Rencana AS Terkait Iran: Konflik Ekonomi dan Putus dengan Uni Eropa | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 22.05.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kesepakatan Nuklir Iran

Rencana AS Terkait Iran: Konflik Ekonomi dan Putus dengan Uni Eropa

Menlu AS menguraikan strategi garis keras terkait masalah Iran yang kemungkinan akan memperdalam jurang antara Uni Eropa dan AS. Analis dan mantan pejabat AS mengatakan rencana itu tidak koheren dan berbahaya.

Pemerintahan Trump mengancam Iran dengan "tekanan finansial yang belum pernah terjadi sebelumnya" pada hari Senin (21/05) dengan mengeluarkan daftar tuntutan bagi Teheran untuk mengubah kebijakan luar negeri dan domestiknya. Dalam pidatonya, Menlu Mike Pompeo menjanjikan "sanksi terkuat dalam sejarah" jika Teheran tidak tunduk pada tuntutan AS.

Pidato Pompeo muncul hampir dua minggu setelah Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir Irandan memberlakukan kembali sanksi yang dicabut di bawah kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), perjanjian tahun 2015 yang ditandatangani Iran bersama dengan Rusia, Cina, AS, Inggris, Prancis dan Jerman.

"Sengatan sanksi hanya akan menjadi lebih menyakitkan jika rezim tidak mengubah haluan dari jalur yang tidak dapat diterima dan tidak produktif yang telah dipilihnya untuk dirinya sendiri dan rakyat Iran," kata Pompeo di lembaga pemikir konservatif Heritage Foundation di Washington, DC.

Pompeo mengatakan AS tidak akan mencoba untuk menegosiasikan kembali kesepakatan JCPOA. Sebaliknya, setiap kesepakatan baru akan mengharuskan Iran untuk memenuhi 12 tuntutan, termasuk menghentikan program rudal balistik dan mengakhiri intervensi di Suriah dan Yaman, serta konsesi luas pada program nuklir sipilnya. Pompeo menambahkan bahwa AS dan mitranya di Timur Tengah akan "menghancurkan" operasi Iran dan sekutu regionalnya, seperti kelompok Syiah Lebanon, Hizbullah.

Iran membalas

Beberapa jam kemudian, Presiden Iran Hassan Rouhani mencela ancaman Pompeo, mengatakan Washington tidak punya hak untuk membuat keputusan bagi negaranya.

"Semua negara dunia menginginkan kemandirian dalam keputusan mereka, dan Amerika dapat melancarkan agenda mereka di beberapa tempat melalui tekanan, tetapi logika tidak menerima mereka membuat keputusan untuk dunia," Rouhani dikutip oleh siaran pers negara Press TV mengatakan. "Kamu pikir kamu siapa memutuskan untuk Iran dan dunia?"

Diplomat top Iran, Javad Zarif, menggambarkan rencana Pompeo sebagai "regresi kebiasaan lama." Dalam cuitan Twitter, ia mencaci administrasi Trump karena "dipenjara oleh delusi, kebijakan gagal dan didikte oleh kepentingan khusus yang korup."

Bukan strategi

Analis dan mantan pejabat AS mengatakan pemerintahan Trump mengungkapkan bahwa mereka tidak tertarik untuk melakukan solusi diplomatik, tetapi tampak ingin mengejar kebijakan tekanan ekonomi yang dirancang untuk menggulingkan rezim Iran.

"Ini bukan strategi. Ini adalah daftar keinginan yang tidak memiliki prioritas dan tidak koheren secara internal," kata Jarrett Blanc, yang menjadi koordinator untuk implementasi perjanjian di Kementerian Luar Negeri di bawah pemerintahan Obama. "Ini adalah fantasi perubahan rezim tanpa sumber daya atau pengaruh. Jelas ini juga merupakan penghinaan bagi sekutu kami di Eropa."

Kebijakan garis keras perang ekonomi yang diciptakan Washington kemungkinan akan semakin membebani hubungan dengan sekutu yang sudah marah pada Trump karena menarik diri dari kesepakatan nuklir meskipun mereka sudah melakukan lobi dan Iran telah patuh.

