Renungan Lima Tahun Serangan 11 September | dunia | DW | 13.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Renungan Lima Tahun Serangan 11 September

Lima tahun adalah waktu yang pendek untuk mengharapkan renungan bijak dari suatu kejadian dahsyat. Ingatan masih segar, shock masih terasa sangat dalam, tidak hanya dirasakan oleh keluarga korban, melainkan juga oleh seluruh bangsa.

Serangan AS ke Baghdad: Perang Melawan Teroris

Serangan AS ke Baghdad: Perang Melawan Teroris

Oleh karena itu, peringatan tahun kelima serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat ditandai oleh emosi tinggi: pengheningan cipta, rangkaian bunga, pembacaan nama para korban tewas. Dan di semua saluran televisi berulang-ulang terlihat tayangan peristiwa saat itu. Lima tahun kemudian, video yang memuat gambaran mengerikan di New York sekali lagi menunjukkan kekuatan sugestifnya.

Emosi ini dipergunakan Presiden Amerika Serikat George W. Bush dalam pidato kenegaraannya yang ditayangkan di televisi. Dia mengatakan:

"Kita sedang berperang, kita ditantang, kita akan menang, karena kita berdiri di pihak yang baik. Nasib keberadaban tergantung pada keterlibatan kita sebagai orang Amerika, karena mundur berarti kalah."

Yang diucapkanya adalah ujaran yang antara lain menyebabkan reputasi Amerika Serikat di luar negeri merosot keras. Sebab, George W. Bush tidak memberikan jawaban. Misalnya, mengapa perang melawan Irak dilancarkan dengan semboyan “perang melawan teroris”, meski Saddam Hussein sama sekali tidak terlibat dalam serangan 11 September. Atau pertanyaan lainnya, prinsip apa yang dipakai untuk yang dinamakannya “perang untuk keberadaban”? Atau pertanyaan sederhana seperti: apakah dunia menjadi aman setelah lima tahun perang melawan terror?

Seharusnya presiden Amerika Serikat ini merenungkan diri untuk membandingkan reaksi saat itu terhadap serangan 11 September 2001 dengan sikap lima tahun kemudian. Misalnya reaksi di negara Arab. Dulu masih ada rasa simpati mengingat jumlah korban tewas sekitar 3.000 jiwa. Dan sekarang, tema lain yang mendominasi judul-judul berita. Misalnya, puluhan tewas di Irak akibat terorisme yang dimungkinkan setelah masuknya AS ke negeri itu. Lebih dari 1.000 orang tewas dalam serangan bom Israel di Libanon yang secara politik dilindungi oleh Amerika. Kemudian skandal penyiksaan di Abu Ghraib, penjara rahasia CIA dan kamp Guantanamo yang merupakan wilayah bebas hukum.

Siapa yang masih tercengang kalau ada yang mengatakan, AS bermoral ganda? Dan ini di masa, di mana kaum ekstrimis Islam menjaring begitu banyak pengikut. Menumpas terorisme dengan cara demikian akan mengubahnya menjadi dewa mitologi bernama Hydra, yaitu ular berkepala sembilan. Untuk setiap kepala yang dipotong muncul dua kepala baru.

Presiden AS harus merenungkan sikapnya terhadap aliansi. Solidaritas tanpa batas diberikan pada tahun 2001. Sekarang, aliansi ini terpecah dalam masalah perang Irak. Bahkan baru-baru ini Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan bahwa dalam perang melawan terorisme, tujuan tidak boleh membenarkan semua sarana. Padahal Angela Merkel terhitung sebagai pembela setia kemitraan Jerman-Amerika. Merkel malahan menyerang mantan Kanselir Gerhard Schröder yang saat itu menentang perang Irak.

Setelah hari peringatan berlalu, memang diperlukan perenungan bijak, apakah dunia Barat berada pada jalan yang benar dalam perangnya melawan teror.

Iklan