Rheinkultur, Pesta Musik Anak Muda Jerman
9 Juli 2008
Rheinaue, sebuah taman luar biasa besar di pinggiran Sungai Rhein. Dengan padang rumput menghijau, pepohonan raksasa, taman-taman bunga, danau danau kecil yang asri. Sebuah kawasan bersantai favorit di kota Bonn, untuk menikmati angin semilir, kijauh burung dan kenyamanan alam raya, kendati sesekali riuh oleh suara lalu lintas. Namun hari itu, Rheinaue berubah suasana 180 derajat. Ratusan ribu orang tumpah ruah, dengan puluhan kelompok musik alternatif yang berlomba menarik perhatian.
Rheinkultur pertama kali diselenggarakan pada tahun 1983, dengan skala yangf jauh lebih kecil. Holger Schmidt, program manager Rheinkultur 2008 menceritakan:
"Awalnya, sejumlah musikus di kota Bonn ingin memiliki suatu arena pertuinjukan tetap bagi berbagai kelompok band setempat. Dimulailah tahun 1983, dengan mendirikan sebuah panggung kayu di Rheinaue. Kebetulan hujan tak turun saat itu. Kalau saja waktu itu hujan mengguyur, sudah pasti tahun depannya tidak akan diselenggarakan lagi. Jadi festival ini bermula dari sebuah panggung dari kayu tahun 1983, yang didatangi sekitar 3000 pengunjung. Lantas festival ini berkembang dan berkembang terus.“
Holger Schmidt tidak berlebihan. Festival ini memang berkembang dan berkembang terus. Dari sebuah panggung kayu yang pas-pasan dengan penonton 3000 orang 26 tahun lalu, Rheinkultur kini menjadi festival musik terbuka terbesar di Jerman. Tahun ini ditampilkan 55 kelompok musik dari berbagai negara dan berbagai aliran. Mulai dari pop, rock, hip-hop, balada, hingga musik elektronik, tekno, indie, yang mengeksplorasi efek suara dan teknologi audio serta menantang kenyamanan.
Tahun ini penonton mencapai sekitar 150 ribu orang. Memang jumlahnya lebih sedikit dibanding tahun 2007 lalu, yang mencapai rekor 240 ribu orang. Namun Holger Schmidt beralasan, tahun lalu merupakan hal khusus karena bertepatan dengan peringatan seperempat abad Rheinkultur. Dan dari segi cuaca, tahun lalu Rheinkultur berlangsung di bawah langit terang dan matahari cerah. Sementara tahun ini, hujan turun sehari sebelumnya, dan mendung menggayut saat festival berlangsung. Kendati hujan baru benar-benar turun di ujung acara.
Rheinkultur memang sebuah festival yang selalu berurusan dengan cuaca yang bisa berubah setiap saat. Malah pada tahun 2005 Rheinkultur diselenggarakan hanya beberapa hari setelah sungai Rhein meluap dan menimbulkan banjir yang cukup besar.
Sebagaimana pesta musik anak muda pada umumnya, nyaris mustahil menemukan pengunjung yang datang sendirian. Hampir pasi orang datang dalam kerumunan besar. Barangkali karena jenis musik dan festival seperti ini hanya bisa dinikmati bersama kawan-kawan secara lepas. Seperti Anna, yang bersama sejumlah kawannya, menikmati benar suasana sepanjang hari itu:
“Ini acara yang sangat menarik karena kita bisa menyaksikan band yang berbeda-beda. Banyak band yang kami tidak kenal sebelumya. Jadi kita memang mendapat kesempatan untuk mendengarkan musik baru yang sebelumnya belum pernah kita dengar. Dan ini gratis, dan tempat pertunjukkannya sangat bagus yaitu di taman. Suasananya menyenangkan.”
Banyak orang menyebut, Rheinkultur adalah festival Woodstock ala Jerman. Woodstock adalah sebuah kota kecil di New York yang sejak tahun 1969 menyelenggarakan festival musik genre mutakhir. Yang juga merupakan sebuah festival budaya tandingan yang digulirkan kaum hippies dari generasi bunga tahun 1960-an dan 1970an. Festival ini dianggap salah satu festival paling berpengaruh di dunia musik rock-roll dan musik hingar bingar mutakhir lainnya.
Namun Holger Schmidt, program manager Rheinkultur menampik.
Schmidt: "Tidak. Woodstock adalah festival yang penontonnya harus membayar. Dan belakangan, festival Woodstock tak lagi ramah sebagaimana dibayangkan sebelumnya. Di sana ratusan ribu orang menghancurkan pagar dan pembatas, merebut dan menguasai lokasi konser. Sementara festival kami berlangsung jauh lebih damai ketimbang Woodstock“.
Terlepas dari bantahan itu, dan berbagai perbedaannya, banyak hal yang mengingatkan Rheinkultur kepada festival Woodstock. Khususnya bahwa sebagain besar pengunjungnya adalah anak muda, serta penuh dengan minuman dan orang mabuk. Namun Alice, seorang penonton menganggapnya hal yang biasa saja.
"Tidak, saya tidak terlalu takut. Karena mereka baik-baik saja, menyenangkan tidak agresif. Dan terus terang saja, mereka tidak semabuk yang saya perkirakan pada awalnya. Buat saya, orang-orang yang mabuk berat hanya akan larut dalam musik tekno dan elektronik, dan bukan musik rock."
Untuk tahun ini, festival dibagi dalam 6 panggung yang berbeda. Ada Panggung Biru, Panggung Merah, Panggung Hijau, Panggung Hiphop, Panggung Joget, dan juga Panggung yang berada di arena olah raga. Semuanya berlangsung bersamaan. Penonton bisa pindah dari satu panggung ke panggung lain sesuai selera musik masing-masing.
Ada yang khusus di Rheinkultur sejak tahun 2005, misalnya, festival ini memberikan hadiah khusus, "Sounds of Nature" untuk penampil yang memunculkan perhatian pada lingkungan, atau yang memperoleh inspirasi musiknya dari alam. Bukan kebetulan, di samping segala pesta pora musik anak muda, Rheinkultur menaruh kepedulian khusus pada lingkungan. Kembali Holger Schmidt, program manager Rheinkultur:
"Rheinkultur sangat menitik-beratkan pada masalah kelestarian lingkungan. Kebetulan festival ini diselenggarakan di suatu taman yang hijau dan asri. Dan Rheinkultur merupakan salah satu festival musik terbesar di Eropa yang peduli pada lingkungan dan secara khusus diselenggarakan untuk masalah lingkungan ini. Lalu tahun ini kami mulai memusatkan kepedulian lingkungan dalam program Green Rock Rheinkultur.