Resolusi Libanon Dibahas, Pertempuran Berlanjut | Fokus | DW | 07.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Resolusi Libanon Dibahas, Pertempuran Berlanjut

Sementara Dewan Keamanan masih berjuang untuk meloloskan resolusi Libanon, pertempuran di Timur Tengah masih marak.

Tentara Israel yang menjadi korban serangan roket Hizbullah di Kfar Giladi

Tentara Israel yang menjadi korban serangan roket Hizbullah di Kfar Giladi

Pesawat tempur Israel melancarkan puluhan serangan Minggu (06/08) malam kemarin ke sasaran yang diduga merupakan markas Hizbullah dan jalur jalan menuju Suriah. Sedangkan milisi Hizbullah kembali menembakkan peluru kendalinya ke Israel utara.

Matahari baru saja terbenam ketika tiba-tiba sirene berbunyi di Haifa. Biasanya milisi Hizbullah menembakkan peluru kendalinya hanya bila hari masih terang supaya posisi mereka tidak mudah dilacak. Kali ini rudal jatuh di senja hari, langsung di kawasan permukiman. Gideon Giladi dari tim penyelamat militer mengatakan:

"Kami datang untuk menolong memadamkan api. Kami melihat semuanya, lima menit kemudian. Pemandangan yang mengerikan.”

Rudal Hizbullah menimbulkan ketakutan dan kengerian di Israel. Seorang dokter di sebuah rumah sakit di Haifa yang Minggu malam kemarin sibuk merawat korban mengatakan:

"Para korban kebanyakan cedera akibat ambruknya rumah, tulang patah dan luka memar."

Di mana-mana di Israel utara, para penduduk nyaris sepanjang hari bersembunyi di bunker atau persembunyian di bawah tanah. Sirene terus berbunyi dan semakin banyak warga yang mengungsi ke selatan. Jumlah korban meningkat, di antaranya ada yang tewas dan banyak yang terluka. Semuanya ini terjadi setelah Perdana Menteri Ehud Olmert menyatakan, Israel berhasil melumpuhkan milisi Hizbullah di Libanon. Dia juga mengatakan bahwa Hizbullah memerlukan waktu yang lama untuk kembali pulih. Namun, hari Minggu (06/07) kemarin warga Israel menyadari bahwa bahaya masih belum juga berlalu.

Sementara itu, angkatan udara Israel melanjutkan serangan bomnya yang telah menghancurkan dua rumah di desa Kfar Tebnit dan Ghassanijeh di Libanon selatan. Sebelas orang tewas dalam kedua serangan itu. Demikian menurut kepolisian Libanon. Dalam kurun waktu satu jam, hari Senin (07/08) subuh, pesawat tempur menggempur lima sasaran di pinggiran selatan kota Beirut. Para pengamat memperkirakan, pertempuran sengit akan terus berlangsung pada hari-hari mendatang dan akan menelan banyak korban di kedua pihak.

Sedangkan dari New York dilaporkan bahwa Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa masih belum juga berhasil meloloskan rancangan resolusi Libanon usulan Amerika Serikat dan Prancis. Rancangan itu berisikan seruan untuk menghentikan aksi permusuhan, dan bukan himbauan gencatan senjata. Selain itu, tidak tercantum tuntutan penarikan mundur pasukan Israel dari Libanon.

Sekretaris Jenderal Liga Arab, Amr Moussa menyatakan menentang rancangan tersebut dan mengatakan bahwa citra Dewan Keamanan cacat karena tidak mampu menunjukkan posisi jelas. Perdana Menteri Libanon Fuad Siniora juga menolak rancangan resolusi yang dinilai tidak sesuai karena mengabaikan kepentingan negaranya. Siniora mengatakan:

"Semua yang merumuskan resolusi tersebut sudah tentu menghendaki perdamaian. Kami mengatakan kepada mereka bahwa gagasan itu tidak sesuai karena tidak mencapai sasaran yang diinginkan oleh pihak yang terlibat.“

Yang diinginkan Beirut adalah gencatan senjata segera dan penarikan pasukan Israel dari Libanon. Pemerintah akan mengupayakan perubahan rancangan resolusi di Dewan Keamanan PBB. Demikian menurut pemerintah Libanon. Hari Senin (07/08) para menteri luar negeri Liga Arab mengadakan pertemuan khusus di Beirut untuk membicarakan konflik Libanon.