1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Pejuang Taliban berjaga di sebelah jembatan Kabul
Taliban dapat mencari 'aktor nonnegara' untuk bantuan keuanganFoto: Bulent Kilic/AFP/Getty Images

Saat Barat Fokus Perang Ukraina, Krisis Afganistan Memburuk

Shamil Shams | Ahmad Hakimi
15 Maret 2022

Krisis kemanusiaan di Afganistan tak lagi menjadi prioritas Barat, karena mereka sibuk dengan perang di Ukraina. Situasi tersebut dapat memungkinkan kelompok teroris transnasional untuk berkumpul kembali di Afganistan.

https://www.dw.com/id/saat-barat-fokus-perang-ukraina-krisis-afganistan-memburuk/a-61127510

Kembalinya Taliban berkuasa di Afganistan dianggap sebagai tantangan keamanan yang monumental bagi masyarakat internasional. Krisis kemanusiaan terjadi, jutaan orang Afganistan jatuh ke dalam kemiskinan dan ekonomi negara itu mulai runtuh.

Kekuatan besar dunia bergegas untuk mengatasi situasi tersebut dan segala upaya dilakukan untuk memastikan stabilitas Afganistan, serta memberikan tekanan pada penguasa fundamentalis Islam yang baru di negara itu.

Tujuh bulan berlalu, Afganistan tidak lagi menjadi perhatian utama Barat, karena mereka mengalihkan fokus terhadap invasi Rusia ke Ukraina. Pengamat mengatakan, Taliban melihatnya sebagai peluang untuk menerapkan kebijakan garis keras mereka di Afganistan, ketika mengetahui bahwa komunitas internasional "sibuk di tempat lain."

Pengelompokan kembali para militan

Tamim Asey, Ketua Eksekutif Institut Studi Perang dan Perdamaian Kabul sekaligus peneliti tamu di King's College London, mengatakan kepada DW, dia yakin "kurangnya minat internasional" dalam krisis Afganistan dapat membuka jalan bagi kelompok teror dan jaringan kriminal untuk menyerang, mengumpulkan dan memulihkan kekuatan.

"Situasi ini akan mendorong Afganistan jatuh lebih jauh ke dalam kekacauan dan akan memberikan kesempatan bagi jaringan kriminal transnasional untuk pulih," katanya kepada DW.

Beberapa negara Barat melihat ancaman keamanan langsung yang berasal dari Afganistan. Sejauh ini, Taliban berusaha untuk mendapatkan pengakuan internasional, bantuan keuangan, dan lebih cenderung ke arah pendekatan "diplomatis" daripada menggunakan taktik kekerasan. Namun, para ahli mengatakan kondisi ini mungkin tidak bertahan lama.

"Sejarah memberitahu kita,  krisis kemanusiaan dapat menyebabkan konflik kekerasan. Lebih mudah bagi kelompok teroris untuk beroperasi di negara yang menghadapi gejolak ekonomi. Afganistan tidak terkecuali," Shamroz Khan Masjidi, seorang analis politik Afganistan, mengatakan kepada DW.

Memperburuk krisis kemanusiaan

Jika krisis kemanusiaan di Afganistan bertambah parah, Taliban tidak akan mampu lagi mengendalikan situasi, sebagaimana dibuktikan oleh serangan kekerasan baru-baru ini oleh kelompok Islamic State ISIS.

Salahuddin Ludin, seorang pakar politik di Afganistan, mengatakan kepada DW bahwa hidup telah menjadi "sangat sulit" bagi sebagian besar warga Afganistan.

"Organisasi bantuan internasional telah meninggalkan negara itu. Taliban tidak mampu membayar upah kepada pegawai pemerintah. Sektor perawatan kesehatan masyarakat dalam kekacauan," katanya.

Terlepas dari penderitaan penduduk pedesaan, bahkan warga Afganistan yang tinggal di kota merasa tidak mungkin untuk memenuhi kebutuhan.

Ludin mengatakan banyak orang Afganistan menyimpan tabungan mereka di rekening bank: "Sekarang, mereka tidak dapat mengaksesnya. Pengusaha Afganistan, misalnya, tidak dapat melakukan transfer internasional, yang mengakibatkan harga komoditas naik drastis di negara itu."

Krisis yang terlupakan?

Sardar Mohammad Rahman Ughelli, mantan Duta Besar Afganistan untuk Ukraina, mengatakan dunia sudah "melupakan" krisis Afganistan.

"Bahkan media internasional tidak lagi meliput krisis di Afganistan," katanya, seraya menambahkan  Taliban sekarang bebas menerapkan kebijakan regresif mereka di negara itu.

Beberapa pengamat mengatakan situasi saat ini sangat mirip dengan skenario geopolitik di akhir 1990-an. Taliban merebut kekuasaan pada tahun 1996, tetapi komunitas internasional tidak sepenuhnya memahami konsekuensi potensial dari paradigma baru itu.

Jauh dari sorotan global - dan dengan kurangnya minat dunia dalam urusan Afganistan - negara itu kembai menjadi pusat kelompok militan lokal dan internasional.

"Taliban memiliki hubungan dengan kelompok teroris internasional. Kembalinya mereka berkuasa telah menguatkan organisasi jihad di wilayah tersebut. Saat mereka mengkonsolidasikan diri, hubungan taktis dan strategis mereka dengan penyandang dana dan sponsor terorisme akan tumbuh, dan pada akhirnya akan membahayakan perdamaian, keamanan di kawasan dan sekitarnya," Farid Amiri, mantan pejabat pemerintah Afganistan, mengatakan kepada DW.

Tariq Farhadi, seorang penasihat mantan Presiden Afganistan Ashraf Ghani, setuju dengan pandangan ini. "Masyarakat internasional melupakan Afganistan dari tahun 1996 hingga 2001 pada masa rezim pertama Taliban. Kemungkinan sekarang juga akan dilupakan lagi," tambahnya.

Semakin lama Taliban berkuasa, kata Amiri, semakin sulit untuk menjaga stabilitas di kawasan itu.

(ha/as)