1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Rusia Menjelang Pemilihan Parlemen

26 November 2007

Situasi di Rusia sebelum pemilihan parlemen 2 Desember mendatang menjadi sorotan berbagai harian internasional.

https://p.dw.com/p/CTLQ
Demonstrasi anti pemerintah di MoscowFoto: AP

Harian Swiss Tages-Anzeiger bekomentar:

“Eropa terjebak dalam sebuah dilema. Eropa membutuhkan Rusia sebagai produsen minyak dan gas bumi. Di saat yang bersamaan, tumbuh keresahan terhadap pemerintah negara tersebut. Hanya ada satu jalan keluar, yaitu kata-kata yang jelas. Pemerintahan negara-negara Eropa tidak boleh mengakui Rusia sebagai negara demokratis. Dan harus protes terhadap aksi pengangkapan orang.orang dari pihak oposisi. Ini harus dilakukan dengan keras dan terbuka.

Jelas, bahwa peringaan dari negara-negara Eropa tidak cukup untuk membuat Putin menjadi seorang demokrat murni. Tetapi bediam diri secara pengecut akibatnya bisa fatal. Ini dapat menyemangati pemerintah Rusia untuk melanjutkan perbuatannya. Lebih lanjut hal ini juga dapat menjadi gol bunuh diri. Dari sebuah pemerintahan yang menginjak-injak hak rakyat, tidak dapat diharapkan adanya sikap baik dalam berhubungan dengan negara-negara asing.”

Sementara itu, Harian Rusia Dzennik menulis:

“Jawaban Eropa atas apa yang terjadi di Rusia tergantung banyak hal. Masih diharapkan, bahwa dunia Barat tidak membatasi diri dalam protes verbal saja. Rusia merupakan anggota Parlemen Eropa dan merupakan salah satu negara yang turut menandatangani konvensi hak asasi manusia. Rusia mempunyai beberapa kewajiaban dan sekarang negara ini melanggarnya secara terbuka. Jika kebebasan berpendapat dan berkumpul, serta hak untuk mendapatkan proses pengadilan yang adil terlihat seperti ini, maka keanggotaan dalam Parlemen Eropa setidaknya harus dicabut untuk sementara waktu. Rusia pantas mendapatkan sanksi seperti ini seperti halnya dahulu Yunani dalam kekuasaan junta militer atau Kazakstan.”

Harian Italia Corriere della Sera juga berkomentar tentang penangkapan beberapa politisi pihak oposisi seminggu sebelum pemilihan parlemen Rusia, Duma. Harian yang terbit di Milan ini menulis:

“Jika pihak oposisi dilihat sebagai ‘serigala’ dan pemilihan ditujukan untuk ‘menyelamatkan tanah air’, maka hal yang disebut demokrasi ini telah menjadi kamuflase buruk bagi banyak intimidasi. Ini terjadi di semua rezim autoriter dan Rusia yang dipimpin oleh Vladimir Putin bukanlah suatu pengecualian. Presiden Putin ingin menciptakan ketakutan kolektif, agar ia dapat maraih kemenangan dalam pemilihan Duma hari Minggu mendatang. Putin memerlukan hal ini, agar dapat tetap memegang kontrol setelah ia keluar dari Kremlin.”

Tema yang sama juga dikomentari oleh Harian Denmark Politiken.

“Presiden Rusia Vladimir Putin salah mengerti suatu hal. Sebuah negara demokratis dapat menerima kritik dan oposisi. Hanya kediktaturan yang rapuhlah yang membungkam para kritisi. Seperti yang dilakukan Presiden Rusia Putin akhir pekan lalu dengan menangkap beberapa demonstran, antara lain pemimpin pihak oposisi, Garri Kasparov. Jika Putin ingin meyakinkan dunia, bahwa pemilihan Parlemen Rusia akhir pekan mendatang akan berjalan secara demokratis, kesalahpahaman ini akan menjadi lebih besar. Ini bukan saja kewajiban demokratisnya untuk bersikap toleran terhadap para kritisi yang berdemonstrasi, tetapi Putin juga seharusnya menerima pihak oposisi dengan terbuka. Ini artinya argumen dan debat, bukan main rulet Rusia dengan demokrasi negara sendiri.”