Rumah Aung San Suu Kyi Dilempari Bom Molotov | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 01.02.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Rumah Aung San Suu Kyi Dilempari Bom Molotov

Sebuah bom molotov dilemparkan ke rumah kediaman pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi yang terletak di pinggir danau di Yangon. Suu kyi tak berada dalam rumah saat terjadi serangan.

Myanmar Anschlag auf Wohnhaus Aung San Suu Kyi (Getty Images/AFP/Y. Aung Thu)

Petugas kepolisian melakukan patroli di depan rumah kediaman pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi di Yangon pasca insiden pelemparan bom molotov.

Sebuah bom molotov dilemparkan ke rumah pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi pada hari Kamis (1/2/2018), kata seorang juru bicara pemerintah. Saat kejadian Suu Kyi sedang berada di Naypyidaw untuk menyampaikan pidato kenegaraan.

Serangan simbolis

"Itu adalah bom molotov," kata juru bicara pemerintah Myanmar Zaw Htay, tanpa memberikan rincian lebih lanjut tentang motif serangan tersebut.  Meski cuma menyebabkan kerusakan ringan, serangan terhadap rumah Suu Kyi dianggap bernilai simbolis. Selama 15 tahun Suu Kyi ditahan di rumah itu oleh rezim militer hingga dibebaskan tahun 2010.

Kyi Toe, seorang pejabat dari partai National League for Democracy (NLD) menulis dalam sebuah posting di Facebook. "Tidak ada yang hancur atau terbakar. Pasukan keamanan kami melanjutkan pekerjaan mereka sehingga mereka bisa menangkap pelakunya," tambahnya.

Polisi kejar pelaku

Polisi merilis foto pria berusia sekitar 40 tahun dengan rambut pendek memakai kemeja pink dan longyi biru - sejenis kain panjang yang diikat di pinggang - atas kejadian tersebut dan mengumumkan kepada masyarakat untuk menghubungi pihak berwajib jika mereka melihatnya.

Insiden ini terjadi saat Suu Kyi sedang menjadi sorotan dunia internasional karena dirinya dianggap gagal membela warga minoritas muslim Rohingya di negara bagian Rakhine. Sekitar 620 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh akibat operasi militer di Rakhine sejak Agustus 2017 lalu. Pemerkosaan, penyiksaan, pembakaran dan pembunuhan dilaporkan banyak terjadi selama operasi militer yang disebut PBB sebagai "pembersihan etnis" tersebut.

yp/rzn (afp, dpa)

 

Laporan Pilihan