Rumah Aman di Jakarta Jauhkan Anak Teroris dari Ideologi Radikal | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 04.07.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Hak Asasi Manusia

Rumah Aman di Jakarta Jauhkan Anak Teroris dari Ideologi Radikal

Selama bertahun-tahun mereka diasupi faham radikal oleh orangtuanya. Kini para bocah itu bertaruh nasib kembali ke pangkuan masyarakat. Namun stigma negatif yang kuat mengancam keberhasilan program deradikalisasi

Suasana di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya pasca ledakan bom bunuh diri, 13 Mei 2018

Suasana di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya pasca ledakan bom bunuh diri, 13 Mei 2018

Terlempar dari sepeda motor ketika kedua orangtuanya meledakkan diri, Mila yang berusia sembilan tahun adalah satu dari sedikit penyintas dalam gelombang serangan teror keluarga di Indonesia beberapa tahun silam. Dia kini bagian dari kelompok kecil anak-anak teroris yang ditampung di sebuah rumah di Jakarta

Di sana Mila mendapatkan layanan psikologis dan belajar hidup di lingkungan sosial yang baru. "Tidak mudah menghadapi anak-anak ini karena mereka percaya bahwa faham radikal atau aksi bom bunuh diri adalah hal yang baik," kata pendiri rumah yatim Neneng Heryani kepada AFP.

"Mereka diajarkan bahwa jihad penting untuk mencapai surga dan mereka harus membunuh kaum kafir. Sangat sulit untuk mengubah pola pikir tersebut," imbuhnya. Aktivis dan psikolog sepakat mengembangkan program resosialisasi yang bertumpu pada rutinitas banal harian seperti sekolah, kunjungan ke masjid dan ibadah sholat lima waktu.

Baca juga:Radikalisasi Tertutup Anak-anak Keluarga Teror Surabaya 

Buat Mila, bukan nama sebenarnya, layanan di rumah aman tersebut membantunya hidup dengan beban masa lalu, bahwa kedua orangtuanya melakukan pembunuhan dan menginginkannya mati bersama mereka. Trauma serupa dimiliki bocah-bocah lain yang terlibat dalam gelombang bom teror di Surabaya.

"Menggunakan anak-anak untuk aksi jahat semacam itu tidak bisa dimaafkan," kata peneliti Human Rights Watch Andreas Harsono. Menurutnya gelombang teror bom pada 2018 adalah peristiwa pertama di Indonesia, di mana anak-anak dijadikan pelaku serangan.

Menurut polisi anak-anak itu menerima indoktrinasi faham radikal selama bertahun-tahun. Tidak jarang pula mereka mengkonsumsi video propaganda berbau kekerasan yang acap dipublikasikan organisasi teroris seperti ISIS.

Tonton video 01:55

Presiden Jokowi Perintahkan Kapolri Tegas Basmi Terorisme

Untuk memudarkan pola pikir ekstremis itu para staf di rumah aman di Jakarta berusaha merebut kepercayaan anak-anak. Mereka juga mendapat pelajaran tentang sejarah pahlawan Indonesia dan Pancasila yang menitikberatkan pada kehidupan bersama antara pemeluk agama.

"Kami masih mengajarkan mereka bahwa Al-Quran adalah dasar dari segalanya dan bahwa mereka harus meyakininya. Tapi jika kamu melanggar hak orang lain, maka itu tidak benar," kata salah seorang staf, Sri Musfiah Handayani.

Terlebih program deradikalisasi anak-anak di Jakarta itu merupakan hal langka, klaim analis terorisme dari Institute for Policy Analysis for Conflict, Sidney Jones. "Ini adalah kali pertama program ini dilakukan. Jadi sebuah fenomena yang tidak lazim," katanya.

Baca juga: Pelibatan Keluarga sebagai Pelaku Pengeboman: Modus Baru Terorisme di Indonesia?

Ketika AFP menyambangi rumah aman yang menjadi rumah Mila, dia sedang bersekolah dengan mengenakan jilbab berwarna merah jambu mencolok. Mila, kata gurunya, belum pernah mengenyam pendidikan formal sebelumnya. "Perkembangannya sangat signifikan. Sekarang dia bisa berinteraksi secara normal dengan orang lain," kata Sri Musfiah.

Pendekatan lunak yang digunakan pada Mila sudah sesuai dengan strategi deradikalisasi yang diperkenalkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). "Kita harus mendekati mereka secara lembut karena mereka siap mati, jadi tidak masuk akal bagi kami untuk menggunakan kekerasan," kata Suhardi Alius, Direktur BNPT.

Satu-satunya kendala bagi Mila adalah menemukan keluarga yang bersedia mengadopsinya. Karena jika gagal, maka upaya Neneng Heryani akan menjadi sia-sia. "Ada kemungkinan besar mereka jatuh kembali ke ideologi orangtuanya jika stigma buruk terhadap mereka bertahan," kata Haula Noor, Pakar deradikalisasi keluarga di Australian National University.

rzn/hp (AFP)

    

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait