Retorika Provokasi Presiden Ahmadinejad | Mukalama | DW | 10.12.2005
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Mukalama

Retorika Provokasi Presiden Ahmadinejad

Di Iran, anti zionisme merupakan ideologi resmi negara. Israel dianggap tidak punya hak eksistensi, setidaknya di daerah yang sekarang menjadi teritorial resmi Israel. Akhir-akhir ini, Presiden Iran Ahmadinejad makin sering menggunakan retorika antisemitisme dan mengundang kecaman internasional.

Presiden Iran Ahmadinejad

Presiden Iran Ahmadinejad

Di sela-sela Konferensi organisasi Islam, OKI, di Mekkah misalnya, ia membantah adanya peristiwa Holocaust, pembasmian warga Yahudi oleh Hitler di Eropa. Pernyataan yang sama sering juga dikeluarkan kelompok-kelompok neonazi di Eropa yang memuja-memuja Hitler. Enam minggu yang lalu, Ahmadinejad juga mengejutkan kalangan internasional ketika mengatakan, Israel harus dilenyapkan dari peta dunia. Ia mengutip kata-kata pendiri Republik Iran, Ayatollah Khomeini.

Tidak sampai disitu. Di Mekkah, Presiden Iran memperuncing retorika dengan mengatakan, kalau memang orang Eropa yakin banyak orang Yahudi terbunuh disana, maka negara-negara seperti Jerman dan Austria silahkan memberi tanah supaya kaum zionis bisa mendirikan negara mereka di Eropa. Yahudi tidak punya akar di Palestina, demikian Ahmadinejad, yang dalam pemilihan bulan Juni lalu terpilih sebagai presiden Iran.

Dalam masyarakat Iran, sebenarnya tidak ada kecenderungan antisemitisme yang luas. Ada sekitar 25.000 warga Yahudi di negara itu. Ini merupakan komunitas Yahudi kedua terbesar di kawasan Islam. Kaum Yahudi di Iran punya hak-hak minoritas. Mereka punya perwakilan di parlemen, bahkan bisa menerapkan aturan pernikahan dan hak warisannya sendiri. Sejauh ini juga tidak dikenal adanya aksi-aksi anti Yahudi. Bantahan secara langsung tentang Holocaust pun jarang terdengar.

Hanya kalangan garis keras yang sering menyatakan, negara-negara Barat terlalu melebih-lebihkan peristiwa pembantaian Yahudi di Eropa. Menurut mereka, ini sengaja dilakukan untuk melegitimasi eksistensi Israel. Presiden Iran ahmadinejad memang tergolong kelompok garis keras. Dan ia beberapa kali menegaskan, baginya eksistensi Israel di tengah-tengah kawasan beragama Islam merupakan bahaya, karena Israel adalah jembatan dunia barat. Pemerintah Iran juga sering mengundang intelektual dari Eropa, yang punya pandangan sama, untuk berbicara di Teheran. Juga film Mel Gibson, Passion of Christ, sengaja diijinkan diputar di bioskop-bioskop Iran, karena film itu menunjukkan kaum Yahudi sebagai kelompok yang menyiksa Yesus secara sadis. Tapi nada-nada antisemitisme sebenarnya jarang dikeluarkan secara terang-terang-an oleh pejabat pemerintahan. Retorika anti semitisme Ahmadinejad adalah hal baru di panggung politik Iran.