Rusia Ragukan Pernyataan Nuklir Iran | Fokus | DW | 11.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Rusia Ragukan Pernyataan Nuklir Iran

„Saya dengan bangga mengumumkan bahwa „Iran kini termasuk negara yang mampu memproduksi bahan bakar nuklir dalam skala industri“, demikian ujar Presiden Ahmadinedjad Senin lalu (09/04). Namun, Rusia meragukan pernyataan itu.

Presiden Iran di Natanz

Presiden Iran di Natanz

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergej Lavrov Selasa kemarin (10/04) mengatakan, tidak ada informasi nyata yang memastikan bahwa Iran telah mulai melaksanakan pengayaan uranium dalam skala industri. Menurutnya, sama sekali tidak ada perubahan dalam program nuklir Iran. Menteri luar negeri Rusia menambahkan, negaranya secara serius mencermati semua yang berhubungan dengan program nuklir Iran. Rusia tidak ingin mendiskusikan masalah yang didasari oleh isu-isu emosional, melainkan hanya yang bertopang pada fakta. Demikian ujar Sergej Lavrov.

Jika dalam hal ini Rusia benar, maka bahaya ancaman dari Iran untuk saat ini dapat dilupakan dulu. Wladimir Sashin dari Insitut Orientalistik di Moskow berpendapat bahwa Teheran hanya punya 328 mesin sentrifugal: „Produksi industrial uranium yang sudah diperkaya dapat dimulai hanya jika ada minimal 3. 000 mesin sentrifugal yang berfungsi. Tetapi Iran cuma memiliki dua jeram pengayaan dan di setiap jeram ada 164 sentrifugal. Jadi jauh lebih sedikit dari 3. 000 buah.”

Namun, masih belum diketahui apakah informasi itu dapat dipercaya. Tetapi Rusia juga khawatir karena jarak jangkauan roket Iran lebih mendekati Rusia ketimbang Eropa atau Amerika Serikat. Pakar politik Rusia Alexander Konovalov : „Pernyataan mengenai dimulainya produksi industrial uranium yang diperkaya sudah tentu merupakan tantangan bagi masyarakat internasional. Itu menunjukkan bahwa Iran mengabaikan tuntutan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Apakah ini berarti, Amerika Serikat akan melancarkan serangannya?“

Sementara itu, Rusia melanjutkan tak-tik pintarnya dengan mengupayakan bisnis menguntungkan dengan Iran di satu sisi dan di sisi lainnya berpihak ke dunia barat. Untuk saat ini, jika resolusi PBB diperketat, masih belum bisa diduga bagaimana Rusia menyikapinya. Yang pasti, Rusia meneruskan pembangunan pembangkit tenaga listrik nuklir di Busher, Iran. Menteri Luar Negeri Lavrov: „Kami tidak melihat adanya kaitan antara masalah program nuklir Iran dan realisasi pembangkit tenaga listrik nuklir di Busher.“

Masalah sebenarnya terletak terutama di Iran sendiri. Tampaknya pemerintah Teheran kekurangan dana. Hanya 60 persen dari projek yang senilai 1, 3 milyar itu dapat dibiayai. Januari lalu Iran mentransfer lima juta dollar ke Rusia, sedangkan untuk Februari dan Maret, Rusia belum menerima sepeser pun.