1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KesehatanCina

Lonjakan COVID-19 di Cina Tingkatkan Risiko Varian Baru

29 Desember 2022

Pakar kesehatan peringatkan, ledakan kasus COVID-19 di Cina setelah negara itu mencabut aturan nol-COVID-19 dapat berpontensi ciptakan munculnya varian baru virus corona.

https://p.dw.com/p/4LW6H
Suasana pandemi Covid-19 di Cina
Suasana pandemi Covid-19 di CinaFoto: cnsphoto via REUTERS

Melonjak drastisnya kasus COVID-19 di Cina setelah Beijing mencabut kebijakan nol-COVID-19, dapat menciptakan potensi tempat berkembang biaknya varian baru virus corona, demikan peringatan pakar kesehatan.

Cina mengumumkan pekan ini, para wisatawan yang masuk ke negara itu, mulai 8 Januari tidak lagi diwajibkan dikarantina. Ini adalah pembatalan kebijakan besar terbaru dari pembatasan ketat yang membuat Cina sebagian besar tertutup bagi dunia sejak dimulainya pandemi.

Sementara Komisi Kesehatan Nasional negara itu berhenti mengeluarkan angka kasus harian, pejabat di beberapa kota memperkirakan ratusan ribu orang telah terinfeksi COVID-19 dalam beberapa pekan terakhir. Rumah sakit dan krematorium di seluruh negeri dilaporkan telah kewalahan.

Dengan varian virus yang kini bersirkulasi dan mampu menginfeksi hampir 20% populasi dunia, banyak warga Cina yang belum memiliki kekebalan dari infeksi sebelumnya dan banyak  yang belum divaksinasi, mengkhawatirkan negara lain dan pakar, Cina akan menjadi lahan subur bagi varian baru

Antoine Flahault, direktur Institut Kesehatan Global di Universitas Jenewa, mengatakan kepada AFP bahwa setiap infeksi baru meningkatkan kemungkinan virus akan bermutasi.

Risiko mutasi baru meningkat

"Fakta bahwa 1,4 miliar orang tiba-tiba terekspos pada virus SARS-CoV-2, jelas menciptakan kondisi yang rawan munculnya varian baru,” kata Flahault merujuk pada virus penyebab penyakit COVID-19.

Bruno Lina, seorang profesor virologi di Universitas Lyon Prancis, kepada surat kabar La Croix pada pekan ini mengatakan, Cina dapat menjadi "tempat berkembang biak yang potensial bagi virus varian baru".

Soumya Swaminathan, yang menjabat sebagai ilmuwan kepala Organisasi Kesehatan Dunia -WHO hingga November lalu, mengatakan sebagian besar penduduk Cina rentan terhadap infeksi, sebagian karena banyak orang lanjut usia belum divaksinasi atau mendapat vaksinasi booster.

"Kita perlu terus mencermati setiap varian yang muncul," katanya kepada situs web surat kabar Indian Express. pkp/as (AFP)