggu, di mana dokter di Jerman pada tutup. Jadi saya harus menunggu sampai hari Senin agar bisa langsung ke dokter gigi tanpa janji karena ini termasuk urusan mendesak.

Foto menunjukkan Angelica Chrestella

Angelica Chrestella

Tanggal 8 Oktober 2018, saya pergi ke dokter gigi dekat rumah. Saya menceritakan apa yang saya rasakan pada gigi saya. Pak dokter pun membersihkan gigi saya terlebih dahulu dan di situlah semuanya terbongkar. Pada saat dibersihkan, gusi saya terlihat banyak bintik-bintik hitam, alias kuman-kuman gigi. Gusi saya sudah infeksi parah. Pak dokter pun memberikan antibiotik lokal yang di suntikkan di gusi untuk membunuh para kuman bakteri penyebab infeksi
dan juga memberikan saya resep antibiotik yang harus di minum selama seminggu dengan dosis dua tablet sehari.

Tanggal 10 Oktober 2018, saya merasa nyeri gigi saya tambah parah, lebih sakit dan juga makin terdorong ke atas. Jadi pas saya menggigit, seperti naik sebelah, terasa sakit, dan goyang. Akhirnya saya meminta suami untuk menelepon ke dokter untuk menanyakan apakah itu reaksi normal atau saya saja yang berlebihan. Sebelumnya, pak dokter berpesan sekalipun sakit sekali dan tidak bisa ditahan, jangan ke emergency di rumah sakit soalnya nanti mereka akan langsung bunuh gigi saya.

Singkat cerita, pak dokter meminta saya untuk datang langsung ke klinik untuk di periksa. Sekitar jam 11 siang, saya dan suami pun datang ke klinik. Sesampainya di klinik, saya diberi penjelasan panjang yang intinya, kuman-kuman itu bereaksi terhadap obat yang diberikan, makanya ada tekanan dari dalam gigi yang mendorong keatas. Akibatnya gigi terasa goyang, sakit, dan agak mencuat keatas. Tindakan yang dilakukan oleh dokter gigi saya pada saat itu adalah membuka tambalan gigi saya yang masih utuh dan menutupnya dengan kapas. Tujuannya untuk mengurangi tekanan dari kuman-kuman. Benar saja, setelah itu gigi saya  tidak sakit sama sekali. Saya masih melanjutkan antibiotik yang diberikan sehari sebelumnya sampai abis. 

Teman-teman pasti tahu kan yang namanya antibiotik harus diminum semua sesuai dosis, walaupun sudah tidak sakit lagi. Kenapa? Karena kalau cuma minum setengah-setengah nanti kumannya bukan mati, tapi puyeng doang dan itu bisa membuat kuman tersebut lebih kuat, karena kebal dengan antibiotik yang tidak selesai itu.

Tanggal 17 Oktober 2018, saya kembali ke dokter untuk periksa lagi. Kali ini pak dokter akan membuka tambalan gigi saya lebih besar lagi untuk memberikan obat. Setelah di periksa, gigi saya mempunyai 3 lubang. Kok mendadak jadi tiga ya? Padahal pas dulu di tambal cuma dua. Tujuan dari pemberian obat ini adalah untuk membunuh akar gigi. Jadi setelah x-ray dilakukan, ketahuan serusak apa gigi saya. Rupanya si gigi geraham tambalan saya ini sudah rusak parah sampai ke akar dan sudah terlalu banyak bakteri yang menyerang akar jadinya akar gigi tersebut harus dibuang, daripada merambat ke gigi lain. Sedih rasanya divonis harus ompong.

Ternyata tidak sampai disitu, saya ternyata punya gigi impaksi di bagian geraham kiri, selang satu gigi dari gigi geraham tambalan saya. X-ray gigi ini sangat saya rekomendasikan, soalnya kalian bisa ngecek gigi kalian sampai ke akar-akarnya. Untungnya pada saat itu gigi yang parah banget cuma gigi geraham tambalan dan gigi bungsu impaksi. Namun sayangnya untuk penanganan lebih lanjut terhadap dua gigi tersebut, pak dokter merujuk saya ke klinik yang lebih besar agar ditangani langsung oleh dokter spesialis. Jadi, di Jerman jika harus ke dokter spesialis, biasanya harus pakai surat rujukan dari Hausarzt atau dokter rumah terlebih dahulu.

Tanggal 22 Oktober 2018, saya datang ke dokter spesialis untuk konsultasi dan penjadwalan operasi. Di sana saya sempat bertanya tentang kemungkinan untuk gigi tambalan saya ini dipertahankan. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan untuk dicabut dan tidak adalah 50-50. Beliau mengatakan, jika nanti pas hari H setelah dicek giginya tidak bisa diselamatkan, maka gigi tersebut harus dicabut bersamaan dengan gigi impaksi. Dokter juga menyarankan untuk
langsung mengeksekusi dua gigi tersebut pada hari yang sama. Jadi beliau meminta saya untuk menkonsumsi penicilin dua hari sebelum hari operasi dan harus dihabiskan. Sebelum operasi, saya harus sudah makan.

