Rencana Referendum di Palestina | dunia | DW | 06.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Rencana Referendum di Palestina

Gagasan referendum muncul dalam "Dokumen Para Tahanan" yang ditulis oleh para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

Abu Mazen alias Presiden Mahmud Abbas

"Abu Mazen" alias Presiden Mahmud Abbas

Presiden pemerintahan otonomi Palestina Mahmud Abbas, dikenal sebagai orang yang ragu-ragu dan jarang mengambil keputusan tegas. Tapi kali ini, Abbas merasa berada di atas angin. Ia berhasil mengendalikan Perdana Menteri Ismail Haniya sekaligus menekan kelompok Hamas. Langkah selanjutnya, Mahmud Abbas menyerukan referendum tentang masalah Palestina berdasarkan apa yang disebut Dokumen Para Tahanan. Sebelumnya kelompok radikal Hamas sudah menyatakan menolak dokumen tersebut. Mahmud Abbas sekarang ingin keputusan rakyat Palestina.

Dokumen Para Tahanan adalah pernyataan politik, yang beberapa pekan lalu disusun oleh tahanan Palestina yang di penjara di Israel. Dua alasan menjadikannya sensasi. Pertama, karena dokumen itu disusun bersama oleh tahanan kelompok Fatah dan Hamas yang sebenarnya bermusuhan. Kedua, karena dokumen itu tidak menuntut keseluruhan negara Palestina seperti dalam sejarah, melainkan hanya kawasan yang tahun 1967dikuasai Israel. Hal ini berarti pengakuan keberadaan negara Israel. Langkah yang sudah dilakukan gerakan Fatah beberapa tahun lalu, saat masih dipimpin Yasser Arafat. Seperti sebelumnya, Hamas tetap belum menerima hal itu secara resmi.

Bagi Palestina, warganya yang ditahan di penjara Israel adalah mereka yang membayar mahal untuk kemerdekaan bangsa. Oleh sebab itu mereka dihormati dan pendapatnya didengar. Yang membuat pernyataan para tahanan itu istimewa: karena dokumen itu ditanda-tangani dua tokoh penting tahanan Palestina. Yaitu Marwan Barghuti, ketua gerakan Fatah di Tepi Barat Yordan, dan Abdelkhalik al-Natseh dari kelompok Hamas.

Kesediaan Natseh menanda-tangani pernyataan, yang sebenarnya mengakui keberadaan Israel tersebut, menunjukkan adanya diskusi untuk mengubah sikap di dalam tubuh Hamas, dan sejak lama juga terdapat kekuatan yang setuju mengakui realita yang ada.

Meskipun demikian Natseh mendapat kritik dari Hamas, termasuk anggota Hamas di tahanan. Pengakuan negara Israel, tanpa penarikan militernya dari seluruh kawasan yang dikuasai, seperti yang sudah-sudah tidak dapat diterima oleh sebagian besar anggota Hamas.

Dengan Dokumen Para Tahanan, Mahmud Abbas ingin mencapai dua hal: Dalam adu kekuasaan antara kelompoknya Fatah dengan pemerintahan otonomi yang dipimpin Hamas, ia ingin mengambil inisiatif dan memenangkannya. Tetapi terutama Abbas ingin memanfaatkan kemenangan dalam referendum itu, untuk menunjukkan: “Lihat ini, mayoritas rakyat saya mengakui negara Israel dan bersedia melepas tuntutan sebagian besar wilayah Palestina seperti dalam sejarah.”

Iklan