Para pemimpin Uni Eropa sekarang berjuang untuk memastikan bahwa Iran menerima manfaat ekonomi yang dijanjikan agar tetap berada dalam kesepakatan. Salah satu contoh, mereka mempertimbangkan untuk menerapkan undang-undang pemblokiran yang akan melindungi perusahaan-perusahaan Uni Eropa yang melakukan bisnis dengan Iran dan langkah lain untuk meminta pemerintah Uni Eropa melakukan transfer uang langsung ke bank sentral Iran.

Pompeo menegaskan bahwa AS mengharapkan dukungan dari sekutu regional dan global, termasuk Uni Eropa. Meskipun dia percaya bahwa Uni Eropa akan mengikuti Amerika Serikat karena mereka berbagi "nilai" yang sama, dia juga menggandakan ancaman untuk menargetkan entitas Eropa yang melakukan bisnis dengan Iran.

Namun, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini menuduh Pompeo gagal menunjukkan bagaimana menarik AS keluar dari perjanjian nuklir akan membuat kawasan itu lebih aman atau "bagaimana itu menempatkan kita dalam posisi yang lebih baik untuk mempengaruhi perilaku Iran dalam area di luar ruang lingkup JCPOA."

Mogherini menekankan bahwa Uni Eropa akan tetap berkomitmen terhadap kesepakatan itu selama Iran mematuhi komitmen terkait nuklirnya, "seperti yang dilakukannya sejauh ini."

Keretakan hubungan trans-Atlantik

Ali Vaez, direktur Proyek Iran di International Crisis Group, mengatakan administrasi Trump telah menegaskan bahwa para pemimpin Uni Eropa telah membuang-buang waktu mereka mencoba meyakinkan presiden untuk tetap menjadi pihak dalam kesepakatan dan bahwa sekarang ada "celah di tengah Atlantik. "

"Pesannya ke Eropa sekarang jelas: 'Bergabunglah dengan saya dalam mengubah bukan perilaku Iran, tetapi rezimnya,'" kata Vaez. "Pidato Pompeo lebih lanjut membuktikan bahwa tidak ada jalan tengah yang bisa dieksplorasi dengan pemerintahan Trump. Eropa harus menjalani nasibnya sendiri."

Strategi AS tampaknya untuk menerapkan tekanan ekonomi yang akan menciptakan ketidakstabilan politik domestik di Iran yang akan menantang rezim secara langsung. Namun, sanksi AS sepihak tidak akan seefektif langkah internasional yang telah membawa Iran ke meja negosiasi JCPOA.

Sanksi internasional tersebut menghukum, tetapi sanksi itu hanya efektif karena lingkup internasionalnya. Untuk Cina, Rusia dan Uni Eropa, kembali ke sanksi tersebut tidak menjadi pilihan selama Iran mematuhi perjanjian nuklir.

"Ide menerapkan kembali sanksi, yang akan menyengsarakan rakyat Iran dengan kedok membantu mereka, bukan hanya sangat tidak koheren: Ini juga secara langsung merusak pendekatan kebijakan yang dipilih sekutu Amerika di Eropa," kata Esfandyar Batmanghelidj, pendiri jaringan bisnis Forum Eropa-Iran.

"Eropa terus bertaruh pada dialog dan keterlibatan, termasuk keterlibatan ekonomi, dan mendapatkan hasil, sejauh ini menjaga Iran tetap dalam perjanjian setelah Trump melanggar dan membatalkan kesepakatan," katanya. "Keretakan trans-Atlantik hanya menjadi semakin dalam."

Sementara itu, analis mengatakan pelanggaran AS terhadap JCPOA hanya memperkuat persepsi di Iran bahwa AS tidak dapat dipercaya. Panggilan pemerintahan Trump kepada rakyat Iran untuk bangkit melawan pemimpin negara dan ancaman terselubung perubahan rezim juga akan mengeraskan tekad kepemimpinan Iran.

"Bahkan jika AS dapat memberikan tekanan maksimum pada Teheran, tindakan sulit semacam itu tidak mungkin dapat meyakinkan seorang pemimpin Iran yang tampaknya yakin bahwa satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada ancaman ini adalah menyerah padanya," kata Vaez. "Administrasi Trump mungkin percaya bahwa mereka telah menyusun strategi baru untuk Iran, tetapi, di mata para pemimpin Iran, itu sama saja."

na/vlz (dw)

Laporan Pilihan