Resolusi Menentang Rencana Bush | Fokus | DW | 17.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Resolusi Menentang Rencana Bush

Mayoritas DPR AS tidak menyetujui rencana penambahan pasukan AS di Irak.

Ketua DPR AS, Nancy Pelosi

Ketua DPR AS, Nancy Pelosi

Untuk pertama kali sejak dimulainya perang Irak, Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat secara terbuka mengkritik Presiden Bush, panglima tertinggi angkatan bersenjata Amerika. Kritik keras itu terwujud dalam resolusi yang menyatakan menentang penambahan jumlah tentara Amerika Serikat di Irak. Menyusul perdebatan maraton di DPR Jumat kemarin, 246 suara menentang penambahan 21. 500 tentara dan 182 suara menyetujui rencana Bush.

17 anggota Partai Republik di DPR bahkan menentang rencana presiden itu. Hal ini sangat menyakitkan Bush. Namun resolusi tersebut tidak mewajibkan presiden untuk mengubah politik Iraknya. Hari Sabtu ini, perdebatan mengenai tema itu juga akan dibawa ke Senat Amerika. Ketua DPR, Nancy Pelosi sangat puas atas hasil pemungutan suara tersebut. Nancy Pelosi: “Resolusi ini memang tidak mengikat, tetapi ini merupakan sinyal yang jelas bagi presiden.”

Menurut Pelosi ini merupakan tanda bahwa sudah waktunya untuk mengubah strategi Irak. Pelosi selanjutnya mengatakan: “Kita perlu sebuah tugas baru, yakni awal dari penarikan pasukan kita dan lebih menekankan diplomasi serta pembangunan. Selain itu kita harus kembali mencurahkan perhatian pada perang melawan terror.”

Ini berarti penumpasan jaringan Al Qaida dan pencarian musuh nomor satu Amerika Osama bin Laden.

Dalam pemungutan suara di DPR sempat terjadi perdebatan yang sengit antara kubu Demokrat dan Republik. Salah seorang pengikut setia Bush, Phil Gingrey mengatakan, dengan resolusi itu, Amerika tidak berdiri di belakang tentaranya GI, melainkan menyerah terhadap pejuang jihad.

Namun Gedung Putih tampaknya tidak melihat resolusi itu sebagai sesuatu yang dramatis. George Bush punya waktu sekitar seminggu untuk menanggapi resolusi itu. Demikian dikemukakan juru bicaranya Tony Snow: „Presiden tetap ingin agar pasukan kita terus mendapatkan sarana yang diperlukan untuk menstabilkan situasi di Irak.“

Tampaknya pemerintah AS mengharapkan bahwa ke depan anggota legislatif akan terus menyetujui dana perang milyaran dollar. Tak seorang pun ingin menanggung risiko disalahkan menyia-nyiakan tentaranya di Irak, meskipun Partai Demopkrat ingin agar mereka secepatnya dipulangkan.

Jack Murtha, veteran perang Vietnam yang kini merupakan penentang perang Irak mengusulkan untuk memperpanjang waktu libur tentara di tanah air dan dengan demikian memperpendek waktu tugas mereka di Irak. Ini akan menyebabkan kesulitan personel dalam pasukan AS. Dengan demikian rencana penambahan tentara tidak mungkin dapat dilaksanakan.