Resolusi PBB Terhadap Iran | Fokus | DW | 24.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Resolusi PBB Terhadap Iran

Dalam sengketa program atom Iran, Sabtu (23/12) kemarin DK PBB akhirnya menyepakati resolusi terhadap Iran.

default

Setelah tarik ulur panjang, Dewan Keamanan PBB menyepakati pemberlakuan sanksi terhadap Iran. Resolusi itu diterima dengan suara bulat oleh ke-15 anggota Dewan Keamanan, termasuk Cina dan Rusia, yang selama berminggu-minggu berupaya melunakkan rancangan resolusi yang diajukan Eropa.

Resolusi setebal sembilan halaman itu antara lain melarang semua anggota PBB untuk menjual bahan nuklir atau melakukan alih teknologi kepada Iran. Selain itu, resolusi PBB menetapkan pembekuan aset sejumlah pengusaha dan perusahaan yang terlibat dalam program atom Iran.

Sebelum resolusi ini ditetapkan, juru bicara parlemen Iran Gholamali Haddadadei mengancam DK PBB, Iran akan melancarkan serangan balasan. Sementara Duta Besar PBB untuk Iran Jawad Sarif menyampaikan kekecewaannya atas perlakukan tidak adil yang diterima Iran. Sarif merujuk pada Israel yang secara diam-diam mengembangkan senjata nuklir, tanpa diganggu-gugat oleh DK, sementara Iran dilarang mengunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai.

Diplomat Rusia, Cina, Prancis, AS, Inggris dan Jepang menanggapi kritik Safir dengan menekankan bahwa resolusi ini bukan akhir tapi justru awal dari putaran perundingan baru. Duta Besar PBB untuk Inggris mengatakan: “Kami siap untuk kembali ke meja perundingan setiap saat.“ Sementara, Duta Besar Rusia menekankan bahwa sanksi ini akan segera dicabut, bila Iran bersedia menghentikan pengayaan uraniumnya.

Dua negara yang berupaya meringankan sanksi terhadap Iran, yaitu Cina dan Rusia, masing-masing punya kemitraan di bidang ekonomi dengan Iran. Cina dan Iran menanda-tangani perjanjian kerja sama dalam penambangan gas alam senilai 16 miliar Euro pekan ini. (zer)