Robot Pembantu di Rumah Sakit | Iptek | DW | 22.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Robot Pembantu di Rumah Sakit

Lebih banyak tugas manusia yang kini digantikan oleh robot, terutama dalam pekerjaan berbahaya, perlu ketelitian tinggi atau pekerjaan rutin.

Walaupun beberapa tugas diambil robot, peran manusia masih yang terpenting di rumah sakit

Walaupun beberapa tugas diambil robot, peran manusia masih yang terpenting di rumah sakit

Bidang pekerjaan yang kini mulai dilakukan oleh robot misalnya adalah tugas pekerjaan rutin di rumah sakit di kota-kota Stuttgart, Leipzig dan Bochum di Jerman. Di sini robot-robot lalu lalang di gang-gang rumah sakit, hampir tanpa bunyi, mengantarkan makanan, pakaian serta peralatan operasi ke berbagai stasiun perawatan yang berbeda-beda.

Memang pemeo lama tetap berlaku, ketika mesin menggantikan manusia, akan terjadi penghapusan lapangan kerja. Tapi di berbagai rumah sakit di Jerman, itu situasinya agak berbeda. Robot-robot hanya bertugas melakukan pekerjaan rutin. Sementara petugas medis dapat lebih banyak melakukan kontak pribadi dengan para pasien.

Tapi jangan membayangkan robot-robot itu sosoknya seperti manusia. Di rumah sakit Augusta di Bochum misalnya, robot pengangkut makanan bentuknya berupa mesin yang dipasang di kontainer makanan. Robot-robot pembantu itu diprogram dengan suara yang sopan dan bersahabat. Sejak setengah tahun lalu, di rumah sakit di Bochum itu dioperasikan delapan robot berukuran lebar 50 sentimeter dan panjang 1,60 meter. Robot-robot itu dilengkapi sistem pengendali canggih, sehingga dapat mengenali gang-gang yang bercabang amat banyak dan rumit di rumah sakit. Kepala bagian teknik robotik rumah sakita Augusta, Stephan Hergit menjelaskan:

Pengendaliannya berfungsi melalui prinsip LAN tanpa kabel. Robot mencari jalan mengikuti peta yang sudah discan, atau juga menala lantai dengan radar, dan dengan begitu juga dapat mengenali adanya hambatan.“

Robot-robot itu juga diprogram, untuk mengetahui kapan saatnya mengisi kembali energi. Sebuah chips yang dapat ditukar-tukar, diprogram untuk menugasi kemana mereka harus mengangkut muatannya. Jika diperlukan robot dapat memanggil lift, untuk naik atau turun ke lantai lainnya. Jika di jalurnya robot bertemu hambatan, sensor akan memerintahkannya berhenti, dan robot meminta agar hambatan minggir.

Saat ini, robot-robot itu secara teknis sudah berfungsi dengan baik. Tapi diakui, pada saat ujicoba terdapat berbagai kesulitan yang harus diatasi. Selain masalah teknis, juga harus diatasi hambatan psikologis, berupa skeptisme di kalangan personal rumah sakit itu sendiri. Hal ini tidak mengherankan, karena ditakutkan robot-robot akan mengambil alih pekerjaan manusia, yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja.

Pada fase awal, pekerja robot yang diberi nama julukan “Robi“ itu, sering macet di satu tempat. Penyebabnya, robot tidak bisa membedakan hambatan di depannya, apakah benda hidup atau benda mati. Hergit menjelaskan:

Di fase awal, masih banyak personal yang tidak tahu, mana jalur untuk Robi. Karena itu, mereka sering meletakan barang di jalurnya. Robi yang berhenti karena ada hambatan, akan terus bersuara meminta agar hambatan menyingkir, sampai ada yang menyingkirkan hambatan. Tapi tentu saja pusat pengendali komputer mengetahui, di lokasi mana Robi macet. Sekarang berbagai masalah sudah dapat diatasi.“

Setelah masalah teknik teratasi, masalah lainnya juga harus diatasi, yakni yang berkaitan dengan skeptisme personal rumah sakit, terhadap robot-robot pembantu tersebut. Selain khawatir akan bahaya robot, yang paling utama adalah ketakutan akan hilangnya lapangan kerja, seperti diungkapkan kepala bagian bedah Matthias Bergener:

"Pada awalnya rasanya campur aduk. Di sisi lain kita juga berpikir, sekarang setelah mesin datang, mungkin jumlah pegawai akan dikurangi. Tapi pada prinsipnya sudah dibicarakan, tidak akan ada penghapusan lapangan kerja. Saya sekarang sudah 20 tahun bekerja di rumah sakit ini, dan setiap perubahan teknik baru yang dilakukan di sini, sepengetahuan saya tidak pernah berdampak pengurangan lapangan kerja.“

Sebaliknya, lapangan kerja yang sebelumnya tidak terisi, dapat dipenuhi oleh Robi. Tapi disebutkan, pemanfaatan teknologi robot tidak menghemat biaya, malahan sebaliknya menelan biaya tambahan sekitar 1,5 juta Euro. Untuk penghematan, kini semakin sedikit para pekerja sosial di bidang sipil, yakni para pemuda yang tidak mau atau tidak lulus wajib militer, yang diterima bekerja.

Terlepas dari penghematan itu, robot-robot dapat mengangkut beban cukup lebih berat. Kapasitas daya angkut maksimal sebuah Robi sekitar 600 kilogram. Tapi kontak pribadi dengan pasien, tetap harus dilakukan oleh manusia. Bagaimana reaksi pasien:

Saya membayangkan fiksi ilmiah. Saya pikir, saya berada di masa depan. Akan tetapi saya pikir ini sangat lucu. Hal seperti ini sulit ditemukan. Bagi saya hal ini sama sekali tidak mengganggu. Tidak ada masalah, jika dengan ini prosedur pelayanan dapat diperbaiki, atau dapat dilakukan penghematan uang.“

Seorang pasien lain mengatakan: “Menurut saya ini cukup bagus, karena robot mengambil alih sebagian kerja manusia yang juga harus dibayar. Kita juga tahu, kalau membuka pintu harus hati-hati, karena bisa jadi robot sedang melaju. Akan tetapi, sekarang robot-robot ini sudah terintegrasi dengan baik.“

Artinya, robot-robot pembantu di rumah sakit itu, kini sudah dianggap keluarga pekerja rumah sakit. Lalu lalang Robi, tidak lagi dipandang aneh dan sudah dianggap kegiatan yang merupakan bagian dari prosedur di rumah sakit.

Tapi bagi Hergit, efektivitas maupun penghematan dengan robot itu secara teknis belum cukup:

Jadi saya pikir lebih bagus, jika robot itu tidak lagi menggunakan roda, akan tetapi dapat mengambang di atas lantai. Tentu saja dengan begitu berbagai sarana bangunan seperti lapisan lantai dapat dikurangi bebannya. Akan tetapi teknologinya masih amat jauh.“

Sebaliknya, perubahan teknik yang akan dilakukan dalam waktu dekat, adalah mengganti pager yang biasanya digunakan untuk memanggil dokter dalam situasi gawat darurat, dengan telefon seluler teknologi terbaru. Dengan itu, juga sistem wireless LAN yang mengendalikan robot-robot pembantu, akan dapat dimanfaatkan sebagai sistem komunikasi mobil diantara para dokter.