Kolaborasi Robot Kurangi Beban Pengrajin Kayu | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 23.01.2022

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Teknologi Canggih

Kolaborasi Robot Kurangi Beban Pengrajin Kayu

Lengan robot generasi baru bisa dikendalikan dengan lebih mudah. Selain itu, berbeda dengan robot industri, Cobot lebih aman. Tapi robot itu juga perlu latihan.

Gambar menunjukkan sebuah meja kayu dengan balok kayu yang dikerjakan robot

Robot penyokong kerja pengrajin kayu

Di pabrik pembuat model Werk5 di Berlin, para pengrajin bekerja denganrobot industri biasa, yang membuat bentuk-bentuk rumit, misalnya untuk model arsitektur. Pemrograman robot sangat rumit. Bentuk yang diinginkan dimasukkan ke komputer dalam bentuk "template" tiga dimensional. 

Mesin biasanya diprogram agar melaksanakan sebuah pekerjaan saja, dengan presisi tinggi. Misalnya membuat bentuk tertentu. Tapi lengan robot ini punya kemampuan baru.

"Berbeda dengan robot industri lainnya, saya bisa mengendalikan ini dengan tangan." Demikian dikatakan Gunnar Bloss, pengrajin dan salah seorang pendiri Werk5. 

Pada robot ada tombol khusus, demikian ditambahkan Gunnar Bloss. "Jadi saya bisa mengatakan, ini tempat kerja kamu. Kamu harus bekerja di sini dan tidak perlu presisi. Berbeda dengan robot industrial yang harus presisi tinggi." 

Menggunakan robot yang berkolaborasi

Robot-robot baru ini namanya Cobots, singkatan dari "robot-robot yang berkolaborasi". Robot tidak hanya bisa digunakan dengan lebih mudah, melainkan juga lebih aman bagi manusia.

"Di tiap poros ada sensor. Jika ada momen tahanan terlalu besar, saya hanya perlu melakukan ini, robot berhenti," demikian dijelakan Gunnar Bloss. Jadi orang bisa bekerja dengan robot dalam jarak dekat.

Tonton video 04:36

Robot Kecil Asisten di Bidang Kerajinan Tradisional

Itu teorinya. Tapi bagaimana dalam prakteknya? Apakah Cobots benar-benar bisa mengambilalih pekerjaan? Perusahaan pengrajin Hussl di Tirol punya spesialisasi membuat kursi karya desainer. Perusahaan keluarga itu mempekerjakan 15 orang. Dari setiap seri, mereka membuat kursi dalam jumlah banyak. Itu artinya pekerjaan berat yang sama harus diulang berkali-kali. 

Dalam menggergaji kaki-kaki kursi, para tukang kayu sekarang mendapat dukungan sebuah Cobot, yang ibaratnya kolega baru. Hansjörg Moser yang mengurus robot itu. 

Dia mengungkap, bekerja dengan robot menyenangkan dan sangat bagus. Tentu juga lebih rileks, kalau pekerjaan berjalan sendiri, dan orang tidak selalu harus ada di tempat.

Robot juga harus latihan 

Pengrajin sendiri dibutuhkan untuk membuat robot bekerja tanpa gangguan apapun. Robot juga harus latihan gerakan baru, dan harus diawasi, sampai segalanya berjalan benar dan lancar. 

Tapi untuk menggunakan robot, orang juga harus berpikir di luar hal yang normal. Peter Hussl, juga seorang pengrajin kayu, menjelaskan, "Robot tidak punya mata. Dia tidak bisa melihat kalau ada kotoran. Atau jika ada keretakan pada sepotong kayu, atau lubang, atau lainnya." Jadi masih ada yang harus dipelajari.

Karena Cobot sendiri tidak bisa melihat apa yang dilakukannya, pengrajinlah yang harus memperhitungkan kemungkinan gangguan pada pekerjaannya. Itu pekerjaan besar. 

Para pembuat model dari Werk5 sudah berpikir lebih jauh. Dengan dukungan teknis dari Universitas Teknik Berlin, mereka melengkapi Cobot dengan kameratiga dimensional. Dengan demikian, robot bisa memindai bongkah yang sedang dikerjakan. Thilo Rörig, pembuat program pada proyek itu, menjelaskan keuntungannya. 

"Kami memperluas kemampuan Cobot dengan sebuah kamera, karena dia sendiri lewat sendi-sendinya tentu tahu posisinya di dalam ruangan, tapi tidak bisa menangkap apa yang terjadi di sekelilingnya." Itu sekarang bisa dia lakukan dengan kamera. Jadi orang sekarang juga bisa menempatkan gambar tiga dimensional ke dalam komputer. Begitu dijelaskan Thilo Rörig, yang ahli matematika dan komputer.

Kamera bantu robot berorientasi

Sekarang Cobot bisa berorientasi sendiri pada bongkah kayu. Ia bisa melihat permukaannya yang cembung, dan menyesuaikan gerakannya pada permukaan, tanpa bantuan manusia. Percobaan yang tampak seperti permainan ini nantinya bisa digunakan, misalnya untuk mengenali cacat pada sebuah permukaan, dan mengampelasnya. Pekerjaan mengampelas perlu kepekaan, tapi juga sangat melelahkan. 

Menurut Thilo Rörig, mengampelas menyebabkan banyak debu, dan bising. Tapi sangat lazim digunakan di berbagai cabang kerajinan tangan. "Jadi kami berusaha agar robot yang melakukan pekerjaan ini. Supaya pengrajin bisa berkonsentrasi pada pekerjaan yang menyangkut estetika."

Apakah Cobot akan benar-benar bisa digunakan dalam dunia kerajinan tangan? Itu belum bisa dijawab. Tapi peluangnya besar! (ml/yp)