Tanggal 12 November 2018, hari operasi pun tiba. Proses pertama adalah anestesi gusi. Rasanya luar biasa sakit, sampai-sampai saya menitikan air mata. Setelah di anestesi, saya diberikan waktu untuk rehat beberapa menit untuk menunggu efek dari anestesi tersebut. Setelah mulut terasa kebal, bu dokter pun memeriksa gigi geraham saya yang infeksi, apakah bisa dirawat ataukah harus dicabut. Kabar baik ternyata geraham saya masih bisa diselamatkan. Jadi yang akan dioperasi adalah akar si gigi yang infeksi. Setelah di operasi, nanti gigi saya akan diisi dengan sesuatu yang akan menyelamatkan gigi saya tersebut. Setelah diisi, nanti baru deh di poles. 

Lalu mulailah si dokter beraksi dan seperti yang dokter bilang, prosesnya sekitar 35 menit. Setelah selesai, saya langsung lanjut operasi gigi bungsu kiri atas dan bawah. Semua proses yang saya jalankan ini gratis, mulai dari periksa gigi sampai dengan operasi gigi. Biaya tersebut akan menjadi tanggungan asuransi karena termasuk penanganan yang diperlukan untuk kesehatan.

Pasca operasi, jujur saya tidak merasa sakit seperti yang diceritakan kebanyakan orang, hanya sakit seperti tercekit-cekit itu paling cuma beberapa jam, lalu sudah. Mungkin karena saya minum pereda nyeri, tapi saya beneran merasa biasa aja, cuma ya pipi saya membengkak hehe. Kalau dengar cerita orang, ada yang merasa sangat sakit dan harus tiduran. Tapi saya tidak. Malah satu hari setelah operasi, saya harus wawancara untuk izin tinggal saya. Setelah operasi, pipi juga harus dikompres untuk membantu penyembuhan. Walaupun gigi saya tidak terasa sakit, saya tetap harus diet produk makanan tertentu seperti alkohol, kopi, dan juga produk susu. Ternyata masuk di hari ke dua, saya tidak kunjung merasakan sakit, jadi setelah lewat dari 24 jam pertama saya sudah bisa mengunyah. Masuk ke hari ke tiga pasca operasi saya sudah bisa makan nasi.

Agustus 2019 (kurang lebih hampir satu tahun pasca tragedi yang menimpa gigi saya), saya kembali lagi ke dokter gigi langganan saya. Ternyata drama panjang gigi geraham saya ini masih belum usai. Gigi tersebut tiba-tiba sakit lagi. Kali ini penyebabnya adalah karies gigi yang merambat pada gigi geraham saya tersebut. Jadi setelah dibersihkan, pak dokter menyarankan saya untuk memakai Zahnkrone atau mahkota gigi. Mahkota gigi ini befungsi untuk melindungi
gigi geraham saya yang sudah mati ini agar masih bisa bertahan dan tidak terinfeksi lagi. Dokter memberikan tiga pilihan mahkota, ada yang berwarna perak, emas, dan keramik sesuai warna gigi. Yang berwarna silver gratis karena akan dibayarkan oleh asuransi. Saya memilih yang keramik sesuai warna gigi.

Ini termasuk jenis mahkota yang paling baik dan juga mahal. Mahkota ini akan bertahan kurang lebih 20 tahun. Saya membayar hampir 500 Euro. Asuransi tidak menangung semua karena mereka hanya menanggung mahkota standar yang berwarna silver. Jika ingin menggunakan yang lain, sisa dari pembayaran akan menjadi kewajiban kita.

Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa merawat gigi adalah hal yang wajib. Jika sudah rusak parah, biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih mahal. Oh ya, dokter gigi saya di Jerman mengatakan, kalau kita rajin ke dokter gigi enam bulan sekali, maka kita akan mendapatkan bonus yang didokumentasikan pada semacam buku kecil seperti bisa dilihat di foto. Pesan untuk teman-teman semua, rajin-rajin lah membersihkan gigi dan jangan lupa untuk ke dokter gigi setiap enam bulan sekali untuk memeriksakan gigi kita. (ml)

* Angelica Chrestella tinggal di Jerman sejak 2018. Ia rajin menulis berbagai pengalaman baru hidupnya di Jerman melalui blog pribadinya. Selain menulis, ia juga senang mengeksplor hal-hal baru mulai dari bermain alat musik, menanam, memasak, dan juga mengelilingi dunia. 

** DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri.