Singapura Ancam Sanksi Cuti Tanpa Dibayar ke PNS yang Menolak Divaksin COVID-19 | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 09.11.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Singapura Ancam Sanksi Cuti Tanpa Dibayar ke PNS yang Menolak Divaksin COVID-19

Berani tolak vaksinasi COVID-19 di Singapura? Jika berstatus PNS, siap-siap kena sanksi cuti tanpa dibayar dan warga harus bayar sendiri biaya medis.

Sentra tes COVID-19 di Singapura

Sentra tes COVID-19 di Singapura

Pegawai negeri sipil Singapura dapat dikenakan sanksi cuti tidak dibayar jika mereka memutuskan untuk tidak divaksinasi COVID-19, menurut para pejabat. Pada hari Senin (08/11), pejabat negara itu juga mengatakan bahwa mulai bulan depan pasien COVID-19 yang tidak divaksin harus membayar biaya medis secara mandiri.

Divisi Layanan Publik (PSD) Singapura mengatakan kepada lembaga penyiar setempat yakni CNA bahwa mereka "akan melakukan yang terbaik" untuk memfasilitasi keberlanjutan situasi bekerja dari rumah, tergantung pada jenis pekerjaannya.

Namun divisi tersebut juga memperingatkan bahwa beberapa pegawai negeri sipil dapat dikenai sanksi cuti tanpa dibayar atau berisiko tidak diperpanjang kontrak kerjanya jika tetap menolak divaksinasi.

Peringatan ini muncul setelah Kementerian Kesehatan Singapura pada bulan lalu mengatakan bahwa orang yang tidak divaksinasi akan dilarang bekerja dari kantor menyusul adanya rencan untuk kembali bekerja di kantor pada Januari 2022 mendatang.

Menurut Kementerian Kesehatan, sekitar 84% dari 5,45 juta penduduk Singapura telah divaksinasi, termasuk sekitar 98% dari 153.000 birokrat di negara kota itu.

Pertimbangkan vaksin untuk anak-anak

Dari 442 kematian terkait pandemi di Singapura, 400 di antaranya dilaporkan terjadi sejak 9 Agustus. Jumlah kasus minggu ini mencapai 200.000 infeksi, sekitar dua pertiga di antaranya telah dicatat selama dua bulan terakhir.

Pada akhir bulan ini Singapura juga mengharapkan komite ahli vaksin COVID-19 negara itu untuk membuat rekomendasi vaksin COVID-19 buatan Pfizer-BioNTech bagi anak-anak berusia 5 hingga 11 tahun, kata Menteri Kesehatan Ong Ye Kung, Senin. 

Negara ini tengah mempertimbangkan rencana untuk memberi anak-anak sepertiga dari dosis vaksin untuk dewasa, seperti di Amerika Serikat. Ong menambahkan. Sekitar 8.000 dari 218.333 kasus COVID-19 kumulatif Singapura menginfeksi anak-anak di bawah usia 12 tahun, dengan lima infeksi parah, demikian menurut Kementerian Kesehatan setempat.

Aturan diperlonggar

Pada hari Senin (08/11), pemerintah Singapura juga mengatakan bahwa orang-orang yang memilih tidak divaksinasi harus membayar tagihan medis mereka mulai bulan depan. Pemerintah setempat juga mengumumkan pelonggaran aturan lebih lanjut untuk kegiatan makan di restoran.

Aturan baru ini akan memungkinkan paling banyak lima orang yang telah divaksinasi dari rumah yang sama untuk makan bersama di restoran. Aturan yang berlaku saat ini hanya mengizinkan maksimal dua orang yang divaksinasi untuk makan bersama.

Pihak berwenang juga akan mengizinkan rekaman musik bernada lembut untuk kembali diputar di restoran. Sebelumnya, selama berbulan-bulan restoran dilarang memutar musik dengan alasan kemungkinan penularan virus akan lebih tinggi karena orang berbicara lebih keras akibat adanya musik.

ae/yf (dpa, Reuters)

Laporan Pilihan